
Aku menepuk dahiku, frustasi bukan main.
Kapan ini semua akan berakhir, Ya Tuhanku!
Kemudian aku memiliki ide cemerlang! Aku lebih memilih mengambil ponselku dari dalam tasku. Kemudian aku mengirimi Mama pesan yang berisi aku segera ingin pulang.
Setelah itu obrolan mama mulai terhenti dan mengecek sejenak sms masuk dariku itu. Aku tertawa menang dalam hati karena sepertinya rencanaku kali ini berhasil.
Mama matapku sekilas setelah membaca pesan masuk dariku. Baru mama tersadar bahwa aku sedang kesal karena menunggu obrolan mereka berdua yang sampai ngalur- ngidul itu.
"Oh iya, Jeng. Besok kayaknya Anha dapet sif pagi. Jadinya kayaknya kami harus pamit pulang dulu, ya, Jeng. Takut kalau besok Anha telat berangkat kerjanya," kata Mama berbohong untuk kata lain berpamit pulang.
Tante Asih mengangguk dan bilang dia juga sama hendak pulang dan mulai mengirim pesan kepada supir pribadinya untuk menjemputnya.
Mama bersalaman dengan Tante Asih. Begitupun aku juga bersalaman dan mencium punggung tangan Tante Asih serta mengucapkan terima kasih juga atas lezatnya makan malam ini.
Kami bertiga berjalan beriringan keluar dari restoran.
Ternyata selang beberapa menit saja jemputan Tante Asih sudah datang.
'Cepat juga,' batinku. Kemudian Tante Asih berpamitan masuk duluan ke dalam mobil sedangkan kami masih menunggu taksi online yang sudah dipesan oleh Mama tadi.
"Barengan aja, yuk, Jeng," kata Tante Asih menawari tumpangan.
"Nggak, ah, Jeng. Kapan-kapan aja. Ini juga udah pesen taksi, Jeng."
Mama menolak dengan halus karena memang pada kenyataanya kami sudah memesan taksi.
"Maaf, ya, Jeng ngecewain Jeng Marni karena anak saya malam ini nggak dateng. Besok, deh, insya Allah lain waktu Jeng Marni sekeluarga makan malam di rumah kami, ya, Jeng."
Mama mengangguk dan mengiyakan ucapan Tante Asih. Tampak putri Tante Asih yang berada di dalam mobil merengek agar segera pulang karena obrolan mamanya dengan mamaku tidak ada habis-habisnya.
Ya, wajar sih. Namanya juga emak-emak bukan?
"Yaudah, ya, Jeng. Saya pulang dulu. Ini rewel banget anak gadis saya."
Mama mengangguk dan melambai ketika Tante Asih sudah menutup pintu mobil tapi kaca mobil tersebut masih terbuka.
"Oh, iya, Jeng. Saya keluapaan sesuatu. Nama anaknya Jeng Asih siapa?" tanya Mama setengah berteriak ketika mobil tersebut sudah berputar arah hendak keluar dari tempat parkiran restoran ini.
"Oh. Nama anak saya Ha--"
***
Aku dan Mama pulang dari restoran pukul sembilan malam. Tidak lebih. Tidak kurang. Pas. Dengan tubuh yang terasa begitu lelah aku masih menekuk wajahku meskipun kami sudah sampai di rumah.
Mama yang mengetahui jika aku memang sedari awal berangkat tidak mood kemudian Mama berjalan mendekatiku. Lalu kemudian Mama Memegang pundaku. Dan berbasa-basi mengatakan ada apa? Kenapa Anak cantik Mama ini cemberut? Padahal aku yakin sebenarnya mama paham dengan apa yang saat ini aku rasakan.
"Ma, Anha boleh nggak minta satu hal nggak Mama?" kataku kepada Mama. Kemudian setelah itu mama menganggukkan kepala.
"Tentu, dong, Sayang. Jangankan satu hal, kamu minta apa pun juga pasti bakalan mMama turutin, kok. Kamu, kan, anak kesayangannya Mama," kata mama sambil menangkup kedua pipiku dan menekannya dengan gemas sampai bibirku memanyun.
Tetapi saat ini aku sedang benar- benar tidak mood bercanda sama sekali dengan mama. Aku yang saat ini sedang berada dalam mode serius.
Aku tidak nyaman dengan itu semua. Aku mau kejadian ini adalah kejadian pertama dan terakhir kalinya bagiku menghadiri makan malam konyol dan perjodohan konyol tersebut.
"Ma, Anha nggak mau, Ma, dijodoh- jodohin kayak tadi lagi. Serius. Anha nggak suka banget, Ma. Anha tadi mau dateng ke sana karena Anha ngehargai banget permintaan Mama. Tapi. Besok-besok lagi kalau Mama nyuruh Anha kayak gitu lagi atau nyuruh Anha nemuin anak dari temen mama yang lain. Maka Anha bakalan nolak apa pun yang terjadi. Anha tadi ngelakuin itu semua demi Mama. Please hargai permintaan anak Mama ini," kataku panjang lebar menjelaskan kepada mama.
Tetapi sialnya mama hanya memangut-mangutkan kepalanya saja. Seolah Abai dengan ucapan panjang lebarku barusan.
"Ma. Anha serius, Ma," kataku sambil merengek.
"Kamu, sih, belum lihat gimana ganteng dan okenya anaknya Jeng Asih itu. Kalau udah lihat. Uh, langsung kelepek-kelepek kamu, An," kata Mama dengan begitu semangatnya.
Aku menggengam dengan erat tangan Mama supaya Mama luluh kepadaku.
"Iya. Mama juga lagi serius ini. Itu tadi, kan, cuma makan malam, doang. Nggak lebih, bukan? Itung-itung sekalian ikhtiar nyari jodoh apa salahnya? Mama, kan, nggak maksa kamu buat langsung nikah sama anaknya Tante Asih. Kalau kamu emang bener-bener nggak cocok sama dia. Kamu bisa nolak dia, kok. Semudah itu, kan?" kata Mama dengan entengnya kepadaku.
"Tapi, Ma! Anha bukan anak kecil yang harus dijodoh-jodohin kayak gitu. Ma!"
Aku masih kukuh pada pendirianku. Aku tahu mama termasuk tipikal orang yang begitu keras kepala. Hari ini bisa jadi mama bilang tidak. Tapi... Besok besok pasti mama akan berdrama lagi agar aku mau makan malam dengan Tante Asih lagi. Aku yakin itu! Pasti!
"Mama cuma pengin yang tebaik buat kamu, Anha," kata Mama mencoba meluluhkanku. Aku mengebuskan napas lelah karena terus-terusan berdebat dengan Mama memang terasa sangat melelahkan.
Bahkan aku tidak percaya hal ini akan sampai menimbulkan perdebatan sengit di antara aku dan Mama dan belum juga menghasilkan titik terang.
"Tapi Ma--" sebelum aku menyelesaikan ucapanku. Mama sudah membantahnya terlebih dahulu membuatku kesal bukan main karenanya.
"Kamu istriahat dulu sana. Bawelnya bukan main kamu ini. Udah lah. Mama capek. Mama mau tidur," kata Mama kemudian Mama mulai berlalu memasuki kamarnya meninggalkan diriku yang masih mematung di ruang keluarga dengan perasaan dongkol bukan main ini.
Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghapus riasan wajahku kemudian mengganti gaunku dengan baju casual lengan panjang dan celana tidur panjang.
Setelah itu aku memasuki kamar mandi. Menggosok gigiku dan cuci muka. Aku bergerak ke ranjangku dan mulai menarik selimut sampai atas dadaku. Kemudian aku tidur.
***
Hari ini aku mendapatkan jadwal sif pagi. Sif pagi bagiku bukanlah suatu hal yang buruk. Tetapi bukan berarti ini hal baik pula.
Tidak enaknya sif malam adalah aku harus pulang malam dan susah mencari angkutan umum ketika pulang--harus memesan ojek online.
Sedangkan tidak enaknya sif pagi adalah aku harus berangkat pukul enam pagi karena harus bersih-bersih terlebih dahulu sebelum pengunjung datang.
Memang tidak ada pekerjaan yang seratus persen enak di dunia ini. Semua pasti ada enak dan ada tidak enaknya juga.
Tetapi tidak enaknya bekerja di bagian kuliner / makanan seperti ini, ya, begitu. Kami diharuskan buka sebegitu paginya.
Ini masih terhitung masih mending. Di bagian pemanggangan malahan mereka berangkat pukul satu dini hari dan pulang pukul delapan pagi karena biasanya mereka memangang untuk roti pesanan pelanggan yang memesan dengan jumlah banyak.
Maka dari itu aku akan sangat malu jika mengeluh karena nasibku saat ini masih mendingan daripada orang orang yang bekerja di bagian pemangganan.
Tidak apa. Aku akan berusaha bertahan sampai tiga hari lagi di sini.
Kenapa pula aku harus menunggu tiga hari? Karena tiga hari lagi pengumuman seleksi interviewku akan diumumkan.
Dan semoga saja aku diterima di perusahaan incaranku waktu itu sehingga aku tidak perlu repot repot bekerja part time di sini lagi.
Aku berangkat menaiki bus BRT karena lebih irit dan hanya mengeluarkan ongkos tiga ribu lima ratus rupiah.
Mengingat bus brt yang saat ini sedang aku naiki sedang sepi.
Jadi aku bisa bernapas dengan santai sambil mendengarkan lagu dari earphone-ku.
Perjalanan dari rumah menuju tempat kerjaku mengabiskan waktu tiga puluh menitan menggunakan transportasi BRT. Untung saja pagi pagi seperti ini tidak banyak kemacetan di jalan kota.
Ketika aku sudah sampai di tempatku bekerja. Memang suasananya masih terasa begitu sepi. Nampak juga beberapa karyawan bagian pemanggangan yang sedang rolling dengan karyawan lainnya, mereka tampak sedang mengeluarkan motor mereka dari tempat parkir.
Wajah mereka terlihat lesu, redup, efek karena kurang tidur juga. Pasti sesampainya di rumah nanti mereka akan merebahkan diri di ranjang dan terjatuh tertidur.
'Semangat semangat semangat!' kataku dalam hati menghapalkan mantra tersebut dalam hati mencoba mensugesti diriku sendiri.
***
Follow juga instagramku: @Mayangsu_ di sana aku lebih aktif dan post banyak info tentang novelku + jadwal update + visual tokoh. Makasih.