After Marriage

After Marriage
Diperebutkan



"Sean. Jangan didengerin. Dia emang niatnya bikin kamu emosi. Udah please abaiin aja," kataku mencoba mendinginkan suasana hati Sean yang memanas.


Dan menyebalakannya lagi bebrapa orang yang berada di sekitar kami hanya diam saja sambil menonton drama cinta segitiga sialan ini.


Menyebalkan. Kenapa mereka tidak membantuku melerai kedua belah pihak yang sama sama keras kepala ini, sih!


"Sini maju. Pasti kamu ini pereman tukang tawuran di sekolahan, ya?" kata Lelaki berjas biru tersebut sambil bersedekap dada dan tersenyum miring.


Aku mengeratkan gigiku. Umur dan tampang saja yang kelihatan tua dan bijak. Namun kelakuan sama saja seperti bocah!


"Kamu bisa diem nggak, sih!" teriakku dengan geram karena menahan tubuh Sean yang bergerak hendak memukul lelaki ini memang sulit, apalagi mengingat tenagaku dengan tenaga Sean yang tentu saja tidak sebanding ini.


"Lepas, Tante! Lelepasin Sean! Sean mau hajar om om mesum ini sampai mampus!" Sean mencoba Melepaskan diri dari peganganku. Namun aku masih dapat menahannya.


Aku berdecak ketika lelaki di depanku kini malahan menjulurkan lidahnya mengejek Sean.


Ya, ampun! Mengesalkan sekali, sih! Rasany seperti sedang memeomong dua bocah sekaligus saja!


"Dasar bocah bau kecur," kata Lelaki berjas biru tersebut memanasi Sean.


"Kurang ajar! Bandotan mesum!"


Aku yang kesal sendiri langsung saja melepaskan Sean dari peganganku dan mendorong tubuhnya seketika kepada lelaki tersebut sampai mereka berdua bertubrukan.


"Sana berantem sana! Udah pada tua tapi sama aja pada nggak punya malu sama sekali! Nggak mikir apa dilihatin banyak orang juga! Nggak peduli aku! Dasar bocah semua!" teriakku dengan geram sambil mengangkat tanganku ke atas karena kesal bukan main.


Sean dan lelaki berjas biru tua tersebut hanya terdiam seketika saat menatapku yang berteriak marah marah seperti tadi.


Bukannya mereka merasa takut, namun malahan mereka seolah merasa terkesan dan takjub melihatku yang marah marah tidak jelas ini.


Pipi Sean dan pipi lelaki tersebut memerah, merona.


"Udahlah! Aku mau pulang. Sial banget, sih, hari ini!" rutukku bersumpah serapah sendiri dan berbalik badan mengabaikan mereka berdua. Aku tidak peduli jika mereka benar benar bertengkar sampai babak belur sekalian.


Belum jauh aku melangkahkan kakiku aku mendengar Sean mengatakan...


"Ya, ampun! Aku suka Tante Tante galak kayak gitu. Tambah seksi aja, sih! Pilihanku emang oke abis."


"Awesome!"


Dasar dua lelaki gila!


"Tante, Tante! Sean mau anter Tante Anha pulang," kata Sean mencoba mengantarku pulang namun aku cuek saja dan untung saja ada bus yang sedang nge teem di sebelah kiri jalan.


Aku langsung masuk ke dalam bus tersebut. Sean hanya mampu terdiam sambil tersenyum kecut. Aku tahu Sean tidak mungkin nekat sampai memasuki ke dalam bus ini.


***


Jika aku memilih untuk menaiki BRT maka bisa jadi aku tidak perlu repot repot untuk transit lagi karena biasanya aku menaiki BRT yang satu jalur pada jalan rumahku.


Tetapi sialnya saat ini aku harus mau tidak mau malahan menaiki bus kota biasa dan aku harus naikĀ  bus lagi untuk transit ke arah menuju rumahku gara gara untuk menghindari Sean dan Lelaki berjas biru tadi.


Ah sialnya! Kenapa hari ini benar benar hari sial sekali, sih! Mimpi apa aku semalam!


Memang jarak dari tempat kerjaku dengan rumah tidak terlalu jauh, tapi sayangnya memang angkutan umum yang mengarah ke tempatku terbilang cukup sulit di jangaku.


Kalau saja aku saat ini sedang tidak mengalami krisis keuangan pasti aku lebih memilih menaiki ojek onile saja. Lebih praktis dan lebih enak juga, langsung di antar tepat di depan rumah.


Tapi apa daya. Dari pada aku banyak mengeluh tentang hal yang tidak jelas lebih baik sekarang ini kugunakan sisa sisa energiku untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa saja supaya bus kedua yang kunanti segera tiba.


Perutku mulai terasa keroncongan, aku dipecat, gajiku tidak cair padahal kurang dua hari lagi genap tanggal tiga puluh- kami memang gajian pada akhir bulan, bukan pada awal bulan pada biasanya.


Penampilanku pun saat ini sudah mulai kucel dan aku terlihat begitu menyedihkan sekali.


Kantongku kering, salah sendiri tadi pagi aku tidak sempat membawa banyak uang yang kutaruh di dompet ku dengan alasan akhir bulan aku harus sehemat mungkin.


Menyedihkannya aku.


Ketika aku sibuk menengok ke kiri arah kanan dan ke arah kiri jalan mencari bus yang hendak kunaiaki.


Tetapi tanpa kusadari seorang lelaki duduk di sampingku kemudian dia menepuk bahuku pelan membuatku memelototkan mata ketika melihatnya yang kini sudah duduk di sampingku adalah...