After Marriage

After Marriage
Ternyata Saling Kenal?



Anha menutup mulutnya tidak percaya jika dia bisa bertemu dengan orang tersebut di sini.


Memang dunia itu sempit sekali, ya.


Mulut Anha terbuka, hendak mengatakan suatu hal, namun urung dan mulutnya terkatup kembali ketika tiba-tiba ternyata Hasan menyapa orang itu duluan.


“Pak Hamkan. Bapak bagaimana kabarnya? Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini,” kata Hasan menyapa dengan sopan pria di depannya itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Anha menatap kekasihnya tersebut dengan raut wajah terkejut.


‘Eh, ternyata Hasan juga kenal dengan Hamkan, ya?’ batin Anha dalam hati.


Hamkan terseyum dan menjabat uluran tangan dari Hasan.


“Alhamdulillah saya baik, kamu sendiri gimana? Jangan terlalu formal kayak gitu sampai manggil ‘Pak’. Toh, kita nggak lagi kerja,” balas Hamkan dengan nada yang lebih santai.


Tetapi Hasan sendiri tidak berani berbicara dengan Hamkan layaknya teman dekat seperti yang dia katakan tadi.


Hasan malahan akan merasa lebih nyaman jika berbicara dengan Hamkan menggunakan bahasa formal seperti ketika bekerja.


Bagaimanapun juga Hamkan lebih senior daripada dirinya, dia juga rekan bisnis penting dari perusahaan lain yang bekerja sama dengan Pak Hans, jelas saja Hasan harus tetap bersikap sopan.


Hamkan memang bekerja sama dengan perusahaan tempat Anha bekerja. Jadi di suatu moment tertentu Hasan pernah sekali mengikuti rapat yang ada Hamkan di sana untuk membahas proyek kerja sama dengan perusahaan Hamkan.


“Kabar saya juga baik. Saya nggak nyangka kita bisa ketemu sama Bapak di sini,” kata Hasan dengan kaku, bahkan saat ini sampai bahasa yang ia gunakan campur aduk seperti itu. Sampai menggunakan gabungan beberapa kata formal dan tidak formal seperti itu.


“Iya. Saya ke sini mau cari kado buat adik saya yang sebentar lagi mau ulang tahun.”


Tanpa mereka berdua sadari, Anha diam diam menatap Hamkan dengan saksama, saat ini Hasan mengenakan setelan baju casual dengan atasan kaos berwarna hitam pekat dan celana jeans untuk bagian bawahnya. Penampilan Hamkan terlihat lebih santai dari ketika terakhir kali mereka bertemu tetapi tidak menampik jika Hamkan tetap terlihat tampan.


Kemudian Hamkan gantian melihat Anha yang berada di sebelah Hasan.


Awalnya Hamkan cukup terkejut ketika mendapati Anha sedang bersama dengan Hasan di sini, tetapi rasa terkejutnya itu berhasil ia sembunyikan setelah menguasai suasana dan setelah melihat Anha yang saat ini sedang merangkul lengan Hasan.


Hal itu sudah menjelaskan semuanya jika mereka berdua adalah sepasang kekasih.


“Kamu sendiri apa kabar?” tanya Hamkan kepada Anha membuat Anha sedikit terkejut karena ketika itu Anha masih mengamati Hamkan namun tiba tiba Hamkan menyapanya.


“A-aku… aku juga baik, kok,” jawab Anha sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.


Semoga Hasan tidak bingung dengan suasana kali ini karena mereka berdua ternyata juga saling mengenal satu sama lain.


Melihat dahi Hasan yang mengeryit membuat Anha hendak mengatakan sesuatu, mulutnya sudah terbuka, namun urung dan ia menelan kembali kata kata yang tadi hendak diucapkannya tersebut.


Hasan menatap Anha dengan saksama.


‘Apa jangan jangan mereka memiliki hubungan lain?’