
Orang bilang. Obat patah hati paling ampuh adalah dengan cara membuka hati untuk mengenal orang baru.
Atau pergi ke tempat baru, mungkin? Dengan begitu kau bisa mengenal banyak orang-orang baru.
Dan dengan begitu pula kau akan cepat teralihkan dari masa lalumu.
Senyumku terukir melengkung ke atas pada sudut bibir merahku ketika aku mecium aroma kue yang baru saja selesai dipanggang, aroma nikmat terasa tersebut begitu terasa menyeruak ke indra penciumanku.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi jarak dari tempat ini dengan tempat pemanggangan cukup jauh juga.
Dan di sinilah aku. Berdiri dengan mengenakan seragam yang didominasi dengan warna putih dan pink dengan dasi panjang manis pada kerah seragam kerjaku.
Hari ini, sudah terhitung setengah tahun sejak perceraianku dengan Ikram--mantan suamiku dulu.
Tanpa kusadari waktu berlalu begitu cepat.
Benar kata pepatah zaman dulu. Bisa jadi, waktu akan menjadi obat dari sembuhnya rasa sakitmu.
Aku menggelengkan kepalaku, berusaha sekuat tenaga agar aku tidak mengingat kembali kepingan masa lalu tentang dirinya apalagi sampai mengingat wajahnya itu yang selalu membuat napasku terasa sesak.
Bagiku masa lalu tetaplah hanya akan menjadi masa lalu.
Tapi aku tidak bisa munafik. Pada kenyataannya kita bisa mudah memaafkan seseorang. Tapi entah mengapa rasanya begitu sulit sekali untuk melupakannya.
Apalagi dulu hubungan kami bukan sekadar pacaran. Namun sudah menjalani pasang surut prahara rumah tangga.
Dan yeah, pada akhirnya kami pun tetap mengambil jalan perceraian.
Sejak perceraianku dengan Ikram-- mantan suamiku delapan bulan yang lalu. Aku sudah tidak pernah lagi mencari tahu tentang kehidupannya.
Aku tidak pernah juga mencari tahu apakah dia saat ini sudah bahagia dengan perempuan yang telah merebutnya dariku itu atau tidak.
Aku tidak sekurang kerjaan itu.
Aku benar-benar sudah menghapusnya dari hidupku.
Tetapi aku sempat ada dengar. Tanpa kutanyai pun Lidya--temanku yang tahu semua hal mengenai perceraianku dengan suamiku--memberitahu diriku ini jika Ikram sudah menikahi Dewi secara resmi.
Katanya perniakahannya tersebut sangat mewah sekali--sampai mengundang banyak tamu undangan. Bahkan katanya pernikahan kedua mantan suamiku itu lebih mewah daripada acara pernikahan pertamanya.
Mama dan aku tidak diundang--kalaupun aku dan Mama diundang. Aku juga tidak mau menghadirinya sama sekali.
Hanya itulah informasi yang kudengar dari mulut Lidya langsung.
Aku tidak menanyai Lidya lebih lanjut lagi mengenai Ikram, saat itu aku hanya memasang wajah acuhku dan mengabaikannya, pura-pura tidak peduli, meskipun hatiku menyimpan sedikit rasa agak terusik.
"An, ngalamun mulu, ih," kata Tyas. Teman satu profesiku yang saat ini memanyunkan bibirnya karena kuabaikan sejak tadi dan aku malahan sibuk dengan pikiranku sendiri.
Aku menyengir kuda kepadanya yang saat ini sedang memasang wajah masam kepadaku.
"Eh... Gimana-gimana? Tadi kamu mau ngomong apa?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Ih! Orang temennya lagi cerita juga malahan nggak didengerin! Jahat!" kata Tyas merajuk lagi.
Aku terkikik geli dan meminta maaf kepadanya karena tadi aku melamun.
"Iya gimana? Coba ulangi lagi tadi kamu ngomong apa?"
Tyas mengembuskan napas lelah.
"Aku udah nggak betah kerja di sini, An," katanya sambil memelankan suaranya--takut jika karyawan yang lainnya mendengarnya.
Sesekali Tyas menengok ke kiri, kemudian menengok kembali ke kanan untuk membaca situasi saat ini.
Aku mengangguk-anggukkan kepala paham.
"Kenapa? Karena gajinya dikit, ya?" kataku dengan meringis. Ya, memang sih, kerja part time seperti ini memang gajinya sedikit.
Aku saat ini bekerja di toko kue ini pun karena aku sedang mengisi waktu luangku mengingat aku masih belum mendapatkan panggilan dari interview pada perusahaan yang sudah aku datangi untuk melamar pekerjaan kurang lebih satu bulan lalu.
Sebelumnya memang aku sudah bekerja di perusahaan asuransi. Namun aku di sana hanya bertahan sampai empat bulan saja karena aku merasa tidak cocok sekali dengan pekerjaan tersebut.
Persaingan di sana sangat ketat, terlebih banyak sekali senior yang memiliki hobi tambahan seperti mencari muka kepada para atasannya.
Aku mengembuskan napas lelah. Entah mengapa aku masih agak kesal jika mengingat hal memuakkan di tempatku berkerja dulu.
Sebenarnya Jonas--teman Mama yang keturunan China waktu itu juga sempat menawari diriku untuk bekerja di perusahaan tempat Mama bekerja dahulu, namun aku tidak mau mengingat perusahaan itu adalah perusahaan kompeni yang jam terbangnya sangat padat.
Mama juga menawariku untuk bekerja di bank tempatnya bekerja saat ini, namun aku tidak mau.
Kurang seru saja jika aku harus bekerja satu perusahaan dengan Mama.
Yeah, ternyata mencari pekerjaan di zaman sekarang susah juga.
Aku malahan banyak sekali di tawari sebagai SPG atau pemandu karaoke.
Astaga, aku bukan wanita bar bar seperti itu juga.
Maka sebulan ini aku memilih untuk mengisi waktuku bekerja part time di toko roti ini.
Tidak buruk juga, kok. Toko roti VeeBakery ini cukup besar dan elite. Toh, dengan bekerja di sini aku masih bisa menabung untuk sekadar membeli kosmetik. Ini pun hanya pekerjaan sementara saja sampai lamaran pekerjaanku diterima.
Tetapi bau sedapnya roti yang selesai di panggang serta kue warna warni yang berjejer dengan rapi itu seolah menjadi hal yang membuat diriku 'betah' bekerja di sini selama hampir satu bulanan lamanya.
"An, ngalamun lagi! Punya beban hidup apaan, sih, emangnya?" kata Tyas kembali menyadarkanku dari lamunanku.
Aku tertawa. Jelas saja beban hidupku sangat banyak. Contohnya diceraikan, diselingkuhi, memiliki Mama mertua yang galak, tidak dinafkahi secara lahir.
Tyas akan bosan jika aku menceritakan masa laluku kepadanya.
Bahkan Tyas tidak percaya sama sekali kalau aku ini seorang janda, janda kembang lebih tepatnya, janda tanpa anak. Tyas menganggap omonganku kala itu hanyalahan lelucon belaka.
Memang, sih, dengan usia dan bentuk tubuh yang seperti ini banyak orang yang tidak percaya bahwa aku ini adalah seorang janda.
"Sstt... Gaboleh ngobrol, ih. Dimarahin Pak Bos nanti," kataku sambil merendahkan nada bicaraku, takut ketahuan.
"Aku mau resign, An!" Tyas mulai merengek lagi dan lagi. Ini bukan kali pertamanya Tyas seperti ini. Memang setiap hari Tyas mengulang-ulangi ucapannya yang meminta untuk resign itu seperti kaset rusak saja.
"Mau kerja yang lain, ya? Atau Kamu dapet pekerjaan baru yang gajinya lebih gede?" tanyaku lagi sambil mengemil sisa potongan roti yang sebelumnya aku ambil dari belakang.
Tyas menggelengkan kepala.
'Lalu apa?' tanyaku dalam hati sambil mengangkat daguku, memberikan bahasa isyarat bertanya kepada Tyas.
"A--aku cuma nggak nyaman aja, An. Aku pengin... Pake hijab. Tapi tau sendiri, kan, di sini nggak dibolehin kalau karyawan pakai hijab."
Tyas menaut-nautkan jemari tangan kanannya ke jemari tangan kirinya. Gelisah.
Aku hanya terdiam. Memang, sih, peraturan di sini tidak menerima karyawan yang mengenakan hijab.
Wajar, kok. Memang banyak sekali tempat kerja yang 'tidak menerima' karyawan yang mengenakan hijab. Seperti SPG ataupun pekerjaan lainnya begitu. Meskipun tidak dapat dipukul rata juga, sih.
Aku juga pernah ada dengar. Katanya pramugari juga ada yang tidak diizinkan mengenakan hijab, ya? Duh, sayang sekali. Padahal kepercayaan seseorang terhadap agamanya dengan pekerjaan mereka seharusnya tidak menjadi penghalang, bukan?
Ya, memang, sih, kalau dilihat dari sudut komersil karyawan yang mengenakan hijab kurang menarik perhatian para pelanggan.
Beda sekali dengan karyawan yang terbuka dan mengenakan pakaian normal. Lebih menarik, lebih menjual, dan kesannya lebih terlihat cantik.
Contohnya seperti diriku ini yang selalu saja menjadi tumbal penglaris toko di manapun aku bekerja.
Setiap kali bekerja aku selalu di tempatkan di bagian depan. Kalau tidak kasir, ya, intinya 'orang yang berada di bagian depan' untuk menarik hati para pelanggan. Terutama pelanggan laki-laki.
Aku tahu, Tyas dari dulu memang agamanya begitu kental dan rajin shalat juga. Tyas juga sering mengatakan bahwa dia sangat ingin sekali hijrah. Tetapi kendala takut tidak mendapatkan pekerjaan selalu menjadi penghalang niat baiknya tersebut.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal sama sekali.
Tapi saat ini aku bingung hendak memberinya masukkan apa.
"Aku bingung, sih, mau ngasih saran apa ke kamu. Coba, deh, dipikir-pikir dulu. Kalau bisa kamu resign aja tapi setelah kamu dapet pekerjaan baru. Tau sendiri kan tempat ini nggak mau tahu soal kayak gituan, Yas."
"Tap--" perkataan Tyas terhenti ketika mendengar lonceng yang berada di kusen pintu bagian atas berbunyi. Tanda pembeli memasuki toko ini. Aku buru-buru memasukan sisa potongan roti yang tadi kumakan tadi di bawah laci meja ini.
"Kak, anu, saya mau beli kue ulang tahun, dong."
Aku mengerutkan kening. Bukannya kalau tidak salah ingat. Anak itu adalah bocah yang waktu itu kutemui di supermarket bersama Mai, ya?
Notes: Kemarin yang udah sempet baca bonus part nggak papa, ya, ngulang dari awal lagi karena kemarin banyak banget typonya. Itung-itung nostalgia. Makasih.
***
Kyahahaha. Si bocil aku keluarin. Si bocah SMA tengil.😍
Quotes andalan si bocah:
"*****! Masak cakep cakep janda, sih!"
Ig: Mayangsu_
Email: Mayangsusilowatims@gmail.com