After Marriage

After Marriage
Makan Malam Romantis



"Buat apa cantik kalau setangah tahun dianggurin. Semua cowok aja pada nafsu lihat aku. Lha, ini suami sendiri malahan nganggurin aku," gerutuku mengoceh sendiri dengan pelan sambil memotong daging steak di piringku ini dengan gerakan kesal. Daripada menggerutu, tadi aku lebih mirip seperti seseorang yang bersumpah serapah atau pun seperti dukun yang sedang membacakan mantra untuk pelanggannya.


Ikam menahan senyum, kuyakin dia mendengar gerutuku barusan meskipun pelan.


Aku memasukan suapan pertama daging steak ini kemulutku. Mataku berbinar. Ini enak!


Masih dalam posisi menikmati makananku. Sekilas aku menengok ke sisi kanan dan kiri tempat dudukku dan mengamati ke sekitar.


Suasana di sini agak remang dengan lilin-lilin indah yang menyala menambahkan keromantisan, lilin-lilin itu juga mengeluarkan bau vanila dan aroma manis lainnya, dan tentunya menjadi satu-satunya sumber pencahayaan di sini.


Jarak tempat dudukku dan pelanggan lain cukup jauh jadi kemesraan kami tidak terganggu. Bahkan aku juga melihat ada pasangan kekasih yang saat ini sedang berciuman mesra di tengah keremangan malam. Bahkan tanpa kusadari sepertinya pipiku memerah melihatnya.


Ikram menggenggam tangan kiriku dan menatapku penuh memuja. Aku tersipu ditatap seperti itu olehnya.


Netra cokelat tersebut menatapku lamat-lamat. Pipiku memanas dan memerah penuh.


Ikram menggenggam erat tanganku.


"Makasih, ya, An, karena udah jadi istri terbaik buat aku. Makasih udah nyiapin kebutuhanku selama ini. Makasih udah ngelayani aku, masakin aku. Aku bersyukur punya istri sebaik kamu," katanya dengan sangat lembut.


Aku beryukur selama ini Ikram melihat baktiku untuknya. Tanpa kusadari sudut mataku menitikkan air mata haru.


"Aku cinta banget, An, sama kamu. Maafin aku udah sering buat kamu sedih."


Ikram menarik tanganku dan mencium punggung tanganku bak seorang Pangeran yang begitu mencintai putrinya. Aku menutup mulutku tidak percaya ternyata dia bisa seromantis ini.


"Aku cinta sama kamu, Mas," kataku pelan dan tanganku masih diciumnya.


"Aku lebih-lebih mencintaimu lagi, An."


Pipiku memerah, Ikram tertawa kemudian mencubit pipiku dengan gemas.


Kami melanjutkan kembali menyantab makanan lezat ini. Ketika kami sedang asyik makan dan bersenda gurau. Tiba-tiba ponsel Ikram yang ia letakkan di sebelah kiri tangannya berbunyi. Ikram melirik sejenak nomor telepon tanpa nama di layar ponselnya namun kini Ikram malah mengabaikannya.


Telepon tersebut berbunyi lagi untuk kedua kalinya. Kini tangan Ikram terulur mengambil ponselnya yang berada di sisi kiri tangannya tetapi malahan mematikan panggilan telepon tersebut membuat keningku mengeryit.


Kenapa malahan dimatikan?


"Kok, dimatiin, Mas? Kalau itu telepon penting gimana?"


Ikram kini malahan asyik meneruskan kembali menyantap steak yang masih tersisa setengah di piringnya.


"Telepon nggak penting, kok. Salah sambung," katanya cuek. Telepon tersebut berbunyi lagi seolah pantang menyerah untuk mengulangi panggilan tersebut.


Namun kali ini Ikram masih tampak tidak ada minat untuk mengangkatnya dan sepertinya membiarkan panggilan tersebut agar mati sendiri.


"Ya, angkat aja kali, Mas. Siapa tahu itu telepon penting dari proyek yang ada di Bandung."


Ikram masih saja cuek dan menikmati steaknya lagi hingga akhirnya telepon tersebut mati sendiri. Aku mengembuska napas kesal dan cemberut melihatnya.


Namun belum genap satu menit telepon tersebut berbunyi lagi dari nomor yang tidak dikenal itu lagi yang menghubungi.


Aku yang geram melihat tingkah acuh Ikram langsung berdiri dari kursiku kemudian tanganku terulur hendak mengambil ponsel tersebut namun Ikram sudah lebih cepat mengambilnya membuatku hanya mampu mengernyitkan dahi.


"Ck! Ganggu aja, sih!"


Ikram berdecak pelan kemudian dia berjalan agak menjauh dari tempat duduk kami lalau dia tersenyum kepadaku, mengkode hendak mengangkat telepon itu sebentar dari kejauhan. Aku tersenyum dan mengangguk lalu aku duduk kembali di kursiku.


Dari kejauhan Ikram nampak sedang berbicara dari penelepon itu. Aku tidak dapat mendengarkan apa yang saat ini sedang mereka bicarakan. Setelah selesai dengan teleponnya Ikram berjalan ke arahku dan mencium keningku sekilas, kemudian Ikram duduk kembali di kursinya semula.


"Siapa? Apa jangan-jangan telepon dari Mama?" tanyaku antusias masih takut jika terjadi apa-apa dengan si Mak Lampir itu. Ikram menggeleng dan tersenyum lembut kepadaku.


"Bukan dari Mama, kok. Tadi telepon masuk dari Aami yang nanyain keberangkatanku besok ke Bandung. Tadi dia nelpon pakai nomor baru makanya nggak aku angkat, kukira tadi telepon dari orang iseng yang salah sambung."


Aku mengangguk-anggukkan kepalaku paham. Aami adalah sekretarisnya Ikram dan mungkin saat ini dia sedang repot mempersiapkan tiket dan dokumen apa saja untuk dibawanya ketika keberangkatan Ikram.


Aku mengendikkan bahu cuek kemudian menyantap steak-ku kembali.


Kami pulang ke rumah pukul setengah sembilan malam. Aku berdiri di teras rumah untuk menunggu Ikram memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


Ketika aku sedang asyik bermain Hp, tiba-tiba Ikram mengangkat tubuhku dan menggendongku di depan ala pengantin baru membuatku sedikit memeikik kaget. Ikram menyengir kemudian aku mengalungkan tanganku pada lehernya.


Aku menatap netra cokelatnya. Selama kami menikah, aku bahkan sampai lupa bagaimana rasanya ketika dia menggendongku ala pengantin baru seperti ini. Dan kini aku merasakannya lagi.


Aku bahagia, benar benar bahagia.


Ketika dia menaiki anak tangga. Aku bahkan masih mengingat dulu tepatnya waktu kami setelah menikah aku memanyunkan bibirku dan cembrut ketika dia menghentikan gendongannya ketika Ikram meledekku jika aku terlalu berat, kemudian waktu itu kami saling kejar dan tertawa bersama.


Ikram dengan pelan menurunkanku ke ranjang.


"Loh, kok, nangis?" tanyanya ketika melihatku mengusap sudut mataku yang berair, haru mengingat kepingan memori manis di pernikahan kami. Aku menggeleng dan mengatakan tidak apa.


Ikram menekuk lututnya sehingga kini tinggi badan kami hampir sama, aku di atas ranjang sedangkan Ikram masih menekuk lulutnya di lantai. Dia menyibakkan surai anak rambutku ke belakang. Kemudian kedua telapak tangannya menangkup kedua pipiku. Setelah itu dia mencium lembut keningku cukup lama. Aku menutup mataku merasakan gelenyar hangat dari ciumannya pada keningku.


Setelah itu Ikram memelukku erat dan mengusap rambutku. Dia membisikkan kata manis di telingaku.


"I Love you, An. Aku cinta banget sama kamu. Aku nggak mau pisah sama kamu. Aku cinta kamu."


Aku mengeratkan pelukan kami. Aku benar-benar bersyukur sekarang dia bisa menerimaku apa adanya dan kembali mencintaiku lagi.


"I love you too," bisikku dengan lembut.


Setelah itu kami tidur bersama, mungkin karena jam masih terlalu dini untuk tidur maka kami yang belum mengantuk hanya ngobrol hangat bersama. Pillow talk, aku tiduran di pangkuan Ikram yang sedang mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.


Kami membahas segala hal dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Seperti membahas aku pernah curi-curi kesempatan untuk berbelanja sayuran di pasar tradisional karena harganya lebih murah dan benar-banar takut ketahuan Mama Erin, sampai membahasan yang bermutu seperti membahas hal-hal manis yang menyentuh hatiku seperti bertanya kepadanya kelak dia ingin memiliki anak perempuan atau laki-laki? Bahkan kami juga membahas tetang nama untuk bayi kami kelak.


Aku tertawa kecil, percakapan hangat sebelum tidur yang dulu pernah kuimpikan kini terkabul menjadi nyata.


Hingga akhirnya aku yang terlalu banyak bercerita ini mengantuk dan tertidur di pangkuan Ikram.


***