After Marriage

After Marriage
Pernikahan 2



Aku menatap Ikram kemudian menatap arah mata Ikram. Terlihat pria paruh baya yang rambutnya sudah mulai memutih berjalan mendekati kami, pria itu beriringan dengan gadis cantik memakai dres berwarna ungu muda, dia sangat cantik, hidung mancungnya dan netra cokelatnya seratus persen mirip seperti Ikram, seperti Ikram versi perempuan.


Kanaya? Tebakku dalam hati. Ya, Tuhan. Kanaya begitu memesona dan sangat anggun. Aku menoleh ke arah Mama Erin tampak tidak suka ketika bertemu dengan mereka berdua, tetapi tetap saja Mama Erin mau menyalami mantan suaminya itu sebagai formalitas karena sedang berada di depan banyak orang. Aku memutar bola mata, dasar nenek lampir tukang akting! Batinku dalam hati.


"...Inget, ya, nasihat Mama. Nanti setelah menikah, kamu harus patuh sama suamimu, harus sopan sama mertuamu..."


Aku berdecak kesal ketika mengingat nasihat dari Mama. Baiklah, baiklah. Aku harus sopan. Aku mengusap dadaku memanjangkan urat kesabaranku agar tidak memaki si nenek lamp—ah, maksudku mertuaku di hari pertama aku menjadi menantunya.


Aku mencium tangan Ayah Ikram ketika menyalami kami. Dilihat sekilas pun wajah Papa Ikram sangat bersahabat dan ramah, aku menahan sekuat tenaga untuk tidak memutar bola mataku karena itu tidak sopan apalagi di depan orang tua suamiku, tentu saja perceraian orang tua Ikram pasti karena Mama Erin yang menjadi biang keladinya. Sabar Anha, kata gadis batinku mengingatkanku.


"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warohmah sampai tua, ya. Maaf kemarin om nggak bisa datang di acara sungkeman dan lamaran," kata Papanya Ikram kemudian mencium keningku. Aku mengusap air mataku yang menetes setitik, entah mengapa aku rindu Papa.


"Terima kasih, Pa," kataku sambil mengangguk. Sedangkan kulihat Ikram hanya terdiam, canggung. Sedangkan adiknya Naya lebih memilih bersedekap, dari tadi dia hanya diam membuang muka dan tidak mau menyalami Ikram maupun diriku.


"Naya, kapan-kapan main ke rumah, Kakak ya. Siapa tahu kita bisa jadi teman dekat. Kakak seneng punya adek baru kayak Naya," kataku sambil mengusap lengannya. Aku tersenyum, mungkin Kanaya memang benci kepada Ikram dan Mamanya, tapi tidak mungkin dia benci kepadaku mengingat kami tidak pernah bertemu dan tidak pernah ada hubungan sebelumnya. Semoga aku juga bisa menyatukan kembali Ikram dengan adiknya, Naya.


Kanaya menatapku dalam diam, mungkin dia agak kaget kenapa aku bisa tahu namanya. Kanaya menganggukkan kepala dan mengatakan jika kapan-kapan dia tidak sibuk maka dia akan menyempatkan diri main ke rumah kami.


Setelah itu kami menyalami lagi antrean yang sangat panjang sampai mengular.


"Diego!" aku membentangkan tanganku dan menggendongnya. Pipi tembam anak kecil ini habis kuciumi sampai bekas lipstikku menempel di pipi tembamnya sedangakan Diego hanya tertawa kegelian.


"Kak Anha cantik banget, deh. Kayak princess Jasmin."


Aku tertawa mendengar pujiannya. Uh, sekarang pandai merayu dia.


"Kamu sayang banget, ya, sama anak kecil.


Nanti malem, deh, kita buat. Sampe subuh, ya, pokoknya," kata Ikram sambil mengedipkan sebelah matanya dan tertawa jahil.


"Mas!"


Aku melototinya, bisa-bisanya dia berkata seperti itu ketika aku sedang menggendong Diego.


"Kak Anha mau buat apa? buat anak? Emang calanya gimana?" tanya Diego dengan wajah polosnya sedangkan Ikram tertawa sangat bahagia.