After Marriage

After Marriage
Ingin Cepat Cepat Menikah Saja



Hasan menelan ludahnya. Apa yang harus dia lakukan? Entah mengapa sekarang dia merasa agak ragu.


“Kenapa? Kamu nggak mau, ya, ngajak aku buat ketemu sama ortumu?” tanya Anha dengan wajah sedih dan penuh harap kepada kekasihnya tersebut.


“Bukannya kemarin katanya kamu mau ngajak aku buat ke rumahmu, ya? Kok, sekarang kamu kayak nggak mau gitu, sih?” tambah Anha kembali.


Bukan begitu. Sebelumnya Hasan merasa biasa biasa saja ketika hendak mengajak Anha untuk ke rumahnya karena Hasan belum tahu jika ternyata mantan mertua Anha begitu tidak menyukainya.


Apa tidak apa apa jika Hasan mengajak Anha untuk ke rumahnya? Tapi… Papa Hasan tidak terlalu menyukai Anha. Alasannya karena status Anha yang jandi. Papa bilang, masih banyak lagi gadis di luar sana, lalu kenapa juga Hasan menikahi bekas istri orang lain.


Bagaimana jika nanti Anha sakit hati jika mengetahui ternyata Papanya tidak menyetujui pernikahan mereka? Ya, walaupun sebenarnya Hasan tidak terlalu peduli mengenai keputusan papanya, sih.


Hasan menyentuh kepala Anha.


“Bukannya aku nggak mau ngajak kamu ke rumah. Tapi di antara orang tuaku. Papaku yang kayaknya agak nggak setuju sama pernikahan kita.”


Anha terdiam mendengar hal tersebut. Hanya mampu menggigit bibir bawahnya.


“Aku sendiri nggak terlalu peduli, sih, sama keputusan Papaku. Walaupun kemungkinan terburuknya nanti Papa nggak setuju sama kamu pun aku bakalan tetep merjuangin kamu dan nikahin kamu.


Hasan melihat Anha yang semakin cemas saja. Kemudian Hasan mengeratkan remasaanya pada jemari Anha.


“Yang aku khawatirin cuma kamu. Ngelihat kamu yang kayaknya trauma sama mertuamu malahan hal itu buat aku ragu buat bawa kamu ke ortuku, An. Kamu yakin mau ke rumah?” tambah Hasan sambil menatap Anha dari di sebelahnya itu.


Anha masih diam saja. Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau dia juga nantinya tetap akan menemui orang tua Hasan, bukan? Jadi… Anha pikir lebih cepat maka akan lebih baik lagi.


Apalagi mengingat kata kata Ikram yang amat mengerikan itu membuat Anha bergidik ngeri saja.


‘Kalau aku nggak nikah sama kamu. Maka lelaki manapun juga nggak boleh nikah sama kamu, An.’


Benar keputusan Anha. Semakin cepat dia menikah dengan Hasan maka akan semakin baik.


Anha memegang lengan Hasan dan menatapnya dengan saksama.


“Aku nggak peduli Papa kamu suka apa enggak sama aku. Aku cuma pengin kita cepet cepet nikah. Dan gimana kalau pernikahan kita di percepat aja? Jadi bulan depan gitu?”


Hasan cukup terkejut dengan ucapan Anha barusan. Dulu saja Hasan meminta supaya pernikahan mereka dipercepat Anhalah yang tampak ragu. Namun sekarang malahan Anha ingin pernikahan mereka dipercepat.


“Kenapa harus dipercepat?” tanya Hasan Karena penasaran.


“Kamu nggak mau bawa aku ke ortumu? Kamu nggak cinta sama aku dan nggak pengin supaya kita cepet cepet nikah?” desak Anha kini mulai kesal sendiri tidak jelas. Sepertinya dia sedang terkena mood swing.


Hasan memijit dahinya. Bukan itu maksud Hasan.


“Kamu minta aku nikahin kamu sekarang pun aku bakalan nikahin dan ajakin kamu ke KUA, kok.”


Pipi Anha memerah mendengar hal tersebut. Meskipun itu bukan kalimat gombal, namun cukup manis juga terlebih Hasan mengucapkannya dengan sungguh sungguh.


“Tapi masalahnya kenapa kamu terkesan cepet cepet kayak gitu? Aku cuma penasaran sayang sama alasannya.”


Kini rasa kesal Anha sudah mulai mereda.


Sudahlah, lebih baik Anha mengatakan kerisauannya saja. Sambil ragu ragu dan jantung yang berdegub kencang. Akhirnya Anha mengatakan…


“Aku cuma takut aja kalau seumpama mantan suamiku--Ikram--gangguin hubungan kita.”


tbc..