After Marriage

After Marriage
Dia Lagi (2)



Ikram menatap wanita yang sangat dicintainya itu, dia tersenyum, mata cokelat indah milik wanita itu benar benar seperti candu. Membuatnya tergila gila.


Kenapa juga Ikram sampai terlambat untuk jatuh cinta seperti ini?


Tapi tak apa, bukannya setiap orang memiliki kesempatan kedua? Toh, Anha dengan kekasihnya itu belum resmi menikah, bukan? Jadi selama janur kuning belum melengkung tidak ada salahnya, kan, jika ia berjuang?


Yang sudah menikah saja bisa bercerai. Apalagi yang masih rencana, coba. Apapun caranya, Ikram akan berusaha merebut kembali Anha dari pelukan lelaki tersebut, meskipun bertindak layaknya orang gila seperti ini. Dia sangat terobsesi dengan Anha.


Ikram tersenyum menyeringai, sangat menakutkan sekali di mata Anha karena Ikram yang dulu dia kenal tidak sampai berkelakuan melampaui batas seperti ini. Apalagi alasannya hanya sekadar demi seorang wanita.


Mengirinya uang puluhan juta, menanam modal pada perusahaan Hasan demi untuk bertemu dengan dirinya, menemuinya dan memperlakukan dirinya seperti ini. Ikram benar benar sudah tidak waras!


“Lepasin! Atau aku bakalan teriak!” kata Anha mengancam untuk segera mungkin dilepaskan sambil menatap tajam Ikram, namun lelaki ini tidak bergeming sama sekali. Malahan kini Ikram bergerak mendekat ke arah Anha untuk membisikan sesuatu di telingannya.


“Teriak aja. Biar semua orang sekalian tahu dan biar calon suamimu itu salah paham sama kita,” bisiknya pelan tapi sangat menakutkan bagi Anha.


“Lepasin!”


Anha meronta untuk melepaskan diri sebisa mungkin, sampai tangannya yang bebas memukul mukul lengan Ikram pun tapi hal tersebut tidak menghasilkan efek apapun karena Anha kalah tenaga.


Anha berharap Hasan menghampirinya ke sini lantaran Hasan cemas karena Anha tidak segera menuju ke ruang utama. Kalaupun tidak Hasan, siapapun tolong jauhkan dirinya dari lelaki sialan ini.


“Lepasin, aku mau pulang. Ikram…” kata Anha dengan lirih dan menunduk ke bawah serta tangannya masih menahan dada Ikram agar jarak di antara mereka tidak semakin terkikis.


Bulir bening itu pun menetes ke bawah, membasahi pipi Anha. Ikram menggelengkan kepalanya. Tidak tidak, dia tidak ingin wanitanya itu menangis lagi untuk kesekian kalinya karena ulahnya.


“Lepasin aku,” ulang Anha untuk kesekian kalinya. Namun tak dihiraukan sama sekali.


Tangan Ikram sebelah kanan bergerak untuk menyentuh pipi putih Anha, ingin mengusap air matanya yang membasahi pipinya tersebut namun Anha memalingkan wajah ke samping. Tidak mau. Tidak sudi. Sedangkan tangan kiri Ikram masih menahan tubuh Anha agar di posisi semula menempel pada dinding koridor agar Anha tidak pergi, namun tidak menekan bahu Anha sekuat tadi ketika melihat wajah Anha nampaknya agak kesakitan.


Hasan, please cepet datang,’ batin Anha penuh harap dalam hati.


Kali ini, Ikram akan mengungkapkan isi hatinya kepada Anha.


“Anha. Kamu mau nggak balikan lagi sama aku? Aku pengin rujuk.”


Mendengar hal tersebut membuat pandangan Anha yang semula memalingkan wajah ke samping kini menatap lurus ke arah Ikram. Apa tadi dia salah dengar jika Ikram menginginkan untuk untuk kembali bersama lagi.


“Please, An. Kasih aku kesempatan lagi. Aku pengin balikan sama kamu dan aku janji sama kamu kalau aku bakalan memperbaiki kesalahanku yang dulu, Anha.”


Anha hanya terdiam tidak dapat berucap apa apa. Ternyata dia Anha tidak salah dengar.


“Mending kamu lepasin aku, deh. Kamu, kan, udah punya istri. Mau kamu kemanain Dewi, hah!”


Anha sudah kesal, lelaki ini memang gila. Kenapa juga cengkeraman lelaki ini malahan semakin erat saja ketika dia meronta.


Tapi kata kata selanjutnya yang terlontar dari mulut Ikram membuat Anha tidak habis pikir lagi.


“Kalau kamu mau. Aku bakalan cerein Dewi, An. Demi kamu aku bakalan ngelakuin itu.”


 


 


***