
“Iya, Kak. Kenapa juga Kak Hasan buru buru pulang? Mendingan kita masuk dulu ke dalam sambil ngobrol hangat dan minum teh, Kak!” kata Sean sambil tersenyum manis membuat Mama Anha semakin luluh saja.
Sudah sopan, manis pula. Rasanya Mama ingin mengangkatnya jadi anak ke dua saja. Biar rumah ini semakin ramai.
Anha dan Hasan otomatis menatap wajah Sean yang saat ini menyunggingkan senyum aneh. Entah mengapa firasat Anha mengatakan akan terjadi hal buruk.
“Yaudah, yuk, masuk,” tawar Mama sambil mempersilakan mereka bertiga untuk masuk ke dalam.
“Kakak kakak hoek!” nyinyir Sean sambil mengumpat ketika mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam.
Hasan memejamkan mata menahan sebal. Ingin rasanya dia menghajar si bocah bau kencur itu saat ini juga kalau dia tidak ingat jika Anha ada di sini.
Hasan memijit pelipisnya sejenak karena pusing bukan main. Kenapa pula takdir mempersatukan mereka bertiga di ruang tamu ini? Tahu begini dia lebih baik menunda untuk bertemu dengan Anha besok saja. Sial.
Sean sendiri tak henti hentinya menyunggingkan senyum penuh arti. Membuat Anha semakin bergidik ngeri saja melihatnya.
Semoga saja mereka tidak bertengkar.
Sean duduk bersebelahan dengan Anha. Sedangkan Hasan duduk berhadap hadapan dengan Anha dan Sean.
Atmosfer di sini benar benar terasa mengerikan. Hasan dengan wajah murammnya yang ditekuk tekuk. Sedangkan di kubu depan ada Sean yang berbalikan ekspresi yaitu sedang tersenyum cengengesan—dan itu sangat menyebalkan sekali bagi Hasan.
Hehe. Walaupun tadi ketika di pantai Sean sudah merestui hubungan Anha dengan om mesum sialan di depannya ini. Namun bukan berarti Sean melepaskan tante seksinya begitu saja kepada lelaki ini. Om mesum tak tau diri ini harus di test terlebih dahulu agar masuk seleksi dan pantas untuk mendapatkan wanita secantik Anha.
Yaitu test KESABARAN.
Ahahaha…
Anha dan Hasan menatap bocah ini dengan ngeri.
“Sean yang sopan, ih, sama orang yang lebih tua,” kata Anha sambil mengomeli Sean. Tapi mimik wajah judes yang diberikan Sean kepada Hasan kini berubah manis dan lembut ketika menatap wajah tante idolanya.
“Iya, tante sayang.”
Anha menggeleng gelengkan kepalanya. Dasar bocah ini.
“Kamu, kok, ke sini, San? Ada perlu apa emangnya?” tanya Anha sambil menyenderkan pungggungnya di sofa melepas penat karena seharian jalan jalan dengan Sean.
Sedangkan anak tengil di sebelahnya ini saat ini sudah diam dan anteng terkendali karena dia sedang sibuk menikmati cemilan yang tadi telah disajikan oleh Mama Anha di atas meja
Tetapi sambil mengunyah makanannya, mata Sean masih menatap sengit ke rivalnya yang berada di depannya itu.
Hasan mencoba mengabaikan anak itu.
“Aku… Aku ke sini cuma nganterin arsip buat kamu, sekalian aja mumpung satu arah,” jawab Hasan dengan asal-asalan karena memang itu alasan yang saat ini terlintas di kepalanya.
Tapi alasan sebenarnya Hasan dating ke sini tentu saja karena dia ingin mengajak Anha untuk jalan jalan, sekalian malam mingguan.
Sialnya dia kalah cepat dengan bocah tengik yang saat ini sedang tersenyum mengejek di seberang sana.
Sedangkan Anha yang tidak tahu alasan sebenarnya Hasan hanya mencoba memaksakan senyuman dibibir merahnya.
Anha meremas dress bawahannya dan ada rasa denyut ngilu di jantungnya.
Jadi, Hasan ke sini hanya karena mengantar arsip, ya? Mungkin di matanya Anha hanyalah sebatas teman kantor. Tidak lebih.
***