After Marriage

After Marriage
Hasan Marah



“Anha. Bantuin Mama bawain minuman, dong,” kata Mama dari dalam dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu.


“Iya, Ma. Bentar,” jawab Anha sambil berdiri dari posisi duduknya. Tapi sebelum itu Anha memincingkan matanya, menggerakan dua jarinya—jari telunjuk dan tengah—lalu kemudian menatap Sean sesaat, lalu kemudian menatap Hasan bergantian. Seolah memberi isyarat kepada mereka berdua supaya tetap akur sampai kembalinya Anha dari ruang dapur.


“Yang akur!” kata Anha sebelum berlalu masuk ke ruang dapur dengan wajah judes. Hasan mengangguk menurut. Sedangkan Sean menyengir penuh makna.


Setelah Anha ke belakang. Sean tersenyum dan meletakkan kedua kakinya di atas meja ruangan—pembatas antara orang yang dari tadi sudah naik darah di depannya itu dengan dirinya.


Hasan menatapnya tajam  anak ini benar benar tidak sopan sama sekali!


Sean menyengir. Hehe. Waktu test kesabaran di mulai!


“Mending om mundur aja, deh, buat miliki tante Anha. Tante Anha itu khusus buat aku. Ngalah, gih, sama yang lebih muda,” kata Sean to the point mencoba memanas manasi Hasan.


“Apa urusan, kamu,” jawab Hasan cuek sambil menyomot satu cookis yang terletak di atas meja. Kenapa juga bocah ingusan ini menyuruhnya mundur. Apa dia tidak tahu jika dalam waktu dekat ini Hasan akan menyematkan cincin permata indah di jadi manis perempuan yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya itu.  Melamarnya. Maka dari itu Hasan memberanikan diri untuk datang ke rumah Mamanya Anha untuk pendekatan lebih lanjut.


Anha cantik, manis, sopan, kepribadiannya baik, seksi pula. Jelas saja banyak yang menyukainya. Hasan sangat wajar akan hal itu.


Mau itu Sean, mau itu manager dari devisi lain. Sungguh Hasan tidak peduli sama sekali. Dia sudah melangkah. Dan tidak akan mundur lagi. Itulah prinsipnya.


“Tadi aku udah nembak Tante Anha. Dan sekarang kami jadian. Jadi Om nggak usah, deh, deket deket lagi sama pacar aku!”


Hasan hanya tersenyum miring. Mau bocah ini pacarnya, kek. Mau suaminya, kek. Hasan benar benar tidak peduli sama sekali. Selama janur kuning belum melengkung, maka artinya Anha dapat di miliki siapapun. Tak terkecuali dirinya.


“Nggak peduli. Kamu itu masih bocah. Mau dikasih makan apa nanti Anha kalau sama kamu,” ledek Hasan kepada Sean.


Silan! Om berengsek ini ternyata bisa nyinyir juga. Sean terlalu menyepelekannya!


Tapi kemudian setelah itu Sean kembali menyunggingkan senyumannya.


Terlintas ide yang menarik di kepalanya.


“Emang hubungan Om sama Tante Anha sudah sampai mana aja? Nggak usah ngimpi, deh, buat dapetin tante Anha kalau hubungan kalian masih di tahap gandengan tangan atau chatingan tengah malem. Bocah aja juga bisa kali, Om,” ledek Sean sambil menyombongkan dirinya.


Hasan mengeryitkan keningnya. Apa maksud bocah ini!


“Aku kasih tahu, ya, Om. Tapi ini rahasia…”


Sean memutus sejenak ucapannya tersebut.


“Aku itu udah ciuman sama tante Anha, Om,” jawab Sean sambil terkekeh senang.


Ayo dong kesal, kata Sean dalam hati.


Hasan tidak menanggapinya. Mencoba mengabaikan bocah yang menyengir di depannya ini meskipun napas Hasan sudah kembang kempis karena menahan emosi.


Belum sampai di situ saja ketengilan Sean.


Sean saat ini tersenyum miring dan menyentuh bibir bawahnya dengan perlahan sambil menikmati wajah Hasan yang memerah padam karena emosi yang memuncak dan tinggal meledak saja.


Setelah itu Sean menjilat pelan bibir bagian bawahnya supaya Hasan berpikiran macam macam.


Namun setelah itu mata Sean terbelalak dan kaget ketika ternyata respons Hasan berbeda.


Tiba tiba Hasan melakukan tindakan yang tidak terduga sama sekali yaitu Hasan tiba tiba berdiri dan naik melewati meja kayu pembatas dirinya dengan Sean.


Kemudian tanpa terduga Hasan mencengkeram kerah baju Sean saking emosinya.


“TANTE ANHA TOLOOOONGGG!!!”


***


WKWKKWKW mampos kau bocil. Salah siapa tengil powl. Menurut kalian apa yang akan terjadi kepada Sean setelah itu?


BTW Sean udah ada ceritanya sendiri. Silakan ke profilku terus pilih novel yang judulnya Harta, Tahta, Aprilia 😎. Makasih.


Love,


Mayang.