After Marriage

After Marriage
Mama Erin Melunak



"Jangan-jangan kamu hamil, An?"


Hah?


"Ya, Ampun! Iya! Pasti kamu hamil, An. Akhirnya Mama bakalan punya cucu juga! Senengnya!" kata Mama Erin dengan sangat bahagia.


Aku mengeryit. Hamil dari Hongkong! Aku saja belum berhubungan intim dengan Ikram lalu mana mungkin aku bisa hamil? Hamil anak jin begitu maksudnya? Aku, kan, muntah-muntah karena udang buatan Siti yang terlalu amis.


Aduh, bagaimana aku keluar dari posisi sulit ini. Haruskah aku menjelaskannya kepada Mama Erin jika dia sedang salah paham?


Kutengok Ikram yang berada di belakang. Aku melemparkan kode kepada dirinya 'Aku harus jawab apa?' Namun Ikram hanya menggeleng pelan dan mengendikkan bahunya sama bingungnya harus berkata apa.


"Akhirnya Mama bakalan punya cucu juga!" kata Mama Erin sambil mengusap perut rataku.


SINTING!


Terpaksa aku hanya mendiamkannya saja, lagi pula aku malas berdebat dengan Mama Erin di malam hari.


Sikap Mama Erin seolah berubah sekali. Kali ini dia menggandeng lenganku dan menuntunku setelah aku membersihkan mulutku dengan air wastafel.


"Besok kita ke dokter kandungan, ya, buat meriksain kandungan kamu. Seneng banget Mama, An!"


Mulutku terbuka. Dasar mertua gila!


Aku menatap Ikram yang kini juga tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan hanya mampu terdiam bingung menghadapi situasi kesalah pahaman ini.


"Cepet anterin istri kamu ke atas, Kram! Biarin dia istirahat di kamarnya," perintah Mama Erin kepada Ikram. Ikram mengangguk dan memegang lenganku seolah aku tidak bisa berjalan sendiri saja.


"Gimana ini, Mas?" bisikku dengan sangat pelan karena Mama Erin ternyata mengekori kami berdua dari belakang dengan wajah yang begitu bahagia seperti sedang menang undian lotre.


"Ssstt... udah biarin aja, besok kita jelasin pelan-pelan ke Mama. Aku capek banget buat ngeladeni Mama semalem ini."


Aku tertawa kecil mendengar Ikram mengatakan hal tersebut. Memang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Aku juga malas dimaki-maki melulu oleh Mama Erin.


"Hati-hati Ikram," kata Mamanya ketika Ikram membantuku duduk di ranjang. Lebay sekali dia, seolah aku ini guci berharga ratusan juta yang akan pecah jika tidak hati-hati ketika menyentuhnya.


Mama Erin duduk di sampingku dengan mata berbinar.


"Akhirnya kamu ngasih cucu juga buat Mama! Mama seneng banget! Kan, kalau kayak gini Mama nggak perlu marah-marah dan nagih cucu sama kamu."


Aku hanya tersenyum meringis mendengarnya. Entah setan mana yang saat ini sedang merasukinya sehingga kini Mama Erin berubah seperti Ibu Peri yang baik hati. Tanpa kuduga Mama Erin mengambilkan minyak kayu putih dari dalam tasnya dan membalurkannya ke perutku. Setelah itu Mama Erin memijit kakiku. Mulutku terbuka tidak percaya jika Mak Lampir yang dulunya jahat sedang memijat kakiku dengan senyum mengembang.


Dan sialnya suamiku saat ini sedang berdiri di belakang Mama Erin sambil menutup mulutnya menahan tawa seolah dia menikmati sekali hiburan gratis di depannya ini.


Dia ini memiliki keperibadian ganda atau bagaimana, sih, sebenarnya?


Mak Lampir dan Ibu Peri begitu?


"Nanti... Kamu sering-sering juga baca buku tentang parenting sama tips-tips seputar kehamilan. Mama nggak sabar mau borong semua mainan bayi buat cucu Mama!"


Mama Erin mencubit pipiku dengan gemas. Rahangku terjatuh, mataku mengerjab tidak percaya dengan siapa sosok di sampingku ini sebenarnya. Dan suamiku malahan tertawa kelepasan. Mataku menyipit kesal dengan Ikram yang malahan menutup mulutnya menyembunyikan tawanya.


"Pokoknya kamu harus ngasih anak laki-laki buat Mama, mengerti?" kata Mama Erin kepadaku dan masih sibuk memijiti kakiku.


Eh? Memangnya apa bedanya anak lelaki dan perempuan? Aku dari dulu tidak pernah mempermasalahkan Tuhan hendak menitipkan kepadaku anak lelaki atau perempuan.


Memang kenapa jika anak yang lahir dari rahimku nantinya perempuan? Apalagi jika aku dikaruniai anak kembar perempuan bukannya itu begitu lucu sekali? Dua malaikat kecil yang pipinya tembam memerah dengan mata cokelat seperti mata Papanya dan rambutnya akan kukuncir dua. Mereka akan berangkat sekolah bersama, bertengkar bersama. Uh! Imutnya!


"Pokoknya Mama nggak mau cucu perempuan! Pokonya kamu harus ngelahirin anak laki-laki biar nantinya cucu Mama itu bisa nerusin usaha Ikram dan biar bisa jadi pewaris untuk keluarga kami. Anak cewek nggak ada gunanya," kata Mama Erin sambil memijit kembali kakiku.


Tetapi ucapan Mama Erin barusan membuat tawa Ikram menghilang seketika. Tampak kesedihan mendalam di sorot mata Ikram. Pasti dia teringat dengan Kanaya. Anak perempuan Mama Erin sekaligus adik kesayangan Ikram yang tidak diharapkan.


Ikram menundukkan kepalanya, ekspresinya berubah drastis, aku mengerti dia tidak ingin terlihatku bersedih di hadapanku. Aku menggigit bibir dalamku. Aku dapat merasakan tatapan penuh kesedihan tadi di netra cokelat milik suamiku, Ikram.


Aku menatap Mama Erin yang saat ini masih sibuk memijit kakiku dengan penuh semangat.


Sekarang aku paham kenapa Naya benci sekali dengan Ikram dan dengan Mamanyanya. Tentunya karena Naya terlahir sebagai anak perempuan yang tidak diharapkan oleh Mamanya karena tidak dapat menjadi pewaris kekayaan dari Kakek Ikram.


Memang apa dosanya  jika terlahir sebagai anak perempuan?


Sekarang aku juga paham kenapa Papa Ikram dan Mama Erin bercerai. Pasti dulunya Papa Ikram juga dihina dan direndahkan seperti ketika Mama Erin merendahkanku.


Dan tentu saja suamiku, Ikram, juga menjadi korban atas keegoisan dan kejahatan Mamanya ini.


Aku melihat Ikram berjalan pelan menuju lemari di sudut kamar kami dan dia berdiri agak lama di sana. Pasti saat ini dia begitu sangat sedih. Ya, tentunya gara-gara si Nenek Lampir ini.


"Besok Mama bakalan beliin box bayi yang paling mahal buat calon cucu Mama dan Mama juga bakalan borong semua baju bayi laki-laki buat cucu Mama yang saat ini ada di perut kam--" ucapan Mama Erin terhenti ketika aku tiba-tiba menekuk lututku sehingga pijatan Mama Erin terhenti.


"Um... Anha ngerasa agak pusing, Ma. Kayaknya Anha butuh istirahat," kataku berbohong padahal saat ini aku sedang mengusir halus Mama Erin supaya cepat pergi dari sini. Aku tidak ingin Mama Erin semakin berbicara ngelantur dan yang ada hanya akan membuat Ikram bertambah sedih saja.


Mama Erin mengangguk dan tersenyum lebar sekali.


"Iya, kamu harus banyak istirahat biar kehamilanmu tidak terganggu. Mama pulang dulu," kata Mama Erin sambil mencium pelipisku kemudian mengambilkan selimut yang berada di tengah ranjang kepadaku.