After Marriage

After Marriage
Satu Minggu Sebelum Pernikahan



Tidak terasa pernikahan Anha dengan Hasan hanya menunggu itungan jari saja.


Tinggal menunggu satu minggu lagi, maka mereka akan sepenuhnya SAH menjadi suami istri di pelaminan nanti.


Anha merasa sangat senang, meskipun konsep pernikahannya kali ini tidak semewah seperti pernikahannya dengan Ikram, tetapi tak apa, Anha tetap senang.


Bukannya lebih baik menikah biasa biasa secara sederhana dengan pria yang tepat yang amat mencintai kita daripada menikah dengan amat mewah sekali tetapi dengan pria yang salah dan akan menyakiti hati kita, ya, untuk apa, coba?


Meskipun masih satu minggu lamanya, tetapi persiapan pernikahan mereka sudah hampir selesai. Mungkin sudah tujuh puluh lima persen beres.


Gedung sudah siap, semua keperluan sudah siap. Hanya tinggal bagian akhir yaitu mengirimkan sisa undangan kepada beberapa sanak saudara dan sahabat.


Konsep pernikahan sederhana tetapi penuh arti dan hanya dihadiri orang orang terdekat saja.


“Lama banget, sih, beb,” kata Anha sambil menopang dagunya menggunakan tangan kanannya sendiri.


Saat ini Anha sedang berada di apartement milik Hasan.


Anha duduk santai di sova ruang tamu Hasan dan pandangannnya menatap lurus ke punggung Hasan yang saat ini sedang mengenakan jam tangannya yang diambilnya dari lemari kecil di sudut ruangan.


Rencananya hari ini Anha akan jalan jalan sebentar ke mall untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga yang sisannya belum terbeli.


Hari ini mereka juga berencana untuk pergi ke beberapa rumah sahabatnya seperti ke rumah Mai dan Lidya serta Sisil untuk sekalian membagikan beberapa sisa undangan pernikahan kepada mereka.


“Serius jadi ke Mall?” tanya Hasan tanpa menoleh sama sekali ke Anha karena sedang sibuk mengancingkan lengan kemejanya sendiri.


Anha mengiyakan dan mengangguk atas ucapan Hasan tersebut.


Entah mengapa akhir akhir ini Anha dan Hasan lebih sering pergi ke Mall. Sekalian beli peralatan rumah tangga yang belum ter-check list pikirnya.


Bahkan lihat saja di sisi dapur minimalis milik Hasan yang dulunya kosong kini sudah hampir penuh dengan peralatan rumah tangga yang nantinya akan digunakan Anha untuk memasak.


Kulkas Hasan juga sudah tidak kosong melompong lagi.


Tetapi rasanya Anha masih kurang saja dalam mengoleksi perabotan rumah tangga.


Hasan ingin segera mungkin mengambil kredit cicilan rumah tetapi Anha mengatakan kepadanya untuk tidak usah terburu buru dahulu.


Lebih baik mengambil kredit rumah ketika nanti dia hamil saja, sayang uangnya.


Toh, apartement ini hanya ditinggali dua orang saja. Itu sudah lebih dari cukup.


Anha hanya tidak mau membebani suaminya itu dengan menuntut ini dan itu meskipun Hasan tidak merasa terbebani sama sekali, malahan Hasan ingin menyenangkan istrinya. Tetapi atas kesepakatan bersama Hasan akhirnya menurut untuk mengambil cicilan rumah beberapa tahun lagi.


"Yuk," kata Hasan ketika dia sudah selesai bersiap.


“Udah?”


Anha tersenyum dan memasukkan kartu undangan pernikaha yang tadi sudah ditatanya ke dalam tas.


Tujuan pertama adalah ke Mall terlebih dahulu untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga lainnya, setelah itu nanti mereka akan pergi mengunjungi rumah Mai untuk sekalian memberikan undangan itu.


Mobil mereka menepi di salah satu mall dekat jantung kota.


"Kamu mau makan apa?" tanya Hasan kepada Anha ketika mereka sudah sampai di mall dan saat ini mereka sedang menaiki eskalator untuk menuju ke lantai dua.


"Terserah, kamu, sih. Tapi hari ini aku pengen makan masakan jepang, deh," kata Anha dengan manja.


“Dasar ngidam sebelum buat anak,” kata Hasan merayu sambil mencubit hidung mancung Anha membuat pipi Anha benar benar memerah karena malu.


Kemudian Anha memukul kecil bahu Hasan, “Ngawur, ih. Gimana kalau nanti ada yang denger,” kata Anha sambil memanyunkan bibirnya.


Hasan terkekeh senang dan mengabulkan permintaan calon istrinya tersebut mengingat mereka berdua sejak pagi belum makan maka kali ini Hasan akan membeli dengan porsi yang banyak.


Ketika Anha dan Hasan berjalan mencari tempat makan yang cocok, mereka berdua bertemu dengan seseorang.


Anha tidak menyangka jika dia bisa bertemu dengan orang itu di sini.


Orang itu adalah...