After Marriage

After Marriage
Anak Jeng Asih



“Nama saya Hamkan. Kamu?” kata lelaki tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk mengenalkan diri kepada Anha.


Anha tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan dari lelaki tersebut.


“Anha.”


Yah, sebegitu kakunya perkenalan pertama mereka berdua.


Jeng Asih yang melihat kecanggungan mereka menutup mulutnya menahan tawa. Dasar anak muda, sukanya malu malu kucing saja.


“Kamu, sih, dulu nggak buruan ngedeketin Anha. Pakek dulu waktu makan malam nggak dating lagi. Padahal Anha udah dandan cantik banget, lho, demi ketemu kamu,” cerocos Jeng Asih membuat pipi Hamkan memerah, siapa juga yang tidak malu jika mamanya berkata seperti itu di depan orang lain. Pun sama, pipi Anha juga tak kalah merahnya dari pipi Hamkan.


“Kurang gercep kamu! Tuh, Anha sampai udah dipinang orang lain. Cewek cantik dan baik kayak Anha disia siain,” tambah Jeng Asih lagi sambil memukul pelan paha putranya. Merah padam sudah pipi lelaki tersebut. Anha hanya menundukkan kepala malu daritadi di puji puji terus oleh Jeng Asih.


Hamkan mengambil kursi yang berada di dekat ranjang pasien. Dan ia duduk di sebelah Mamanya sambil menggenggam tangan Mamanya tersebut karena Anha masih duduk di tepi ranjang.


“Mama kenapa, sih, pakek masuk rumah sakit segala. Hamkan, kan, jadi khawatir banget, Ma sama Mama. Sampai tadi Hamkan kepikiran Mama di tempat kerjaan.”


Jeng Asih membuang muka. Masih pura pura merajuk kepada anak laki lakinya tersebut.


“Kamu, sih, nggak pernah ada waktu buat Mama. Nggak sayang sama sekali sama Mama. Mana adikmu lagi nginep di rumah neneknya lagi. Kan, Mama jadi kesepian.”


Sebenarnya Jeng Asih ingin mengulur ulur waktu lebih lama lagi tapi dia merasa kasihan juga kepada Anha masih berada di sini dengan sabar menemaninya dari tadi.


Sebenarnya, sebelum Mama Anha ke sini. Diam diam Jeng Asih meminta dan bekerja sama dengan Mamanya Anha supaya Mamanya Anha pulang terlebih dahulu dan biar Hamkan yang mengantarkan pulang Anha.


Jeng Asih tahu, Anha sudah memiliki calon. Tapi tidak ada salahnya bukan jika mereka saling mengenal? Toh, juga janur kuning belum melengkung. Siapa tahu selipan doa dari Jeng Asih terkabulkan.


“Eh, nggak usah, Tante. Nanti Anha pulang sama Mama aja setelah Mama selesai dari Ind*maret.”


Jeng Asih terkikik geli medengar ucapan polos dari Anha tersebut. Ke ind*maret dari Hongkong. Orang tadi Mamanya bekerja sama dengan dirinya, kok, supaya Anha pulang dengan Hamkan.


“Oh. Tadi Mamamu nge WA Tante. Katanya dia udah pulang dan nggak jadi ke sini lagi.”


Hah?!


Anha melongo mendengar hal tersebut.


Kini Anha dan Hamkan saling tatap dalam diam karena canggung.


“Ah, nggak usah, Tante. Anha bisa naik ojek, kok, hehe,” tolak Anha lagi karena merasa tidak enak hati dan merepotkan saja.


“Eh, mana bisa anak cewek naik ojek di jam satu malem kayak gini. Nggak baik, rawan kejahatan juga tahu. Cepet Ham, anterin Nak Anha pulang.”


Hamkan mengangguk. Kasihan juga Anha terjebak di sini karena menunggui Mamanya.


“Yuk,” ajak Hamkan sambil tersenyum dengan lembut. Pipi Anha memerah, anak Tante Asih memang tampan. Dengan jambang tipis yang menghiasi dagunya, sama panasnya dengan Hasan. Mata cokelat terang, alis tebal, rahang kokoh dan hidung yang mancung. Pantas saja sampai tante tante seperti mama jatuh hati kepadanya.