After Marriage

After Marriage
Makan Malam Dengan Calon Mertua



Aku hanya mampu memanyunkan bibirku saja.


Mama terdiam sejenak, bibir mama melengkung mengukir senyuman ketika menatap diriku ini yang berdiri kaku di depannya. Kemudian Mama mendekatiku dan menangkup kedua pipiku serta mengatakan...


"Anak Mama ini beneran cantik banget. Mirip banget kayak Mama waktu muda dulu," kata Mama dengan bangga. Aku hanya terdiam sambil meringis. Ujung ujungnya mama memuji dirinya sendiri.


"Yuk, buruan berangkat," kata Mama sambil menggenggam tanganku. Aku mengangguk. Ternyata taksi pesanan Mama sudah siap menunggu di depan gerbang rumah kami.


Aku dan mama mulai memasuki taksi tersebut. Kemudian taksi tersebut mulai melaju menerobos jalan kota untuk sampai ke restoran tempat Mama dan teman mama bertemu.


Tetapi tadi sewaktu di perjalanan mama dengan diriku sudah berdiskusi bahwa malam ini Mama hanya bermaksud mengenalkanku dengan laki laki dari temannya tersebut.


Kalaupun natinya aku tidak mau, maka aku sah-sah saja menolaknya karena memang tidak ada paksaan sama sekali di sini.


Maka mama mengatakan bahwa mama tidak akan memaksaku. Semua keputusan seratus persen kembali kepadaku.


Aku mengangguk dan setuju akan hal tersebut. Setidaknya nasibku tidak seperti kisah Siti Nurbaya di zaman modern ini. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu.


Meskipun mama menggodaku dan mengatakan bahwa lelaki tersebut tampan, kaya, mapan, dewasa dan kata-kata lainnya yang bersifat mempromoskan calon menantunya itu kepadaku tetapi aku tetap pada pendirianku bahwa malam ini aku masih belum mau membuka hati untuk orang baru.


Tunggulah satu atau dua tahun lagi sampai aku mau menerima orang baru. Sampai aku dapat melupakan kenanganku bersama Ikra--


Aku menggelengkan kepalaku, kemudian aku memukul dadaku yang entah mengapa mendadak terasa sesak ketika aku mengingat lelaki tersebut meskipun hanya sekelebat saja.


Bukan saatnya untuk memikirkan lelaki tersebut, Anha! Kenapa sudah setengah tahun lamanya aku hidup sendirian tetapi sering kali aku masih saja teringat oleh 'mantan suamiku itu'?


Yah, baiklah, seseorang bisa dimaafkan, tapi rasanya sangat sulit untuk dilupakan. Itulah kenyataannya.


Bukannya aku tidak dapat move on. Hanya saja aku masih perlu waktu lagi untuk melupakannya dari hidupku ini.


"Yuk, An. Udah sampai ini," kata Mama ketika kami ternyata sudah sampai di depan restoran yang kami tuju. Aku mengangguk kemudian memegang tangan Mama ketika kami sudah turun dari taksi.


Ketika aku dan mama mulai berjalan memasuki restoran ini. Banyak mata yang beralih tertuju melihat diriku. Mereka seolah menatapku dengan tatapan penuh memuja.


Sesekali aku menundukkan pandanganku karena aku malu di tatap oleh banyak pasang mata seperti itu.


Kalau boleh jujur, memang sejak selepas aku bercerai dengan Ikram. Banyak lelaki yang mulai mendekatiku. Bahkan Badru--anak Pak RT di kompleks kami terang- terangan sering main ke rumahku hanya karena bermaksud ingin mempersunting diriku ini.


Bahkan bulan kemarin Badru si lelaki gila itu berani-beraninya melamar diriku, tetapi aku menolaknya. Dan yeah, pada kenyataanya dia masih saja tidak mau meyerah dan terus saja main ke rumahku tanpa absen satu hari pun padahal aku memang tidak memiliki rasa kepadanya.


Itulah alasanku mengambil pekerjaan part time di toko kue tersebut meski pun gajinya amat sedikit dan tidak sebanding dengan tenaga yang aku keluarkan tetapi itu sangat membantuku untuk sejauh mungkin dari kejaran Badru selama ini sambil menunggu panggilan dari beberapa lamaran yang sudah kumasukkan ke beberapa perusahaan yang sudah kusinggahi.


Ada juga Pak Bima, atasanku di perusahan tempatku bekerja dulu yang sudah datang ke rumahku untuk melamarku. Tapi aku tidak mau. Alasannya? Karena usia kami terbilang cukup jauh. Dia sudah kepala empat. Lebih tepatnya dia sudah berumur emat puluh enam tahun.


Apalagi Pak Bima itu orangnya genit sekali dengan karyawan perempuan. Dia suka kedap-kedip sana sini. Bisa bisa aku diselingkuhi jika aku mau menikah dengan dirinya. Aku sudah kapok makan hati dan sudah merasakan pedihnya perselingkuhan yang sudah dilakukan oleh mantan suamiku. Tidak perlu repot-repot untuk mengulanginya kedua kali.


Dan masih banyak lagi lelaki yang mencoba untuk mendekati diriku ini namun aku memang sering mengabaikan mereka.


Entah tujuan mereka hanya sekadar berkenalan ataupun untuk menjalin hubungan yang serus denganku. Namun kebanyakan aku tolak. Bukan karena aku sok kecantikan atau apalah. Bukan pula karena aku sok pemilih.


Hanya saja...


Aku masih belum siap.


Atau... Apakah menurutmu aku ini trauma dengan pernikahanku yang dulu sehingga aku sampai saat ini masih saja sulit untuk membuka hati bagi orang yang baru?


Mama menyikut lenganku pelan, kemudian Mama menunjuk ke tempat duduk temannya yang bernama Bu Asih--alias 'mamanya si calonku tersebut' dengan menggunakan gerakan dagu.


Aku mengikuti arah tatapan mata Mama dan kini aku mendapati seorang wanita paruh baya dengan rambut yang diikat rapi ke belakang nampak sedang tersenyum begitu teduh ketika beliau melihat kedatangan kami berdua.


Bu Asih benar-benar tamapak anggun sekali. Rasanya auranya terpancar sampai sini.


Aku benar-benar kapok mendapat Mama mertua sejahat Tante Erin. Benar benar makan hati sekali. Besok besok lagi, kalau aku hendak menikah, tetapi tenyata respons dari calon mama mertuaku tidak bersahabat kepadaku, maka kuputuskan untuk batal menikah saja daripada pernikahan keduaku nanti aku harus ketiban sial mendapatkan mertua yang galaknya bukan main seperti si lampir itu.


"Duh, maaf, ya, Jeng, kami telat. Ini anak saya dandanya emang lama banget. Kan, jadinya kasihan Jeng Asih pasti udah nungguin kami lama banget. Sekali lagi maaf, ya, Jeng," kata Mama sambil menyalami Tante Asih tersebut serta bercipika-cipiki.


"Anha, Tante," kataku ketika menyalaminya sambil mengenalkan diri.


"Cantik banget, ya, anakmu, Jeng," puji Tante Asih kepadaku membuat pipiku memanas, bersemu merah.


"Udah nunggu lama, ya, Jeng?" kata Mama berbasa-basi.


"Ah, nggak, kok, Jeng. Saya juga baru dateng. Jangan sungkan kayak gitu, ah. Ayo silakan duduk, Jeng," kata Tante Asih dengan begitu ramahnya.


Aku dan mama mulai duduk di kursi yang letaknya berhadapan dengan tempat duduk Tante Asih.


Ternyata sudah nampak pesanan makanan tertata rapi atas di meja ini.


Aku hanya mampu tersenyum meringis, bohong sekali jika Tante Asih baru datang ke sini ketika melihat makanan tersebut di atas meja. Tapi syukurlah Tante Asih dapat memaklumi keterlambatan kedatangan kami.


Kami mulai menikmati hidangan tersebut. Enak. Setara dengan harganya yang terbilang cukup mahal ini mengingat restoran ini kelasnya menengah ke atas.


Selama acara makan malak ini. Mama dan Tante Asih, lah, yang malahan sibuk mengobrol bersama.


Aku hanya diam saja sambil menikmati makanan ini sedangkan mama dengan Tante Asih masih saja sibuk mengorol ngalur ngidul seperti kebanyakan emak-emak yang sudah lama tidak bertemu. Semua hal dibicarakannya.


Bahkan aku berani bertaruh mungkin Mama saat ini sudah lupa akan keberadaanku yang saat ini berada di sampingnya karena saking keasyikan ngobrol dengan Tante Asih.


"Loh, Jeng. Anaknya yang mau dikenalin sama anak saya mana? Nggak sabar saya pengin kenalin dia sama si Anha. Lagi di kamar mandi, ya?" tanya Mama kepada Tante Asih.


Aku memelankan gerakan mengunyahku. Hmm... Benar juga, ya...


Aku juga daritadi juga tidak melihat keberadaan lelaki tersebut yang di gadang gadang akan menjadi calonku itu.


Kalaupun saat ini dia sedang ke kamar mandi. Tidak mungkin juga bukan dia ke belakang selama ini?


Tante Asih tampak gugup, sesekali Tante Asih menggaruk kepalanya.


"Umm... Anu, Jeng. Tolong di maafin, ya. Anak saya ternyata nggak bisa dateng karena memang acara ini, kan, mendesak banget. Kita, kan, memang niatnya kita ngerencanain ini diem- diem dan nggak ngasih tahu dulu ke mereka jauh-jauh hari. Lah, nggak taunya ternyata jadwal anak saya bentrok sama acara makan malam ini, Jeng. Dia ternyata ada penebangan ke luar negeri buat ketemu sama investornya. Maaf, ya, Jeng. Jadi nggak enak sayanya," kata Tante Asih merasa tidak enak kepada kami.


Mama tersenyum dengan lembut kemudian menggenggam tangan kanan Tante Asih yang berada di atas meja.


"Nggak apa apa kok jeng. Saya bisa memaklumi itu. Kan, kita bisa makan malam lagi di lain waktu."


Sedangkan aku yang di sini mendengar percakapan Mama dan Tante Asih hanya mampu tersenyum, bukan tersenyum karena sedang berbasa basi namun karena aku sedang senang bukan main karena dia tidak ada di sini!


Yey! Hari ini aku tidak harus bertemu dengan dirinya!


Tetapi jauh di lubuk hatiku, aku juga menyimpan sedikit rasa kesal kepada si lelaki itu. Kenapa juga dia sok kegantengan sekali sampai tidak mau datang menghadiri acara makan malam ini?


Benar-benar tidak memiliki sopan santun sama sekali! Apa dia tidak menghargaiku dan Mamaku yang susah payah datang menghadiri acara makan malam ini sedangkan dia tidak hadir?


Apa dia tidak menghargaiku sebagai perempuan yang susah payah berdandan untuk lelaki antah berantah itu sedangakan dia malahan tidak hadir di acara makan malam ini?


Aku mengiris daging steik ini dengan gerakan kasar. Ini kali pertamanya aku merasa kesal bukan main dengan seseorang yang belum pernah aku temui sama sekali.


Mama dan Tante Asih melongo menatapku yang terlalu bersemangat mengiris daging tersebut, ralat, bukan bersemangat tapi lebih tepatnya aku sedang kesal bukan main, tahu!


"Maaf, ya, Jeng. Kayaknya anak ini kesel karena nggak ketemu sama calon imamnya, hehe," kata Mama sambil bercada dan disambut dengan hangat oleh gelak tawa Tante Asih.


Hah!