
Pukul satu siang hari, kubuka korden jendela kamarku setelah mendengar suara dari mobil Ikram yang keluar dari garasi.
Aku melihat kepergiannya dari kamarku yang berada pada lantai atas ini. Setelah Ikram sudah pergi meninggalkan rumah, baru aku membuka pintu kamarku dan berjalan keluar menuruni anak tangga.
Bosan karena hanya duduk-duduk saja di rumah akhirnya kuputuskan untuk pergi sejenak. Aku butuh hiburan, aku butuh teman curhat.
Setelah menimbang-nimbang antara ingin pergi kerumah Mama atau ke rumah Mai, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke rumah Mama saja mengingat selama menikah aku baru mengunjungi rumah Mama tiga kali dalam enam bulan ini.
Aku menggaruk kepalaku, padahal dulu sebelum menikah aku sudah berjanji kepada Mama akan sering-sering datang ke rumah.
Setelah mengenakan kardigan, aku membuka lemari pakaian untuk mengambil uang tunai.
Tanganku terhenti ketika melihat celengan berbentuk babi pink milikku yang sengaja kutempeli foto bayi kecil yang lucu.
Aku memang rajin mengisi celengan babi ini dengan sisa uang belanjaanku. Aku mengerti Ikram sangat kaya, biaya apa pun bukan masalah besar untuknya.
Tetapi dulu aku berharap siapa tahu celengan ini esok bisa bermanfaat untuk menambahi biaya kelahiran anak kami.
Bahkan aku menempelinya dengan foto bayi lucu agar aku tambah semangat mengisinya sampai penuh.
Aku menyeka sudut mataku yang meneteskan air mata. Rongga pernapasanku seolah sesak. Apa Ikram tidak menginginkan memiliki anak dariku?
Dia selalu sibuk bekerja, apalagi akhir-akhir ini dia membuka cabang baru di daerah Bandung sehingga menjadikannya super sibuk.
Berangkat pukul tujuh dan pulang larut malam sekali, bahkan pernah beberapa kali dia tidak pulang kerumah.
Ikram selalu melakukan penerbangan hampir dua kali dalam sebulan ini. Dia tidak pernah ada waktu untukku, dan fakta terakhir dia jijik kepadaku dan tak mau berhubungan badan denganku.
Lalu bagaimana aku bisa punya bayi? Tanganku memegang dadaku yang terasa sesak.
"Inget, ya! Kalau kamu bener-bener nggak bisa ngasih saya cucu dalam waktu dekat ini maka jangan salahin saya kalau saya bakalan nyuruh Ikram buat ceraiin kamu! Buat apa saya punya menantu yang nggak berguna dan nggak bisa ngasilin anak kayak kamu!"
Bahkan Mama Erin akan menyuruh Ikram untuk menceraikanku jika aku tidak memberinya keturunan.
Aku menutup pintu lemari dengan kasar, kemudian pergi ke rumah Mama.
Ketika di dalam mobil aku melihat jari manisku yang dihiasi cincin permata, cincin pernikahanku. Aku tersenyum getir.
Aku memang bisa bersabar, aku memang bisa memberi Ikram waktu untuknya mencintaiku lagi, aku bisa tahan dihina oleh mertuaku terus menerus, tapi semua kesabaranku ada batasnya.
Kini sudah mantap kuputuskan, jika sampai dua bulan ke depan Ikram masih kukuh pada pendiriannya yang tidak mau menyentuhku, maka aku akan melepaskan cincin permata ini.
Sebagai tanda mengakhiri pernikahan kami.
Tanganku merogoh masuk ke dalam tasku untuk mengambil ponselku. Aku hendak mengetikkan pesan kepada Ikram karena bagaimanapun aku tetap harus izin ketika keluar rumah.
Anha: Mas aku izin ke rumah Mama, mungkin nanti bakalan pulang sor|
Aku menggeleng, buru-buru kuhapus kembali pesanku tersebut. Untuk apa aku izin? Dia saja mungkin tidak peduli lagi terhadapku.
"Mama!!!"
"Anak kesayangan Mama pulang juga," kata Mama sambil menciumi kedua pipiku dengan penuh kerinduan. Aku memeluk mama lebih erat, aku rindu sekali dengan Mama.
Setelah itu aku masuk ke dalam rumah, teriakan anak kecil terdengar dan bocah kecil itu langsung berlari memelukku. Aku mengusap rambut hitam si gembul ini dengan gemas.
"Kakak, Diego kangen banget!" Aku tertawa dan mengangkat anak ini kemudian menciumi pipi tembamnya dengan gemas membuatnya tertawa kegelian. Senyumku seolah kutemukan kembali di rumah ini.
"Udah, ah. Nggak boleh cium lagi. Malu. Diego, kan, sekarang udah gede. Udah kelas satu SD," katanya dengan mimik wajah sangat lucu sekali. Aku menciumi pipinya lagi namun Diego menutup mulutku membuatku tertawa terbahak.
Sekarang dia pelit sekali di ciumi. Aku sedikit membuat ekspresi sedih pada wajahku, pasti jika dia nanti besar sedikit nantinya tidak akan mau kuciumi lagi.
Andai aku punya anak pasti bisa kuciumi pipinya sepuas hati, dimana nantinya aku menimang bayiku dengan Ikram dan--
Deg!
Tubuhku seolah kaku, ada rasa sakit yang mendalam ketika mengingat sekelebat hal barusan. Aku memejamkan mataku yang terasa memanas.
"Inget, ya! Kalau kamu bener-bener nggak bisa ngasih saya cucu dalam waktu dekat ini maka jangan salahin saya kalau saya bakalan nyuruh Ikram buat ceraiin kamu!..."
Rasanya begitu sakit sekali.
"Kak Anha kenapa? Kok, bengong?" kata Diego sambil mengerjapkan matanya menyadarkanku kembali dari lamunanku. Aku menggeleng kemudian mencium pipinya yang menggemaskan.
"Ya, ampun. Ngelihat kamu sesayang itu sama Diego pasti nanti kamu bakalan sayang banget sama anak kamu, An," kata Mama ketika memasuki ruangan.
Jantungku seperti dihunus belati dua kali. Beban perihal momongan selalu bertambah dari hari ke hari dalam benakku.
"Iya, semoga kamu cepet-cepet punya momongan terus nanti anakmu sering-sering kamu ajak ke sini. Kasihan Mamamu sering kesepian di rumah sendirian. Pasti Mamamu pengin rumah ini ramai sama suara anak kecil," kata Tante Ririn yang keluar dari dalam dapur sambil membawa nampan berisi roti yang baru saja dibuatnya.
Tiga kali. Mataku mulai berkaca. Aku menurunkan Diego dari gendonganku kemudian berlalu begitu saja ke dalam kamar mandi untuk menyeka air mataku.
Aku tidak mau jika Mama tahu aku menangis.
Kemudian setelah aku cukup baikan aku menatap wajahku dari kaca kamar mandi, memang mataku terlihat sedikit berair.
Tetapi setidaknya sekarang aku sudah bisa kembali mengontrol emosiku.
Setelah agak tenang, aku berjalan keluar dari kamar mandi. Aku memutuskan pulang nanti saja sekitar habis magrib.
Mama bercerita banyak hal. Disini, senyum bahagia yang tidak dapat kutemukan selama enam bulan di rumah suamiku seolah kutemukan kembali, meskipun beberapa diantaranya terselip pula senyum palsu ketika aku mengarang-ngarang cerita tentang sikap romantis Ikram terhadapku ke Mama agar Mama bahagia.
"Kamu lagi ada masalah, ya, sama suamimu?" kata Mama sambil mengunyah roti brownis kering. Mataku membulat penuh, kenapa Mama menyakan hal tersebut? apa dia tahu kalau sebenarnya...
"Nggak ada masalah apa-apa, kok, Ma. Kenapa Mama nanya kayak gitu ke Anha?" tanyaku sambil meminum teh dengan gerakan pelan.
Kenapa Mama selalu tahu jika aku sedang kenapa-napa. Ikatan batan antara anak dan Ibu benar-benar sekuat itu, ya, tenyata.
"Syukur, deh, kalau emang nggak kenapa-napa. Mama cuma akhir-akhir ini sering mimpi buruk dan ngangenin kamu."