After Marriage

After Marriage
Penerimaan



“Aku Janda,” kata Anha dengan lirih.


Hasan terdiam sejenak setelah mendengar itu semua. Matanya membulat. Dia mengerjabkan mata beberapa kali. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Hasan benar benar kaget akan semua ini.


“A-aku…”


Ada nada sumbang pada ucapan Hasan seolah dia sangat hati hati sekali dalam berkata membuat Anha semakin berdebar saja.


Sebenarnya Anha ada salahnya juga. Seharusnya dia mengaku dulu kalau dia seorang janda kepada Hasan baru dia mengajukan tiga syarat tadi. Ah, tapi yasudahlah. Kabar buruk mendingan disampaikan dibelakangan saja.


Anha menelan ludah. Agak takut juga jika ternyata Hasan menolak statusnya tersebut.


Bukan, bukannya menolak. Hasan hanya kaget saja karena Anha benar benar tidak terlihat seperti seorang janda sama seklai.


Wajah masih sangat cantik dan manis, tubuhnya proposional dan sangat seksi. Bibir bawah yang tebal menggoda semua lelaki untuk mengecupnya.


Sumpah demi apa, tanyakan saja ke sembarang laki laki di luar sana. Tanyakan apakah mereka semua akan percaya jika wanita cantik dengan manik cokelat ini adalah seorang janda? Pastinya tidak.


“Kamu nggak bisa, ya, nerima aku apa adanya?” kata Anha sambil menunduk ke bawah. Dia sudah menduga jika Hasan tidak akan mau menerimanya.


Hasan sendiri, kan, tampan, kaya, dan masih single lagi. Mana mau dia dengan Anha yang seorang janda. Toh, banyak gadis cantik di luar sana yang menginginkan Hasan.


Inilah salah satu kejelekan Anha. Gampang sekali menerka sampai ke mana-mana.


Kedua telapak tangan Hasan menangkup pipi Anha. Anha menatap manik hitam milih Hasan yang jernih itu, seolah olah Anha dapat melihat pantulan dirinya sendiri di sana.


Tangan Anha bergerak memegang tangan kiri Hasan yang meangkup pipinya. Anha memejamkan mata, meresapi kehangatan dari telapak tanga Hasan yang rasanya kehangatan tersebut sampai menjalar ke hatinya.


Hasan mendekat, dia menggesekka hidungnya pada hidung mancung Anha.


Hasan tersenyum. Memangnya kenapa kalau janda? peduli amat tentang hal itu.


Bahkan Anha dapat merasakaan emusan napas hangat Hasan yang menerpa pori pori wajahnya.


“Aku nggak peduli, An, kamu gadis atau Janda. Aku bener bener nggak peduli sama itu semua. Intinya aku cinta banget sama kamu, Anha,” kata Hasan dengan lirih dan di akhiri dengan kecupan lembut pada bibir merah Anha. Hanya satu kecupan ringan. Bibir dengan bibir saling menempel.


Kedua tangan Anha menggenggam erat kemeja Hasan dan sedikit meremaasnya.


Satu ciuman singkat. Tidak ada nafsu sama sekali di sana, tidak ada lumatan, ciuman yang paling tulus yang diberikan Hasan kepada Anha yang berhasil membuat pipinya terasa menghangat seketika. Melelehkan hatinya. Anha tidak pernah merasakan perasaan sangat dicintai dan diterima ini oleh orang lain seperti ini.


Setelah ciuman pada bibirnya. Hasan bergerak memeluk wanita yang paling dicintainya itu, ia mencium kening Anha agak lama sambil memejamkan matanya.


Anha ikut memejamkan mata meresapi kasih sayang itu.


“Tapi gimana kalau orang tua kamu nggak bisa nerima aku, Hasan?” kata Anha dengan lirih dan menyangga dagunya pada pudak Hasan.


Terasa Hasan semakin mengeratkan pelukannya, bahkan Anha dapat merasakan detak jantung Hasan sama kerasnya dengan detak jantungnya.


“Aku nggak peduli, An. Yang nikah itu aku, bukan orang tuaku. Kalaupun mereka nggak mau nerima  kamu. Aku bakalan berusaha mati matian buat merjuangin kamu, Sayang.”


Hasan mengusap lembut rambut hitam panjang Anha penuh kasih.


Anha bersyukur Hasan dapat menerimanya sepenuh hati. Dia lega karena sudah memberaikan diri untuk berkata jujur apapun konsekuensinya.


“Yuk, buruan ke rumah makan deket sini. Aku laper banget,” kata Anha setelah melepaskan pelukannya.


Hasan mengangguk dan mereka berdua pergi ke rumah makan yang letaknya tidak jauh dari kantornya.


Anha berharap, hubungan ini akan berjalan sampai jenjang pernikahan dan  mereka akan bahagia selamanya.


***


Cast/Visual Hasan hot ada di IGku @Mayangsu_