
Hari ini Anha memilih mengambil libur saja. Pun sama, Hasan juga ikutan mengambil libur. Mereka memiliki alasan masing masing. Padahal aslinya memang janjian karena nanti seharian mereka akan pergi untuk mengurus keperluan menikah.
Mama terlihat tersenyum sendiri sambil melipat baju setelah di setrika di ruang tengah. Anha yang sedari tadi ditatap dengan tatapan seperti itu merasa tidak nyaman saja. Agak kesal juga.
“Jadi. Kamu akhirnya milih Hasan atau Hamkan. Nih.”
Anha mengembungkan pipinya sebal. Tuh, kan, Mamanya mulai lagi.
Sejak tadi pagi memang Mamanya ini hobi sekali meledeknya karena semalam Anha diantar pulang oleh Hamkan.
Anha kala malam itu benar benar tidak sadar sama sekali. Ketika dia terbangun ternyata dia tidur di pangkuan Hamkan dan saat itu Hamkan sedang sibuk dengan ponselnya.
Jelas saja Anha malu karena sampai ketiduran lama sekali, apalagi di paha Hamkan pula. Ketika bangun buru buru Anha melihat paha Hamkan yang dibuatnya sebagai bantal untuk tidur itu. Untung saja tidak ada peta basah di sana.
Anha mengucapkan terima kasih dan buru buru keluar dari dalam mobil Hamkan ketika mengetahui kalau ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Anha.
Hamkan yang melihat Anha bahkan sampai lari dari gerbang sampai pintu rumahnya karena malu hanya terkekeh geli melihat tingkah lucu tersebut.
Kenapa juga anha harus lari dan merasa malu seperti itu? Padahal Hamkan saja biasa saja akan hal itu.
Wanita itu… manis juga.
Dan bodohnya lagi. Ketika Pagi hari tiba. Anha dengan polosnya menceritakan kejadian semalam kepada Mamanya. Ya, jelas saja Anha diketawai habis habisan.
“Mama, sih, terserah kamu aja, An. Sama Hasan juga oke. Sama anaknya Jeng Asih juga oke oke aja. Toh, mereka kayaknya juga baik baik semua, kok, anaknya.”
Anha bersedekap dada dan menggelengkan kepalanya kuat.
Ujian orang yang hendak menikah itu banyak sekali. Bisa ujian yang berasal dari finansial pasangan yang kurang dan kesusahan menabung untuk biaya pernikahan.
Ujian berupa tidak direstui calon kedua orang tua.
Ada juga ujian berupa mantan yang tiba tiba kembali.
Dan yang terakhir adalah ujian berupa sudah lama sendiri tapi menjelang pernikahan laris manis seperti kacang rebus dan disukai sana sini.
Yang paling kuatlah menghadapi ujian tersebut maka yang akan menang dan berakhir di pelaminan.
“Nggak, Ma. Anha cuma suka sama Hasan seorang. Lagian kami juga mau menikah,” kata Anha membulatkan pilihan pada hatinya sambil berjalan ke arah rak sepatu yang berada di dekat pintu masuk rumah.
Hari ini dia akan pergi dengan Hasan untuk memesan cincin pernikahan dan berbelanja beberapa barang kebutuhan mereka setelah menikah nanti.
“Hati hati.”
Anha menunggu Hasan menjemputnya di depan pagar rumahnya. Belum lama menunggu mobil Hasan sudah terlihat.
Anha memberikan senyuman terbaik kepada calon suaminya kelak tersebut.
“Pagi,” sapa Anha sambil membungkukkan punggungnya dan menyapa Hasan melalui jendela mobilnya.
“Mbaknya pesen grab, ya?” goda Hasan sambil membukakan pintu mobilnya dengan pelan.
Entah mengapa Anha bisa terkekeh dengan lelucon garing dari Hasan tersebut.
Kini mobil Hasan membelah jalan kota dan menuju ke salah satu tempat toko perhiasan untuk memesan cincin kawinnya dengan Anha.
Sesampainya di sana. Setelah berdiskusi dengan pegawai toko jika mereka hendak memesan cincin untuk penikahan. Barulah Anha dan Hasan juga diperlihatkan katalog model cincin dan hendak memilih yang mana.
Pilihan Anha jatuh ke cincin kawin emas polos yang diameter lebarnya tidak terlalu lebar tapi terdapat ukiran nama pasangan masing masing di dalamnya.
Hasan mengeryit mengetahui pilihan Anha kenapa jatuh ke cincin model seperti itu.
“Nggak papa, sih. Aku suka aja, simple. Kamu nggak suka?” tanya Anha kepada Hasan.
“Suka, kok. Aku ngikut aja.”
Anha mengangguk. Pegawai tersebut mencatat pesanan Anha dengan detil.
“Abis ini kita mau kemana lagi?” tanya Anha kepada Hasan sambil membiarkan lingkar jari manisnya diukur diameternya oleh pegawai toko menggunakan benang. Pegawai toko tersebut dengan gesit mengukur lalu mencatatnya dalam kertas coretan.
“Terserah kamu. Kamu sendiri mau ke mall atau ke tempat pemesanan kebaya?”
Anha menimbang nimbang sejenak. Pilihannya jatuh ke tempat penyewaan kebaya dan nantinya barulah ke Mall.
Ketika mereka keluar dari toko periasan tersebut. Terdapat sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan. Orang itu ternyata sudah mengikuti Anha dan Hasan sejak tadi.
Dari dalam mobilnya, orang itu mencengkeram erat stir mobilnya dan mengeratkan rahangnya kuat kuat. Dia terbakar cemburu dalam hatinya.
Orang tersebut tak lain adalah....