
Apa jangan-jangan dia jiji—aku menggelengkan kepalaku, mencoba mengusir pikiran negatif dari dalam kepalaku.
Aku memoleskan lipstick merah pada bibirku. Mengamati pantulan cantik di depan cermin ini.
Apa yang salah dari diriku? Tubuhku masih bagus, lalu kenapa suamiku tidak mau menyentuhku sama sekali?
Kini aku hanya mengenakan lingerie berwarna merah marun yang dulu pernah Ikram berikan kepadaku untuk kupakai di malam pertama.
Aku menggigit bibirku, hari ini aku akan melangsungkan aksiku untuk menggoda suamiku supaya kami berhubungan biologis.
Mungkin hal terdengar konyol dan ganjil. Tapi harus bagaimana lagi? Terlebih Mama Erin sudah sering merengek meminta cucu dariku. Memangnya aku ini Bunda Maria di zaman modern yang dapat melahirnya Nabi Isa dari rahimku apa?! Bagaimana aku bisa hamil jika suamiku tidak pernah menyentuhku! Sialan! Aku mengacak rambut hitamku yang panjangnya sepinggang dengan frustasi.
Aku menyisir kembali rambutku yang tadi berantakan, bagaimana jika tidak usah mengguankan lingerie saja?
Mungkin hal itu akan lebih membuat nafsu Ikram bergelora?Aku bergerak melepaskan kembali lingerie pada tubuhku.
Buru-buru kukenakan handuk dengan model kimono ketika mendengar suara mobil Ikram memasuki area parkiran rumah.
Jantungku berdetak kencang, aku menggigit bibirku.
Apakah serius aku harus melakukan hal ini?
Biasanya ketika Ikram datang aku akan menyambutnya, mencium punggung tangannya kemudian membawakan tasnya, sesekali aku membantu dirinya ketika melepaskan sepatunya ketika dia sudah duduk di sofa ruang keluarga. Aku memang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya.
Tapi bedanya kali ini aku tidak menyambut kepulangannya.
Sebentar lagi Ikram pasti akan memasuki kamar kami, tentunya untuk mandi malam setelah itu biasanya dia akan masuk ke dalam ruang kerjanya yang kebetulan memiliki dua pintu masuk--satu dari luar dan satunya lagi terhubung dengan kamar utama kami.
Dia cukup tertegun melihatku yang sedang duduk dipinggiran ranjang, mungkin karena aku tidak seperti biasanya yang selalu menyambut kepulangannya.
Ikram masuk ke dalam kamar mandi, jantungku berdegub sangat kencang. Apakah aku harus melakukan semua ini? Tanyaku untuk kedua kalinya.
Kali ini aku tidak langsung keluar dari kamar ini seperti yang biasanya aku lakukan ketika Ikram sedang mandi.
Aku lebih memilih duduk tetap di pinggir ranjang menunggu Ikram sampai selesai mandi. Ikram terlihat segar sekali ketika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililit di pinggangnya, bau shampo strowberry milikku yang dipakainya terasa sangat segar menyeruak indra penciumanku.
Ketika Ikram mengambil bajunya di lemari, aku berjalan pelan mendekatinya yang masih sibuk memilih baju.
Kemudian aku menarik tali handuk kimonoku dan menjatuhkannya ke lantai, aku memeluk Ikram dari belakang dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang pun.
Awalnya Ikram tampak kaget atas apa yang barusan kulakukan dari tubuhnya yang terdiam kaku.
Aku mengusap dada bidangnya yang ditumbuhi rambut halus dari belakang. Aku bisa mati gila karena belum merasakan miliknya di dalam diriku selama empat bulan kami menikah.
Aku mengecup punggung telanjangnya dari belakang. Kemudian tanganku bergerak ke bawah, meraba perut rata six pack-nya saja sudah membangkitkan gelora di dalam diriku. Apalagi jika kami nanti sudah begulat di ranjang dengan posisi dia menindihku?
Tanganku bergerak semakin ke bawah hendak menurunkan handuk putih yang melilit pinggangnya, kain terakhir yang menempel di tubuhnya sebelum dia telanjang bulat.
"Nggak ada salahnya, kan, Mas kita mencoba lagi dari awal?"
***
Awalnya Ikram tampak kaget atas apa yang barusan kulakukan, terlihat dari tubuhnya yang kaku menegang.
"Nggak ada salahnya, kan, Mas kita mencoba lagi dari awal?" kataku pelan sambil menyandarkan keningku di punggungnya. Tidak ada respons sama sekali dari Ikram, mungkin karena dia masih kaget dengan apa yang baru saja kuperbuat.
Tanganku bergerak pelan ke bawah menelusuri perut six pack-nya yang begitu seksi hendak mendurunkan lilitan handuk di pinggangnya.
Semakin ke bawah, semakin ke bawah lagi. Kini aku juga dapat merasakan tanganku semakin melewati pusarnya. Tubuhku menempel erat sehingga payudaraku yang tidak tertutup satu helai benang pun tertekan pada punggung telanjangnya.
Aku bisa merasakan detak jantung Ikram mulai meningkat dari belakang, napasnya juga terlihat berubah memburu dengan cepat.
Aku mencium punggungnya dengan lembut, bersyukur ternyata dia laki-laki normal yang dapat terangsang juga. Kupikir tadinya dia tidak terangsang karena kugoda, dan amit-amitnya lagi kukira dia gay. Tapi dugaanku salah, tubuhnya merespons dengan baik.
Lalu apa yang salah dengannya?
Kenapa selama empat bulan ini dia menganggurkan istrinya yang begitu menggoda ini?
Aku menutup mataku.
Jari nakalku mulai bergerak pelan hendak menyusup ke dalam handuk putih itu. Aku mencium basah punggung Ikram sedikit mengisapnya seperti seseorang yang hendak memberi cupang.
Aku benar-benar gila! Aku merindukannya. Jangan sampai aku memperkosa suami sahku sendiri.
Ketika jariku hendak menarik handuk putih yang melilit pingganggnya. Ikram memegang pergelangan tanganku membuat mataku yang semua terpejam kini terbuka.
"I can't."
Ikram memegang tanganku dan menyingkirkannya. Kemudian Ikram mengambil handuk kimono dari dalam lemari pakaian dan mengenakannya,.
"Sorry, tapi aku bener-bener nggak bisa kayak gini sama kamu," lanjutnya sambil mengambil celana dan baju casual dari dalam lemari--mungkin dia akan mengenakannya di dalam kamar mandi.
Tubuhku kaku menatap lelaki di depanku ini. Penolakannya membuat hatiku begitu terluka. Bukan hanya terluka, tapi aku begitu malu karena sudah mengalah merendahkan diriku untuk menggodanya seperti jalang namun dia malahan menolakku.
Berengsek!
Semua lelaki di dunia ini berlutut dan memohon demi merasakaan kehangatanku, sedangkan suamiku sendiri tidak mau berhubungan intim denganku.
"Kenapa nggak bisa?! Aku ini istrimu, Mas!" bentakku keras. Ikram berbalik badan dan tidak percaya diriku bisa berbicara sekeras tadi. Bahkan aku sendiri tidak percaya jika aku baru saja berkata sekeras itu kepada suamiku sendiri.
Emosi di dadaku sudah meledak, empat bulan kami tidak melakukan hubungan intim sedangkan mertuaku terus saja merengek meminta cucu kepadaku setiap kali beliau berkunjung ke rumah kami.
Bahkan lebih sintingnya lagi dia mengataiku mandul. Bagaimana bisa aku bisa hamil jika tidak pernah disentuh sama sekali?
Astaga! Aku frustasi!
Mataku memanas, dengan kasar aku berbalik badan dan berjalan mengambil handuk kimonoku yang berada di lantai, kemudian kukenakan handuk kimono tersebut dengan kesal. Setelah itu aku duduk di pinggir ranjang, napasku memburu karena emosi. Nafsuku sudah menguap.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku gila!
"Please, An. Kamu boleh minta apa aja selain hal itu sama aku."