After Marriage

After Marriage
Maukah Kau Menikah Denganku?



“Um… Hasan… Sudah jam setengah sembilan lebih. A-aku boleh pulang, nggak?” tanya Anha karena tidak enak juga berlama lama di apartemen Hasan sampai semalam ini. Anha juga takut kalau mereka akan khilaf lagi nanti.


Hasan terkekeh. Suasana sudah mulai mencair lagi. Kenapa juga Anha meminta izin kepada Hasan akan hal itu. Baiklah. Ini sudah terlalu malam. Masih ada hari besok lagi. Hasan akan mengantarkan Anha pulang sekarang. Tidak enak mengajak anak gadis orang lain pulang malam malam. Takut menajadi bahan pembicaraan tetangga yang julid juga.


Hasan mengangguk, dia berdiri dan mengekori Anha yang berjalan di depannya tersebut.


Cantik, tinggi, sopan, attitude-nya baik. Apa yang kurang dari wanita anggun yang berada di depannya ini? Anha bagaikan bunga mawar yang memesona. Semua lelaki sangat ingin memilikinya. Tak terkecuali Hasan.


Hasan tersenyum, bukannya ini moment yang tepat untuk saling mengikat.


Ikatan jani suci untuk sehidup semati dengan Anha.


Tangan Hasan bergerak masuk ke dalam kantung celannya—mengambil barang yang sedari tadi disimpannya. Bahkan dari sore tadi sudah berada di kantung celananya. Hanya mengunggu moment yang pas saja seperti ini.


Ketika mereka akan sampai di pintu depan, Hasan memanggil Anha membuatnya berhenti sejenak dan menoleh ke arah belakang.


“Anha.”


“Ya?”


Hasan membuka kotak beludru kecil berwarna merah yang menampilakan cincin emas dengan permata di bagian tengahnya tersebut membuat Anha hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena tidak percaya.


“Will you marry, Me?” kata Hasan sambil tersenyum bahagia kepada wanitanya tersebut. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanianya mengucapkan empat kata tersebut setelah berhari hari mencobanya di depan cermin sebagai latihan.


Anha masih terdiam—karena masih syok. Dia tidak percaya dengan ini semua. Apakah ini semua mimpi?


Dia kira Hasan tadi hanya memintanya sebagai pacarnya saja. Tapi ternyata Hasan menginginkan pernikahan dengan dirinya.


Hasan melamarnya. Ya Tuhan!


Tentu saja Anha bahagia, tentu saja Anha mau! Orang yang selama ini diam diam disukainya mengajaknya menikah.


Hasan tersenyum dan melepaskan cincin tersebut dari kotak kecil beludru itu. Dia menyentuh tangan kiri Anha dan hendak menyematkan cincin indah itu di jari manis pujaan hatinya itu.


Anha gemetar. Tubuhnya terasa dingin. Antara percaya dan tidak percaya sama sekali dengan ini semua.


Ini terlalu cepat… sangat cepat malahan.


Tapi… ada pikiran lain yang terbesit.


Hasan belum tahu status Anha yang sudah pernah menjadi istri orang lain alias seorang janda.


Dia tidak tahu apakah Hasan bisa menerima statusnya itu atau tidak. Lalu apakah nanti keluarganya Hasan bisa menerimanya atau tidak.


Ditambah lagi… apa yang akan terjadi jika Hasan mengetahui kalau ternyata dulu alasan Anha bercerai dengan manta suaminya karena Ikram kecewa dengan Anha atas masa lalunya karena tidak perawan?


Tanpa terduga sama sekali ketika lingkar cincin itu hendak masuk ke dalam jari manis Anha. Anha menarik tangannya dan menunduk ke bawah membuat Hasan tidak percaya dengan hal barusan.


Apa yang terjadi?


Anha semakin memperdalam tundukannya. Tangannya mengepal di depan dada karena merasa sesak. Air mata yang semula menetes karena rasa haru atas Hasan melamarnya kini berubah menjadi air mata karena takut.


“Kenapa lagi, An?”


Kenapa respons Anha sekarang berubah? Bukannya tadi dia menerima pinangannya? Hasan benar benar tidak mengerti akan semua ini.


“Ha—Hasan. A—aku…”


Lidah Anha terasa kelu. Susah untuk berucap.


“Aku…”