After Marriage

After Marriage
Keinginan Untuk Menikah Lagi



Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat.


Hari berganti hati merajut bulan. Dan tanpa disadari pula, sudah hampir dua bulan lamanya Anha bekerja di perusahaan ini.


Kabar baiknya adalah sampai saat ini semuanya seolah berjalan dengan baik-baik saja. Semuanya berjalan dengan normal. Mungkin karena Anha terlalu sibuk berkutat dengan pekerjaanya sehingga membuat dirinya agak cuek saja dengan keadaan sekitar.


Sedangkan Hasan sendiri saat ini juga sedang disibukkan dengan pekerjaanya, kantor memang sedang sibuk apalagi ketika akhir tahun dan hendak memasuki libur pajang seperti ini.


Tetapi terkadang Hasan rindu sekali dengan wanita itu. Kadang dia agak menyesal dengan sikap cerobohnya kala itu di mana tepatnya ketika kejadian pulang bersama bertiga antara dirinya-Anha dan Bella malahan hal tersebut membuat hubungan Hasan dengan Anha menjadi semakin merenggang saja.


Kini Anha seolah semakin cuek saja, atau kadang Hasan juga berpikir apakah jangan-jangan Anha memang menghindarinya karena dia marah atas kedekatannya dengan Bella?


Pasalnya Hasan sering mengirimi Anha pesan wattsapp, namun Anha hanya membacanya saja, kalaupun dibalas hanya sekadar sepatah dua patah kata saja. Tidak ada percakapan hangat sampai larut malam dengan Anha.


Dua bulan ini Hasan juga sudah berusaha meluangkan waktu untuk menjemput Anha di rumahnya ketika pagi hari, dia rindu dengan suasana hangatnya rumah Anha. Apalagi capcai buatan Anha yang enak itu. Membayangkannya saja sudah membuat perut Hasan keroncogan. Andai saja mereka menikah nanti, pasti setiap hari Anha akan memasakkanya makanan yang enak-enak.


Nanti ketika sinar matahari menyapanya di pagi hari. Pasti Hasan akan menemukan Anha yang sedang sibuk berkutat di dapur dengan celemek yang menghiasi tubuhnya, tangannya sibuk menumis makanan. Dan ketika itu mungkin Hasan akan memeluknya dari belakang, mencium tengkuk belakang wanita itu sehingga membuatnya tertawa geli serta nantinya Hasan akan mengucapkan selamat pagi kepadanya.


Sial! Membayangka hal tersebut saja sudah membuat pipinya merona seketika.


Menikah?


Degan Anha?


Tentu saja dia mau!


Namun sialnya semua hanya khayalan saja. Ketika Hasan berusaha untuk menjemput Anha. Anha malahan menolak dan dia lebih memilih untuk naik ojek online saja. Jika tahu begini, lebih baik waktu itu dirinya tidak usah mengantar Bella saja.


Tetapi sampai kapan pun Hasan akan terus mencoba meluluhkan hati Anha, dia ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Bukan hanya untuk sekadar pacaran. Hasan ingin ke jenjang yang lebih serius dengan Anha.


Ke jenjang pernikahan.


“An, kok, kamu nggak pernah lagi makan bareng sama si ganteng itu, lagi, sih? Kalian lagi berantem, ya?” tanya Sisil sambil menyeruput pop icenya dari sedotan. Anha hanya mencoba cuek dan mengabaikan ucapan Sisil yang selalu penasaran tersebut. Untuk saat ini Anha memang sedang malas membahas Hasan. Sedang tidak mood!


“An, kok, kamu bisa kenal, sih, sama Pak Hasan? Dari dulu aku penasaran, loh, sama hal itu. Kamu, sih, nggak pernah ceritain hal itu ke aku,” tambah Sisil lagi. Namun kali ini Anha  masih saja hanya diam karena bingung hendak menjawab apa pula.


Sisil yang kesal karena merasa di abaikan itu, kini dia hanya mampu mengembuskan napas kesal.


“An!”


“Hmmm?”


“Ish, cuek banget, sih, An!”


“Hang out, yuk, An! Bosen aku di rumah terus. Aku pengin main bareng Lidya sama bareng kamu juga, ayuk reuni,” kata Sisil sambil merengek dan memegang lengan Anha.


“Iya, kapan-kapan, deh, kita hang out kalau libur panjang. Udah sana kerja lagi! Bukannya kamu juga harus ngumpulin daftar nama sebelum jam dua belas malam, nanti, Sil? Satai banget, sih, kamu jadi orang,” kata Anha yang sudah mulai kesal dengan Sisil yang merecokinya sejak tadi.


“Males, An. Btw, kata Lidya di WA dulu kalian pernah kerja bareng, ya?”


“Iya.”


“Kerja jadi SPG gitu?”


“Iya.”


“Di mana? DPMall, kah?”


“Iya.”


“Kok, cuma iya iya, doing, sih, An. Ceritain, dong, dari awal kejadian kalian ketemu lagi setelah tahunan lulus. Nggak seru banget, deh, kamu kalau diajak rumpi. Nggak asik! Malahan asikan gibah sama si Jo daripada kamu.”


“Ya, aku harus gimana? Lagi sibuk kerja ini aku!” kata Anha dengan kesal. Pasalnya memang dia sedang sibuk mendata konsumen yang minggu ini menghubunginya masalah keluhan perihal jaringan untuk dilaporkan ke bagian devisi lain. Sedangkan saat ini Sisil malahan usil merecokinya.


“Alah rajin amat, sih, An. Ini, kan, lagi jam istirahat juga. Kerja itu jangan ‘ngoyo’ banget. Nanti kalau kamu mati, yang susah itu keluargamu. Perusahaan, mah, tinggal cari karyawan baru lagi.”


Anha hanya mampu menggeleng kepalanya saja. Tapi kalau dipikir-pikir ulanng, memang ada benarnya juga perkataan Sisil tadi, tetapi Anha saat ini memang sedag ingin menyelesaikan tugasnya agar dia tidak perlu lembur nanti malam. Bukannya semakin cepat ia menyelesaikan tugas maka akan semakin bagus juga? Siapa tahu dapat bonus akhir tahun nanti karena menjadi pegawai teladan.


“Udah, Ah, jangan ganggu dulu. Lagi pusing ini kepalaku!”


Sisil hanya menyengir kuda, lucu juga sahabatnya ini jika sedang kesal.


“An.”


“Hmmm?”


“Kamu nggak ada niatan gitu, An, buat nikah sama Pak Hasan? Secara dia cowok oke banget gitu, loh. Sayang banget kalau nggak digebet.”


Anha masih sibuk mencari daftar nama konsumen pada minggu ke dua di layar komputernya, padahal sebenarnya sejak tadi Anha menyimak ucapan dari Sisil namun dia berpura-pura abai. Sisil ini memang tipe manusia yang keponya kebangetan.


“Nggak, Ah. Mana mungkin Pak Mananger kayak dia suka sama kacung macem kita ini,” kata Anha merendah sambil terkekeh. Bukannya tidak percaya diri dengan wajah ini, tapi itu, kan, fakta. Jangan muluk-muluk. Hidup itu kadang realistis. Ya… meskipun Anha mengucapkan hal tersebut dengan asal. Tapi ada rasa takut juga akan hal tersebut dalam hatinya.


Waktu dulu saja dia dihina habis-habisan oleh ibu mertuanya ketika menikahi anak orang kaya. Apakabar nanti jika dia menikah dengan Hasan?