
Tetapi bagaimana pun mamanya sudah menunggu kedatangannya di Singapura. Rindu Sean kepada Mamanya sama halnya dengan kerindungannya dengan Anha.
“Maaf, ya, kalau selama ini Sean sering gangguin Tante. Sean sayang sama Tante… sebagai Kakak.”
Anha menangis dan memeluk erat Sean. Sean masih berusaha menenangkannya dengan menepuk pelan punggung Anha.
Sean tidak pernah mengira jika Anha akan menangisi kepergiannya ke Singapura. Tapi Sean senang, alasannya karena ada yang tulus peduli dengannya. Dulu ayahnya membuangnya, Ibunya juga membuangnya, hanya Oma dan Om Hans yang mau menerimanya—entah alasannya karena kasihan atau karena memang sayang.
Tetapi kali ini ada orang yang mau nemampungnya dan menangisinya dengan sebegitu tulusnya, yaitu Anha, wanita yang tak sangaja ditemuinya di supermarket dan sekarang menjadi kepingan memori di hidupnya.
Setelah Anha sudah mulai agak baikan dan pelukan mereka bedua sudah terlepaskan. Anha menghapus air matanya dan ingusnya. Sean tertawa melihatnya yang menangis sampai seperti itu. Anha yang kesal dan gengsi hanya memukul pelan bahu anak ini.
“Aku ngizinin Tante sama Om itu kok, kayaknya dia orang baik. Tante juga kelihatan suka banget sama dia. Tapi sebenernya aku nggak iklas, sih,” kata Sean sambil mengusap tengkuk belakangnya dan menatap ke sembarang arah karena gengsi juga. Tapi dia yakin, jika Hasan pasti bisa menjaga Anha ketika dia berada di Singapura nantinya.
Anha tertawa kecil mendengarnya. Anak ini ada ada saja.
“Tapi kalau dia sampai nyakitin hati tante atau buat tante nangis. Aku bakalan pulang ke Indo dan ngehajar dia sampai mampus,” kata Sean dengan bersungguh sungguh.
Anha tertawa mendengarnya sambil mengusap air matanya karena menangisi pelepasan yang menyedihkan ini.
Sean tersenyum dengan lembut sambil mengusap pipi Anha yang basah.
“Sean sayang sama Tante.”
Anha tersenyum dan mengangguk.
“Tante juga sayang sama Sean.”
Sebagai adik, dan sebagai kakak. Kata mereka berdua dalam hati.
“Siap tante!”
Mendengar Anha mengomel sambil menasihatinya adalah salah satu bagian favorit Sean. Pasti nanti ketika Sean sudah berada di singapura Sean akan merindukan moment seperti ini.
“Jangan nakal nakal kamu di negeri orang. Jangan ikut ikutan kalau ada temen nggak bener. Jangan pacar pacaran di sana, fokus aja sekolah,” tambah Anha lagi sambil mengusap ingusnya dengan lengan kanannya.
Sean terkekeh. Seharusnya tadi Sean menyiapkan tissue jika tahu kalau perpisahan mereka akan se mellow ini.
“Iya tante. Sean bakalan fokus kuliah kok. Nggak akan pacar pacaran. Lagian, kalau pun besok Tante masih single waktu Sean udah lulus kuliah. Kalau nggak ada cowok yang mau sama tante. Sean bakalan mau kok nikahin tante,” ucap Sean sambil mengusap pipi Anha.
Anha malahan semakin terisak. Matanya memanas dan dia menangis lagi. Anak ini benar benar…
Sean menelan ludah, kenapa malahan Tante Anha menangis lagi? Bahkan sekarang tangisnya tambah pecah dari sebelumnya.
Sean menggaruk kepalanya karena salah tangkah. Apa dia salah bicara, ya?
Anha memeluk Sean sambil masih menangis seperti anak kecil.
“Pokoknya kamu juga jangan merawanin anak orang. Pokonya gaboleh ngerusak anak orang! Awas aja kalau kamu sampe berani berani kayak gitu di Singapura! Tantu sunat ulang kamu!”
Sean hanya terdiam karena tidak mengerti.
Hah? Maksudnya?
***