After Marriage

After Marriage
Cemburu



Pukul lima sore…


Aku masih mencoba mencari waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Mai kalau dia saat ini sedang salah paham soal situasi tadi.


Saat ini Mai masih menemani Shiren yang sedang membeli es krim keliling di depan rumah dengan anak-anak kompleks lainnya sedangkan aku dari tadi hanya duduk di ranjangku sambil melipat bajuku yang tadi siang sudah kucuci sambil  mengamati Mai dari balik jendela kamar.


Memang kamar tamu ini bersebelahan dengan ruang dapur sehingga dari aku bisa mengamati halaman depan dari jendelanya.


Terlihat juga Ibu-Ibu yang juga sedang menemani anak mereka sambil menghibur si kecil Marwa yang berada digendong Mai.


"Eh Mbak, Mai. Itu siapa, sih, Mbak-Mbak yang cakep banget yang ada di rumahnya Mbak Mai? Sodara Mbak Mai, ya? Atau adeknya Mbak Mai, ya?" tanya Ibu-Ibu yang bertubuh gendut dan menggunakan daster motif batik biru yang sedang mengobrol dengan Mai.


Suara mereka masih dapat tertangkap oleh indra pendengaranku meskipun aku harus memasang telinga yang lebar-lebar. Kalau dilihat-lihat secara sekilas sepertinya dia itu tipe Ibu-Ibu yang hobi bergosip seperti yang biasanya berada di acara sinetron-sinetron televisi.


"Ah, itu temen deket saya, Buk. Emangnya ada apa, ya?" tanya Mai sambil mengamati Shiren yang saat ini sedang bermain kejar kejaran dengan anak lainnya dan sesekali Mai berteriak menyuruh Shiren untuk menepi ke pinggir jalan ketika ada motor yang lewat.


"Hah? Temen? Temen, kok, dibolehin, sih, Mbak nginep di rumahnya Mbak Mai? Nggak takut gitu Mbak kalau terjadi apa-apa?" kata Ibu-Ibu si tukang gosip itu sambil menghasut Mai dan didukung oleh temannya yang di sebelahnya yang juga ikutan menghasut Mai.


Aku menggelengkan kepalaku tidak percaya jika Ibu-Ibu itu ternyata sedang menebarkan racun kepada Mai dan sedang memengaruhi pemikiran Mai terhadapku.


Dasar tukang gosip!


Tidak di dunia nyata. Tidak di sinetron televisi. Selalu ada ada saja orang tipe seperti itu! Menyebalkan! Bagaimana jika nantinya Mai akan terhasut dengan ucapan mereka semua?


Niat hati ingin memperbaiki kesalah pamahaman tadi sore ketika aku dengan Mas Doni keluar dari dalam kamar ini secara bersamaan malahan sekarang masalahnya semakin menjadi-jadi saja.


"Um… maksudnya gimana, ya, Buk? Maaf, saya nggak paham," kata Mai yang tidak mengerti dengan maksud Ibu Ibu tersebut.


Ibu Ibu  tu menggerakkan tanggannya seperti seseorang yang sedang membisiki orang lain. Tetapi bagaimanapun juga aku masih dapat menangkap suaranya-- atau memang dia itu sedang sengaja mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya, ya?


Karena tadi aku juga sempat melihat beberapa Ibu Ibu itu sedang melirik ke arahku namun ketika pandangan kami bertemu aku pura-pura memalingkan wajahku dan pura-pura tidak melihat mereka, sibuk melipat bajuku dan memasukkan bajuku yang sudah kulipat ke dalam tas ranselku.


"Maaf, nih, Mbak Mai. Kami itu ngomong kayak gini, tuh, bukannya gimana gimana tapi kami cuma lagi ngasih nasihat ke Mbak Mai. Jangan, deh, Mbak dibolehin orang lain nginep-nginep di rumahnya Mbak Mia. Daripada nanti rumah tangga Mbak Mai yang harmonis itu jadi kenapa-napa, loh."


Mata Mai membulat ketika mendengar hal terbut dari Ibu Ibu itu. Hasutannya kini benar-benar sudah tertelan mentah mentah oleh Mai.


"Maaf, Buk! Saya beneran nggak paham sama apa yang Ibu omongin dari tadi! Dia itu temen deket saya, Buk! Nggak mungkin juga, kan, hal itu bakalan terjadi?! Nggak boleh, Buk, suuzon kayak gitu sama orang lain! Nggak baik!" kata Mai membantah.


Aku mengembuskan napas lega mendengarnya. Sangat bersyukur sekali karena ternyata Mai tidak sampai terhasut omongan mereka.


Ibu gendut tukang gosip itu berkacak pinggang seperti tidak terima dengan apa yang Mai bantahkan barusan.


"Aduh, Mbak Mai. Polos atau emang nggak mudeng, sih? Dikasih tahu kok, ya, malahan ngeyel banget, sih. Di zaman sekarang, mah, Mbak pelakor ada di mana mana kali Mbak Mai! Kadang aja ada khasus adek nikah sama pacar kakaknya. Apa lagi sorry, nih, ya, Mbak Mai. Temen Mbak Mai itu, kan, cantiknya kebangetan. Ya, apa Mbak Mai nggak khawatir gitu kalau suami Mbak Mai kepincut sama dia gimana? Kalau saya, sih, ogah, ya, Mbak Mai! Nanti, kalau udah kejadian beneran. Baru kapok nangis nangis, deh, Mbak Mainya."


"Betul itu Mbak Mai!" kata Ibu Ibu yang lainnya menambahi memprovokasi Mai.


Aku menelan luadahku. Demi Tuhan aku tidak ada niatan sama sekali untuk merebut ataupun menggoda Mas Doni dari Mai. Aku diizinkan menginap di sini saja aku sudah sangat bersyukur, kok.


Kenapa juga Ibu Ibu itu berkata seperti itu kepada Mai? Bikin tambah runyam saja.


"Tapi…" Mai  yang hendak membantah perkataan  Ibu Ibu tersebut urung. Tetapi dilihat dari ucapan Mai yang menggantung itu dan wajah Mai yang semua normal kini berubah menjadi pias sepertinya Mai  saat ini benar-benar sudah mulai termakan omongan mereka.


Terlebih lagi perbandingannya saat ini satu banding empat sekaligus. Yang satu mengompori Mai yang tiga orang lainnya mendukung dengan semangat gosip yang sedang gencar mereka sampaikan itu kepada Mai.


Jelas saja Mai akan terhasut, kalaupun aku yang sedang berada di posisi Mai pastinya aku juga akan berpikiran negatif saaat ini.


"Mbak Mai, saya kasih tahu lagi, ya. Mas Doni, kan, sekarang pekerjaannya udah mapan, nih. Ya, wajar, lah, Mbak kalau ada banyak cewek yang kelepek kelepek sama Mas Doni. Cowok, mah, semakin tajir semakin banyak Mbak yang nyoba ngedeketin. Ati-ati aja, deh, Mbak Mai. Pokoknya ati ati. Itu pesen kami semua."


"Iya Mbak Mai. Apalagi kalau nggak salah kemarin saya sempet lihat Mas Doni lagi boncengin itu cewek malem malem, kan, ya. Ih, kok, keganjenan banget, sih, itu temennya Mbak Mai? Parah banget, deh, ah. Jangan-jangan mereka abis dari hote… Eh, sorry Mbak Mai, bercanda, kok, abaiin aja, ya, omongan saya tadi. Hehe," tambah Ibu Ibu yang lain semakin memanas manasi Mai.


Kini Mai tidak dapat berkata apa pun lagi. Aku juga tidak tahu apa yang saat ini sedang dia pikirkan terhadapku. Tanpa kusadari Mai menengok ke arahku dan tatapan kami berdua berbenturan.


Wajah Mai tampak berbeda, tidak sesejuk biasanya. Bara api kecemburuan terlihat di sana. Aku menelan ludah kemudian menundukkan kepalaku ke bawah dan melanjutkan kembali gerakan melipat bajuku lagi.


Setelah beberapa menit kemudian aku berani mengangkat  lagi pandanganku ke depan. Terlihat Mai yang saat ini sedang mengucapkan salam kepada Ibu Ibu tersebut dengan nada setengah hati kemudian Mai berlalu meninggalkan mereka berempat begitu saja dan mengajak Shiren memasuki rumah karena sudah hampir magrib.


Aku yang saat ini masih menatap ibu ibu yang saat ini sedang menutup mulut menahan tawa setelah kepergian Mai seolah menjadi saksi bisu kelakuan buruk mereka dan aku hanya mampu mengembuskan napas jengkel.


Untuk apa juga, sih, mereka melakukan hal itu kepada Mai dan menbuat Mai salah paham terhadapku?


Aku, kan, sekarang malahan jadi tidak enak hati dengan Mai.


Sekarang aku putuskan kalau besok sebelum fajar membangunkan jutaan umat manusia. Aku akan berkemas dan pergi dari sini sebelum terjadi banyak kesalah pahaman lainnya yang akan memicu masalah lebih besar lagi.


***


Dan benar saja. Sejak selepas magrib tadi sampai saat malam ini pun Mai masih saja betah menekuk wajahnya dan masih saja diam membisu seribu bahasa sambil mengabaikan keberadaanku.


Lalu... sekarang apa yang harus aku lakukan agar Mai tidak marah lagi?


"Oh, iya, Mai. Kamu mau masak apa? Numis apa? Baunya enak banget, deh. Hehe," kataku dari pintu dapur ketika melihat Mai yang saat ini berdiri di depan kompor dan masih sibuk berkutat dengan masakannya.


Lihatlah, bahkan saat ini Mai tidak mau mengajakku berbicara sama sekali atau pun mengajakku ngobrol sama sekali membuatku semakin sedih saja.


Sebagai orang yang sedang menumpang aku tidak boleh leha-leha di kamar saja. Ketika pagi hari aku membantu Mai membersihkan rumah, antaranya mengepel, mengelap meja dan peralatan semuanya, intinya apa pun yang bisa aku lakukan maka akan aku lakukan.


Bagaimanapun juga aku harus tahu diri, bukan? Terlebih lagi Mai menolak mentah mentah uang yang kuberikan kepadanya. Jadinya aku diam-diam membelikannya gula, teh kotak, telur, dan lainnya ketika tadi pagi kami berbelanja di supermarket.


Dengan gerakan pelan aku memasuki dapur dan hendak membantunya memasak. Sekalian mencuri curi waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Mai bahwa sebenarnya aku ini benar benar tidak ada niatan sama sekali untuk merebut Mas Doni darinya.


Aku juga hendak menjelaskan kepada Mai agar Mai tidak salah paham terhadapku karena termakan omongan dari ibu ibu hobi gosip yang tadi sore itu.


"Mai aku bantuin kamu masak, ya," kataku dengan nada lembut mencoba memancing Mai agar mau berbicara kembali denganku namun nyatanya Mai masih ceuk saja sambil terus mengaduk sayuranannya di wajan.


Aku menelan ludah. Sepertinya dia benar benar marah besar kepadaku. Selama aku hidup aku belum pernah melihat Mai marah, aku sudah sering melihatnya dalam versi sabar dan lemah lembut. Jadi aku sekarang bingung bagaimana menghadapinya ketika dia marah karena marahnya Mai adalah diam.


"Mai, kamu lagi marah, ya, sama aku? Kok, dari tadi kamu diem aja, sih?" kataku dengan hati-hati di sela diriku yang saat ini sedang lincah memotong daun bawang untuk di masak menjadi telur dadar untuk lauk makan nanti.


Mai masih diam saja seribu bahasa, dia tidak mau menjawab perkataanku sama sekali.


Aku mengembuskan napas berat. Mulai frustasi.


"Oh iya. Telurnya di mana , Mai?" tanyaku kepadanya untuk kesekian kalinya dan tetap saja hasilnya sama seperti sebelumnya, aku masih saja dikacangi oleh Mai.


Tetapi tidak apa. Aku akan terus menerus berusaha untuk mengajak Mai berbicara meski pun aku diabaikan olehnya. Aku akan berusaha mengajaknya berbicara sampai Mai mau menjawab perkataanku.


Kalau dipikir pikir lagi Mai adalah sahabat pertama dalam hidupku. Orang baik yang tidak peranah sakit hati kepada pedasnya ucapankuku. Aku tidak mau hubungan persahabatan kami berdua harus kandas begitu saja karena kesalah pahaman kali ini.


Kesalah pahaman ini harus di luruskan agar ketika besok aku angkat kaki dari sini aku tidak memiliki hutang apa pun dan tidak menyakiti hati siapa pun ketika besok aku keluar dari rumah ini bisa melangkah dengan damai.


Aku tersenyum ketika melihat telur yang tadi siang kami beli di supermarket ternyata berada di kantung keresek sebelah kiri Mai yang masih sibuk memasukkan kecap manis ke dalam tumisannya.


Aku bergerak mendeka ke arah Mai unuk mengambil telur tersebu. Tetapi gerakan tanganku tertahan karena tanpa kuduga Mai tiba-tiba memegang keresek tersebut membuatku mengeryitkan dahi.


"Nggak usah, biar aku aja yang masak. Kamu diem aja dan tunggu aja di ruang makan sama Shiren dan sama Mas Doni," kata Mai dengan begitu dinginnya membuatku semakin ketakutan.


"Ah, nggak papa, kok, Mai. Biar aku bantuin kamu aja. Sekalian gitu biar masaknya cepet selesai. Lagian aku juga nggak enak hati juga kalau cuma diem dan nggak ngebantuin kamu. Hehe," kataku sambil menyengir kuda dan mencoba kembali menarik pelan kantung keresek merah berisi telur tersebut.


Tetapi di luar dugaaanku. Mai menarik dengan kencang kantung keresek tersebut dan kini malahan telur telur itu terjatuh ke lantai. Pecah semuanya.


"Aku udah bilang nggak usah, ya, nggak usah! Kenapa, sih, kamu ngeyel banget! Kamu mau ambil alih ini semua, ya! Mau gantiin posisi aku gitu?!"


Mai berteriak keras membuatku terdiam seketika. Bahkan aku menangkap kalimat ganjil dalam teriakannya barusan. Seperti ketika dia mengatakan mau ambil alih dan mau gantiin aku.


Sekarang aku hanya menatap ke bawah. Melihat telur yang pecah di lantai itu.


Niat hati hanya ingin membantu kenapa malahan jadi seperti ini?


"Ada apa, sih, Umi, kok, teriak teriak kayak gitu?" kata Mas Doni yang datang dari arah pintu dapur membuat diriku dan Mai hanya terdiam seketika. Tidak mampu berkata apa-apa lagi.


Aku menatap Mai dan kini aku hanya mampu menelan ludah. Terlihat Mai saat ini sedang mengembuskan napas kesal. Wajahnya benar benar marah luar biasa. Napas Mai memburu tidak karuan.


Dan itu semua karena aku.


"E-enggak papa, kok, Mas. Tadi aku nggak sengaja ngejatuhin telurnya. Hehe," kataku dengan kikuk mencoba mencairkan suasana tegang ini. Aku mengambil lap dan membungkus tanganku dengan dua kantung keresek hitam agar nantinya tanganku tidak terlalu bau amis kemudian aku menekuk lututku untuk memulai membersihkan telur yang pecah itu.


"Eh, nggak usah, Dek. Biar aku aja. Kamu, kan, tamu di sini," cegah Mas Doni berusaha mengehentikan gerakan membersihkanku.


"Kamu caper, ya, sama Mas Doni biar kamu kelihatan lebih baik dan biar Mas Doni nganggep aku lebih buruk? Tega kamu, ya, An. Aku nggak nyangka banget."


Aku dan Mas Doni terdiam seketika. Mencerna ucapan Mai barusan.


"Maksudnya?"


Itu bukan perkataanku. Melainkan Mas Donilah yang berkata seperti itu kepada Mai. Aku masih terdiam saja. Masih tidak berani menatap Mai yang saat ini sedang dikuasai emosi karena cemburu.


 


***


Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.