After Marriage

After Marriage
Detak Jantung



"Selamat ulang tahun, Sayang."


Pipiku memanas, aku yakin saat ini juga pipiku terliahat begitu bersemu merah sekali seperti kepiting rebus ketika Ikram mengatakan hal tersebut kepadaku.


Tidak pernah sekali pun aku mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'Sayang' kecuali di hari ini. Inilah yang pertama kalinya, dan pastinya aku akan mengingat hal tersebut dalam hidupku.


Benarkah Ikram benar benar ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunku?


Sungguh?


Kupikir dia lupa akan hal itu. Ya, maklumlah dia kan akhir akhir ini sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya, terlebih mengenai proyek anak cabang yang sedang ia bangun di Kota Bandung tersebut memakan waktu dan energinya begitu banyak sekali sehingga kami jarang sekali memiliki waktu bersama.


"Kamu beneran inget ulang tahunku? Aku pikir kamu lupa," kataku dengan malu malu. Ikram hanya terkekeh dan menganggukkan kepalanya, kemudian punggung tangannya tergerak membelai pipiku yang merona merah sekali seperti udang rebus saja saat ini.


"Istriku ulang tahun. Ya, masak aku lupa, sih?"


Jantungku herasa berdegub begitu cepat dari biasanya. Bahkan aku agak takut jika jangan jangan Ikram dapat mendengar detak jantungku bagaimana?


"Kan, aku udah bilang kamu nggak usah lagi pegang urusan dapur. Aku itu nggak mau lihat kamu kecapekan. Kamu itu ratu di rumah ini. Tugasku, ya, manjain kamu sepenuhnya. Kamu cukup duduk manis di ranjang atau kalau enggak ya nyiapin keperluan aku dan ngelayanin aku di ranjang aja. Paling kesel aku lihat kamu kerepotan di dapur kayak gini," katanya sambil kedua tangannya bergerak ke arah belakang pinggangku untuk melepaskan ikatan celemek bermotif bunga bunga sakura berwarna pink yang aku kenakan saat ini.


"A- Aku, cuma, pengin masakin kamu, doang, kok, Mas. Boring aku kala nggak ada kerjaan. Nggak enak juga sama Mama kamu kalau aku males- malesan," kataku menjelaskannya kepada dirinya dengan nada lembut.


Setelah itu Ikram membantuku melepaskan celemek tersebut ke atas melewati kepalaku.


"Aku bersyukur banget punya istri kayak kamu Anha. Bener kok kata Siti tadi. Kamu itu istri yang baik, Cantik, Mandiri, istri idaman aku banget," katanya sambil tersenyum begitu tulus.


Aku mengucapkan terima kasih-- walaupun aku sendiri tidak tahu alasanku mengucapkan terima kasih untuk apa. Untuk pujiannya barusan-- mungkin.


"Eh tunggu dulu... Kayaknya ada sesuatu yang ganjil, deh, tadi."


Aku mengeryitkan keningku. Mencoba untuk mengingat ingat hal tersebut kembali.


"Kamu tadi ngedengerin percakapan aku sama Siti dan Menik? Ih, dasar kamu, Mas!"


Aku tertawa dan kemudia aku memukul pelan bahunya membuat Ikram tertawa.


Pantas saja tadi mereka berdua kabur karena orang ini.


"Aku belum sempet beli kado buat kamu. Kamu sendiri mau hadiah apa?" katanya sambil memegang daguku dan menggerakaannya sedikit sehingga kini aku mendongak dan menatap dirinya yang sedang tersenyum manis saat ini.


Menatap wajah tampannya, alis hitamnya, hidung mancungnya, beberapa jambangnya tipisnya terlihat karena dia belum mencukurnya.


Tapi hal tersebut malahan membuat lelaki di depanku ini semakin terlihat seksi.


Dan tentunya bagian favorit darinya yaitu adalah mata cokelat indah milik Ikram. Mata yang terlihat pantulan bayangku di manik cokelatnya tersebut.


Aku tersenyum. "Beneran aku boleh minta apa aja sama kamu dan kamu janji bakalan menuhin permintaan aku, Mas?" tanyaku dengan mata berbinar sambil menggenggam kedua tangannya dan aku mencoba memasang puppy eyesku kepadanya.


Dan pada akhirnya dia mengangguk. Aku tersenyum tetapi aku berteriak amat senang dalam hati. Memang tidak ada satu pun lelaki di dunia ini yang dapat menolak wajahku ketika kubuat buat memelas seperti Puppy Eyesku andalanku tadi.


"Kamu mau apa aja bakalan aku turutin, kok. Apa aja, bahkan nyawaku juga bakalan aku berikan, kok, ke kamu," katanya sambil menyengir. Aku dengan refleks langsung memukul bahunya dan tertawa terbahak.


"Sejak kapan kamu jadi jago gombal kayak gitu? Belajar dari mana kamu, Mas?"


"Nggak papa. Kan, sama istri sendiri. Daripada gombalin istri orang."


Aku tertawa dan mengalungkan kedua tanganku di belakang lehernya.


Sejujurnya aku merindukan sosok dia yang seperti ini. Yang hangat, lembut, penuh kasih. Dia yang seperti itu hanya ada waktu kami belum menikah dulu. Namun aku bahagia saat ini dia kembali lagi seperti semua.


"Aku pengin An--" kata kataku terhenti sesaat ketika aku hebdak mengatakan bahwa sebenarnya aku menginginkan seorang bayi yang lucu agar hadir di tengah tengah kami berdua.


Aku menelan salivaku-- termasuk menelan bulat bulat perkataan yang hendak aku ucapkan tadi. Ini bukan momen yang pas untuk mengatakan hal tersebut ke pada Ikram.


Aku harus bersabar. Aku harus tau diri jika saat ini dia sedang membutuhkan waktu untuk menerima aku kembali sutuhnya.


Aku tidak ingin hubungan kami yang sedang erat eratnya ini harus merenggang lagi hanya karena permintaan anehku tersebut.


Aku menggelengkan kepala. Baiklah, keputusanku memang aku akan mengurungkan niatanku tersebut.


"Aku nggak pengin apa apa, kok, Mas..." kata kataku terputus sejenak membuat dahi Ikram mengerut.


"Sebenernya... Aku pengin kita liburan bareng. Kamu dulu pernah janjiin aku honey moon waktu kita sebelum nikah dulu. Nggak tahu sih kamu masih inget apa engga. Tapi aku harus tahu diri kalau sore nanti jadwal penerbanganmu ke Bandung. Aku nggak boleh jadi istri yang egois buat kamu, Mas. Aku harus bisa ngertiin kamu," kataku sambil memaksakan senyuman di sudut bibirku. Bibirku tersenyum padahal dalam hatiku tidak sama sekali.


Ikram terdiam sesaat. Menatap kedua manik mataku lamat lamat. Kemudian tangan kanannya tergerak untuk mengusap pipiku dan mengarahkan surai anak rambutku ke belakang telingaku.


Ikram mendekatkan dirinya ke padaku, ia semakin bergerak mengikis jarak di antara kami berdua. Aku dapat merasakan embusan napas hangatnya yang menerpa pori pori wajahku.


Tangannya yang tadinya mengusap pipiku kini berganti bergerak ke belakang punggungku dan menarikku agak ke depan. Ikram memiringkan kepalanya.


Aku mengerti bahasa tubuhnya tersebut, kemudian aku memejamkan mataku lalu aku merasakan dia mengecup pelan bibirku.


Sangat pelan, tidak ada nafsu, tidak ada gerakan lumatan sama sekali. Hanya saling menempelkan bibir antara satu dengan yang lainnya. Ketulusan.


Setelah ciuman kami tersudahi kini dia menyatukan keningnya pada keningku. Embusan napas nya juga masih terasa hangat menerpa wajahku.


"Aku sayang banget, An, sama kamu. Maafin aku karena telat banget mengerti semua ini," katanya dengan lirih.


Tanganku bergerak menyentuh dada bidangnya yang terhalang kausnya. Hanya untuk memastikan sesuatu. Yaitu apakah jantungnya berdetak karenaku.


Dan ternyata benar. Ritme detakan jantungnya sama halnya seperti yang saat ini aku rasakan.


Hari ini aku mengerti akan satu hal. Dia ternyata mencintaiku. Dan itu sudah cukup dari pada apa pun hadiah mewah di dunia ini yang dapat ia berikan kepadaku.