
“A-aku dari tadi di dalem tolet, kok. Mules,” kata Anha mencoba berbohong lagi, meskipun tidak mungkin juga orang di dalam toilet sampai hampir satu jam lamanya—kecuali kau tidak sengaja ketiduran di dalam tolet.
Kini Hasan hanya mampu memijit pelipisnya karena merasa pusing. Hanya karena satu wanita di depannya ini dia sampai dibuat pusing seperti ini, sampai dia rela bolak balik ke sana kemari.
“Kamu nggak pinter bohong, An. Aku udah bolak balik ke ruangan kamu dan kamu nggak ada di sana,” kata Hasan pada akhirnya. Kini Anha mulai tampak gugup, ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Bingung karena dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk mendebat Hasan.
Anha menatap wajah Hasan sejenak. Memang terlihat dengan jelas kekhawatiran di wajah lelaki tampan di hadapannya itu. Lelaki yang terang-terangan mengatakan perasaanya kepadanya, lelaki yang belakangan ini mengisi hari-harinya dan membuatnya melupakan sejenak sakitnya masa lalu yang pernah Anha alami.
Tetapi Anha untuk saat ini lebih memilih untuk meneguhkan hatinya sejenak, sekarang bukan saatnya untuk terhanyut perasaan oleh Hasan. Kejelekan Anha memang seperti itu, dia mudah jatuh hati dan mudah terkesan oleh seseorang. Seharusnya Anha belajar dari pengalaman, bukannya wanita yang mudah didapatkan maka esok mereka itu juga akan mudah untuk ditinggalkan, ya?
Seperti kisah cintanya dengan Ikram dulu?
Anha memejamkan matanya sejenak. Kenangan sialan tentang mantan suaminya itu selalu susah untuk dihilangkan secara permanen.
“Emangnya kenapa?” kata Anha dengan suara agak ketus sedikit. Untuk sekarang, biarlah Hasan yang bersusah payah untuk mendapatkannya. Biarlah Hasan yang mendatanginya, membuktikan pengorbanannya. Anha hanya ingin melihat seberapa besar Hasan menginginkannya.
“Ya, seenggaknya kamu, kan, bisa ngabari aku duluan, An. Biar akunya nggak khawatir juga.”
Anha semakin tidak paham dengan apa maksud dari perkataan Hasan. Kenapa saat ini Hasan malahan terkesan seperti lelaki yang over protectif kepada pasangannya, sih? Dan hal itu malahan membuat Anha semakin kesal saja. Untuk apa pula Anha wajib mengabari Hasan tentang dirinya.
Berlebihan sekali, pacar juga bukan, suami juga bukan, kenapa juga dirinya wajib lapor segala?
Entah Anha sedang lelah atau bagaimana, sehingga percakapan kecil tersebut menimbulkan percikan padahal hal ini sepele sekali.
“Bukannya aku mau kemana aja itu terserah aku, ya?” kata Anha dengan kesal membuat Hasan mengerutkan dahi mendengar balasan tak mengenakkan dari Anha barusan.
“Iya emang terserah kamu, tapi aku khawatir, An, sama kamu. Seengaknya kamu bias ngasih tahu aku biar aku nggak khawatir dan bingung nyariin kamu sampai ke mana mana.”
Anha bersedekap dada dan menatap Hasan dengan tatapan tidak suka.
“Emang kamu siapa aku? Kenapa juga aku harus bilang ke kamu?”
Hasan terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita di depannya yang saat ini sedang menampilkan ekspresi masam. Kata-kata itu seolah menohok dirinya dan seolah mengatakan dalam artian lain seperti... kamu itu bukan siapa-siapa aku.
Anha masih betah membuang muka ke arah lain— intinya di dalam hati Anha mengatakan yang penting tidak menatap lelaki di depannya ini. Tujuan Anha bersikap ketus seperti itu adalah dengan seperti ini maka jarak mereka berdua akan semakin merenggang. Dengan begitu lama kelamaan pasti perasaannya kepada Hasan akan memudar seiring berjalannya waktu.
Kecuali Hasan mati-matian mengejarnya. Maka boleh jadi akan menghasilkan hal yang lain.
Tangan Hasan bergerak terulur hendak menyentuh lengan Anha, namun Anha menepisnya dan Anha juga memilih untuk mundur ke belakang satu langkah seolah tidak ingin disentuh oleh Hasan membuat Hasan mengerutkan dahi.
“Maaf, ya. Maaf kalau aku salah dan bikin kamu kesal,” kata Hasan dengan lembut. Dia tidak suka dengan sikap Anha yang seperti ini.
Kata-kata itu mampu membuat Anha beralih sejenak untuk menatap Hasan kembali. Mana tega Anha melihat Hasan sampai meminta maaf seperti itu.
“Iya, aku juga minta maaf karena marah nggak jelas sama kamu kayak gini. Aku cuma lagi sensi aja, kok, San. Mood-ku lagi jelek. Udah, ya, aku pamit pulang dulu,” kata Anha sambal memegang tali tasnya dan mulai melangkah ke depan serta berusaha mengabaikan Hasan yang saat ini ikut berjalan di sampingnya.
“Aku anterin, ya?”
“Nggak usah.”
“Udah malem, biar aku yang anterin kamu, An.”
“Nggak. Aku bisa naik ojek, kok.”
Entah memang sifat bawaan laki laki atau bagaimana, kenapa juga semakin dijauhi malahan semakin bergerak mendekat. Dasar aneh.
Namun langkah mereka berdua terhenti ketika Anha dan Hasan mendengar suara dari arah belakang.
“Hasan! Pulang bareng, yuk.”
Pantas saja mereka merasa tidak asing dengan suara tersebut. Itu adalah suara Bella.
***