After Marriage

After Marriage
Ingin Jujur (2)



“Ikram mantan suami aku, San.”


"Maksud kamu?" tanya Hasan kembali kepada Anha, dia masih belum paham dengan ini semua.


Tidak mungkin jika Pak Ikram—rekan bisnisnya tersebut adalah mantan suami dari Anha.


“Iya, aku nggak mau nutup nutupi ini semua lagi. Lebih baik kamu tahu itu semua dari mulut aku sendiri daripada tahu dari orang lain.”


Hasan mengeryitkan dahi, “Kamu serius?”


Anha menganggukkan kepalanya.


“Iya.”


Lengang sejenak di antara mereka berdua, hanya embusan dari angin malam yang sesekali menerpa dan membuat dinginnya malam merambat.


Otak Hasan masih mencoba mencerna ini semua.


Tapi tunggu dulu, kalau dipikir pikir lagi, tidak mungkin juga Anha berbohong kepada dirinya, ini bukan April Mop. Wajah Anha juga kusut, mana mungkin Anha sedang bercanda.


Tidak mungkin juga Anha sedang mengarang ngarang cerita agar membuatnya cemburu sampai seperti itu.


Jika Anha mengatakan sedemikian rupa, berarti artinya iya. Lagi pula Anha cantik dan sangat magnetik, jadi tidak menampik apabila Pak Ikram sampai suka kepadanya.


“Kamu bercanda, kan, An?” ulang Hasan untuk kesekian kalinya.


Anha menggeleng. Hasan harus tahu semuanya sekarang.


"Ikram mantan suami aku, San. Maaf aku baru berani cerita ke kamu sekarang. Maaf banget timmingnya nggak tepat kayak gini. Aku Cuma mau jujur sama kamu. Itu aja."


Raganya sudah lelah menyembunyikan ini semua. Dan anehnya Ketika Anha sudah mengatakan itu semua, ada rasa lega yang teramat sangat di relung hatinya. Seolah beban berat itu sudah terangkat begitu saja.


Sekarang tinggal dari pihak Hasan dan apa responsnya setelah mengetahui ini semua. Hasan terdiam, ekspresi wajahnya datar, sulit untuk Anha tebak. Hasan mengerjabkan mata. Tapi benar juga. Tadi ketika Anha menjabat tangan Pak Ikram terlihat sangat tegang, melamun sesaat, dan agak ketakutan pada awalnya.


Anha yang semula dari rumah ceria kini sekarang pun moodnya juga berubah. Dan Anha lebih memilih menyendiri di sini.


Sebenarnya Hasan dari dulu penasaran dengan kehidupan masa lalu Anha, tapi dia tidak berani bertanya lebih lanjut lantaran Anha sendiri sudah memberikan syarat nomor tiga kepadanya jikalau Hasan tidak boleh menanyai dirinya tentang masa lalu Anha. Lagi pula Hasan paham, jika sudah waktunya, pasti Anha yang akan menceritakan sendiri kepada dirinya tanpa diminta sekalipun. Seperti saat ini contohnya.


"Mau cerita?" tanya Hasan dengan nada pelan, dia tidak ingin membuat Anha semakin tertekan. Dia Ingin Anha rileks sampai menumpahkan isi hatinya sendiri tanpa paksaan sama sekali.


"Kalau aku cerita sama kamu… Kamu nggak bakalan marah, kan, sama aku?" tanya Anha merasa agak ragu. Dia pernah membaca di internet jika pembahasan seseorang dengan mantan kekasihnya itu akan menimbulkan reaksi sangat sensitive kepada pasangan kita.


Tapi, kan, beda cerita dengan Anha. Mereka akan menikah. Kejujuran dalam rumah tangga adalah kunci.


“Aku nggak bakalan marah, kok. Bukannya aku juga punya hak buat tahu itu semua, ya?”


Hasan tersenyum lembut, walau awalnya dia terkejut, tapi dia tidak marah akan hal tersebut.


"Nggak akan marah, kok," ulang Hasan menyakinkan Anha.


Anha menatap kedua netra Hasan yang berwarna hitam tersebut secara bergantian. Mencari rasa aman. Mencari rasa kepercayaan.


Anha menghirup udara dalam dalam, kemudian mengembuskannya melalui mulutnya dengan pelan. Bahkan tanpa terasa rasanya telapak tangannya berketingat saking tegangnya.


Kini… Anha mulai memberanikan diri untuk cerita semuanya dari awal, semuanya, tanpa ada yang perlu ditutup tutupi lagi.