After Marriage

After Marriage
Singapura



Anha terdiam sejenak. NTU? Sungapura? Anha ingat… dulu waktu di danau Sean pernah bercerita kepada Anha jika mamanya dirawat di rumah sakit yang berada di Singapura. Karena kualitas pengobatan di sana memang lebih memumpuni dengan fasilitas yang lebih bagus.


"Saya memang sejak dulu memawarkan Sean untuk kuliah di Singapura. Dia bakalan ngambil jurusan TI. Nanti kalau dia sudah lulus, dia akan saya suruh kerja di sini. Terlebih lagi mamanya adalah pancingan bagi Sean biar dia semangat dalam belajar."


‘Nikah nikah! Emang anak kamu mau kamu kasih makan apa,hah! Mau kamu kasih makan batu apung gitu?!’


‘Tenang tante, habis ini aku bakalan kuliah terus kerja dan jadi CEO hot muda dan ganteng yang bikin semua cewek cewek kelepek klepek. Termasuk tante seksi ini.’


Anha meremas roknya mengingat ucapan Sean yang ternyata tidak main-main itu.


"Em... Saya pikir pikir lagi, deh, Pak. Saya nggak bisa jawab sekarang. Kalau emang besok sabtu saya ada waktu luang. Saya bakalan usahain buat ngajak Sean jalan jalan untuk yang terakhir kalinya."


Setelah percakapan itu selesai. Anha pamit kepada Pak Hans untuk kembali ke ruangannya lagi.


Kenapa Sean tidak memberitahunya kalau dia akan pergi?


"Saya cuma pengin keponakan saya bahagia. Tapi kalau kamu nggak bisa juga nggak papa. Maaf, ya, kalau saya berlebihan. Tapi walaupun anak itu kelihatannya di luar ceria, aslinya dia kesepian dan butuh perhatian. Saya mewakili dia minta maaf, ya, kalau seumpama dia selama ini nyusahi kamu terus," kata Pak Hans panjang lebar. Anha mengangguk.


Setelah itu dia berjalan ke luar.


Entah mengapa kata itu mengiang ngiang di telinga Anha.


‘Aku rindu banget Tante sama Mama. Dari kecil aku nggak pernah lihat mama dan nggak pernah ngerasain kasih sayang papa juga.’


Wajah Anha murung. Ada rasa kasihan di hatinya.


‘Aku dari kecil tinggal sama Oma, Tante. Sama koko juga.Tapi koko orangnya sibuk, dia lebih sering ngirimi aku uang tabungan per bulannya,’ kata Sean kala itu sambil duduk bersama Anha di tepi danau dengan sorot mata lurus memandang ke depan sambil melemparkan batu kerikil kecil sampai membentuk tiga lompatan di air danau.


‘Ya gimana lagi. Aku kan anak dari hubungan gelap papa sama mama. Papa pejabat, papa takut kalau nama baiknya kecoreng gara gara aku, akhirnya papa nggak ngeakui aku sebagai anaknya dan hak asuhku jatuh ke Koko Hans tapi aku dirawat sama Oma sejak kecil karena Tante Lina—istri Pak Hans—iri sama aku da takut kalau anaknya kesaing. Terus habis itu mama kena gangguan mental karena ditinggal papa dan papa yang nggak mau tanggung jawab sama sekali, lanjut Sean lagi.


Anha mengerti dengan betul apa yang dirasakan oleh Sean.


Bagaimanapun Anha juga pernah mengalami kekurangan kasih saying. Kesepian, pelarian dengan cara berbuat nakal, rindu dengan mama. Mengingikan kasih sayang dari orang tua.


Anha memasuki ruangannya dengan wajah yang kusut dan sedih. Dia mau menemani Sean untuk jalan jalan dan memberikan satu hari yang paling bahagia dan paling berkenang bagi anak itu.


Agar ketika anak itu pergi, dia akan pergi dengan perasaan bahagia. Toh bagaimana pun Sean sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.