After Marriage

After Marriage
Khawatir



Pukul setengah tujuh malam aku hanya duduk-duduk santai di pinggiran ranjangku. Sebelumnya Mai sudah menawariku untuk bergabung makan bersama tetapi aku menolak tawarannya karena aku merasa tidak enak saja dan terasa begitu canggung jika harus makan bersama.


Terlebih lagi pasti di ruang makan saat ini juga ada suami Mai. Aku sadar diri aku ini hanyalah seorang tamu, aku hanya tidak ingin merepotkan Mai meskipun perutku sebenarnya sudah keroncongan sejak magrib tadi.


Namun lebih baik aku makan waktu nanti Mai dan Suaminya sudah selesai makan saja.


Tanganku bergerak mengambil ransel yang berada di atas ranjangku. Jariku bergerak dengan cepat membuka resluting untuk mengambil ponselku yang sejak semalam memang sengaja kumatikan setelah aku memesan taksi online yang mengantarkanku ke rumah Mai.


Nampak begitu banyak notifikasi masuk di ponselku setelah ponselku berhasil kunyalakan. Beberapa diantaranya adalah dari Lidya, dari Mama dan tentunya dari Ikram juga.


Lebih dari tiga puluh pasan masuk dari Ikram di aplikasi whattsappku, dan dua puluh lima panggilan masuk darinya. Aku memilih untuk mengabaikannya, tidak ada hasrat sama sekali bagiku untuk membuka pesan darinya, apalagi sampai mau-maunya membalas pesan masuk darinya.


Aku lebih memilih melihat pesan dari Mama yang juga tak kalah banyaknya dari pesan Ikram. Aku hanya mampu meringis, benar kata Mai. Mama nampaknya begitu khawatir kepadaku dan menanyakan aku sedang berada di mana. Padahal kupikir Ikram berbohong ketika mengatakan jika dirinya sedang mencariku di rumah Mama agar aku mau keluar dari dapur untuk menemuinya.


Mama: Kamu di mana, An! Mama khawatir banget sama kamu!!!


Mama: Kenapa Hpmu mati, Anha!


Mama:Hubungi Mama kalau kamu udan on.


Itulah tiga dari salah satu pesan masuk dari Mama. Aku langsung menghubungi nomor Mama untuk mengabarinya bahwa aku sedang baik-baik saja. Belum sampai enam detik Mama sudah mengangkat panggilan teleponku dan langsung berteriak marah-marah tidak jelas.


“Halo Ma. Assalamualai--”


“Kamu itu, ya! Kamu kemana aja dari semalem?! Kenapa ponselmu mati?! Kamu mau buat Mama mati karena jantungan, hah!!!! Kamu tahu nggak kalau Ma--”


Aku tersenyum kecut sambil menjauhkan ponselku dari telingaku karena saking kerasnya suara Mama bahkan aku bisa mendengar omelan Mama tanpa mode loudspeker sama sekali. Ya Tuhan! Emak-emak jika sudah marah memang luar biasa menggelegarnya.


Setelah agak tenang aku mulai menaruh ponselku di telinga kananku kembali dan kini aku mulai melanjutkan pembibacaraanku dengan Mama.


“Anha baik-baik aja, kok, Ma. Anha lagi di rumah Mai, temen Anha waktu kuliah. Mama jangan khawatir.”


Hening sesaat, Tidak ada balasan sama sekali dari seberang sana—yang malahan dapat aku simpulkan dengan cepat mungkin saat ini Mama sedang menangis membuatku hanya mampu menggigit bibir bawahku.


Aku rindu Mama.


“Ma… Anha cuma lagi butuh waktu buat nenangin diri dulu, Ma. Anha janji kalau Anha udah baikan, pasti Anha bakalan pulang, kok.”


Mama masih terdiam. Bahkan aku merasa tadi nada bicaraku sudah berubah karena menahan diri untuk tidak menangis. Aku hanya mampu menangkap suara seperti orang sedang pilek dari seberang sana. Aku tahu… Mama memang sedang menangis.


“Janji, ya, kalau ada apa-apa kamu bakalan kabarin Mama?! Anak Mama itu cuma satu, yaitu kamu.”


Aku mengangguk. Setidaknya saat ini aku sudah mengabari Mama sehingga Mama tidak khawatir lagi dengan diriku.


“Kamu tahu nggak An?” perkataan Mama terputus. Aku mencba menyimaknya dengan saksama.


“Mama emang sejak dulu nggak pernah ada buat kamu. Nggak pernah dengerin curhatan kamu. Tapi, kalau kamu ada masalah… kalau dunia ini begitu jahat sama kamu, kalau dunia ini nggak berpihak sama kamu. Atau ketika kamu lagi terpuruk sama hidup kamu. Kamu harus inget hal ini dengan baik kalau ada tempat yang selalu akan nerima kamu apapun kondisimu, Sayang. Yaitu keluarga.”


Aku menyeka air mataku dengan lengan bajuku. Berusaha agar tidak semakin terhanyut dalam suasana melankolis ini.


“Iya, Ma. Love you, Mama. Anha matiin panggilan dulu, ya, Ma. Ini mau bantuin Mai masak,” kataku berbohong, padahal alasanku ingin segera mengakhiri percakapan telepon ini adalah supaya Mama atau pun aku sendiri tidak terlalu bersedih.


Mama mengatakan I Love You Too dan diakhiri dengan diiriku yang memutus panggilan telepon tersebut.


Hampir saja aku mematikan ponselku, namun urung ketika mendapatkan panggilan masuk dari nomor rumah. Aku mengembuskan napas lelah. Apakah jangan-jangan Ikram yang menelepon menggunakan telepon rumah karena dia tidak bisa menghubungiku sejak semalam?


Aku menolak panggilannya, namun nomor tersebut pantang menyerah dan menghubungiku lagi. Baiklah, pada akhirnya aku pun mau mengangkat panggian tersebut.


“Ha-halo. Ini, teh, nyonya Anha?” kata dari seberang sana sambil agak terbata membuatku terdiam sesaat. Kalau tidak salah… ini, kan, suara Siti.


“Iya. Ada apa, Siti?” tanyaku.


“Anu nyonya. Nyonya bisa ke sini sebentar, nggak? Gawat nyonya, gawat!” katanya dari seberang sana. Gawat kenapa? Kenapa juga Siti sepanik itu?


“Gawat apanya?”


“Ya, gawat pokoknya, Nyonya! Aduh gimana, ya, cara ngejelasinnya…”


Aku berdecak kesal karena Siti mengatakan hal tersebut dengan tidak jelas.


“Coba kamu atur napas kamu dulu. Terus kamu mulai ngomong pelan-pelan dan yang runtut, Ti. Kalau nggak saya matiin aja, deh, ya, teleponnya?”


“Ehh jangan atuh, Nyonyaaaaa…. Anu, Bapak nyonya, Bapak Ikra--”


Aku menjauhkan ponselku dari telingaku dan hendak mematikan panggilan telepon dari Siti. Mendengar nama Ikram saja sudah membuatku begitu kesal. Tetapi pada akhirnya aku urung dan membiarkan Siti mengoceh dari balik panggilan telepon ini.


Aku lebih memilih menyalakan mode laudsepeker sambil mengambil dompetku dari dalam ransel dan memasukkan sisa uangku kedalam dompet.


“Nyonya. Saya mohon Nyonya ke sini sebentar. Bapak tadi sore pulang-pulang mabuk berat, Nyonya. Bapak juga ngunci diri di kamarnya sejak tadi sore.”


Aku hanya mengendikkan bahuku acuh. Tetapi aku teringat kembali perkataan Mai tadi pagi kepadaku kalau mata Ikram sangat merah dan Ikram juga bau alkhol.


Terlebih lagi ketika hendak memasuki mobil memang Ikram terlihat berjalan sempoyongan, sih. Kenapa juga dia mabuk-mabukan? Dia, kan, bukan tipe badboy yang hobi keluar masuk kelab malam untuk mabuk dan dia juga bukan tipe lelaki yang melampiaskan masalahnya dengan meminum minuman keras.


“Udah, ya, Ti. Nanti tagihan teleponnya membengkak. Saya matiin dulu, ya, panggilan teleponnya,” kataku sambil mendekatkan ponselku dengan bibirku.


“Ya, Allah Gusti, Nyonya! Suaminya kenapa-napa, kok, ya, masih bisa-bisanya mikir tagihan telepon! Kalau Bapak di dalam kamar gantung diri atau bunuh diri gimana?! Soalnya udah dari tadi sore Bapak nggak keluar kamar dan ngunci diri di dalem. Gimana, dong, Nyonya?!”


Kini aku mulai panik. Aku menggigit kukuku, berjalan mondar mandir tidak jelas.


“I-iya. Saya bakalan ke sana. Kamu coba nyari Mang Ujang buat buka paksa pintu kamar kalau setengah jam lagi saya nggak dateng,” kataku dengan panik sambil menyambar dompetku dan mematikan panggilan telepon dari Siti.


“Eh, mau ke mana, An?!” tanya Mai yang melihatku berjalan terburu-buru.


Aku begitu panik*\, bagaimana jika Ikram kenapa-napa?*


...Kalau Bapak di dalam kamar gantung diri atau bunuh diri gimana?! Soalnya udah dari tadi sore Bapak nggak keluar kamar dan ngunci diri di dalem...


Aku menelan ludah ketika mengingat kembali perkataan Siti tadi.


“An!” kata Mai sambil memegang kedua lenganku dan sedikit mencengkeramnya membuat diriku yang tadi tidak fokus kini terdiam menatap Mai yang mengeryitkan dahi melihat ke anehanku.


“I-Ikram. Aku… Aku mau ke rumah Ikram, Mai.”


“Hah, buat apa juga kamu ke sana?” tanya Mai terheran-heran. Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku, bingung hendak menjawab apa.


Awalnya Mai hanya terdiam sejenak, namun setelah itu Mai mengangguk dan hendak mengantarkanku ke rumah Ikram namun aku buru-buru menggelengkan kepalaku, menolak tawarannya secara halus.


“Nggak usah, Mai. Aku naik ojek aja. Lagian Shiren sama Marwa siapa yang jagain kalau kamu nganterin aku?” tanyaku.


Bukan hanya alasan tentang Shiren dan Marwa saja yang membuatku menolak bantuan dari Mai. Ini sudah cukup malam, aku benar-benar tidak ingin merepotkan Mai walaupun aku yakin Mai sebenarnya juga tidak akan merasa kerepotan karena membantuku.


“Marwa sama Shiren lagi dijagain Abinya, kok, An. Kamu nggak perlu sungkan. Kamu, kan, tamu di sini. Itu artinya kamu juga termasuk amanahku. Ayok aku anter, kalau kamu kenapa-napa di jalan malahan akunya yang tambah khawatir,” kata Mai sambil menggandeng tanganku.


Pada akhirnya aku pun menurut saja dengan keputusan Mai untuk mengantarkanku ke rumah Ikram.


Kami menaiaki motor matic milik Mai dan aku membonceng di belakang.


Perjalanan dari rumah Mai ke rumah Ikram tidak terlalu jauh, mungkin menghabiskan waktu sekitar dua puluh lima menitan untuk membelah jalan kota ini, dan untung saja tidak macet.


Kuharap tidak terjadi apa-apa dengan Ikram sampai aku tiba di sana.


Aku memang sakit hati kepada Ikram atas perselingkuhannya yang ia lakukan terhadapku, namun tetap saja aku ini manusia. Aku pasti akan menyalahkan diriku sendiri apabila terjadi apa-apa terhadap Ikram.


Bukannya aku menutup mata atas perlakuan Ikram terhadapku dan dibutakan oleh cinta. Namun aku melakukan ini semua lebih cenderung ke rasa tidak tega, empati, dan kemanusiaan.


Mungkin sebelas dua belas dengan apa yang dulu pernah Ikram lakukan kepadaku ketika dulu ia memelukku dan mengatakan jangan pergi dari rumah saat aku sudah tidak kuat dengan perlakuan jahat oleh Mama Erin.


Atau sama halnya ketika Ikram menggendongku ke kamar ketika dia melihatku tertidur di sofa ruang keluarga ketika aku menunggu kepulangannya dari kantor.


Seberapa peliknya masalah hubungan kami saat ini. Aku hanya berharap saaat ini Ikram baik-baik saja.


“Aku tungguin sampai selesai, ya?” tanya Mai ketika kami sudah sampai di depan gerbang rumah Ikram.


Aku menggeleng kuat-kuat, aku tidak mau sampai Mai harus menungguiku. Bagaimana jika ternyata masalah ini nantinya akan terulur samapai larut malam nanti?


Dengan pelan aku menjelaskan kepada Mai jika lebih baik dia pulang saja. Aku menyuruhnya untuk meninggalkanku saja. Lagi pula aku bisa pulang dengan memesan ojek online nantinya.


Mai mengangguk dan mengatakan semoga semuanya cepat selesai, setelah itu Mai men-starter kembali motor matic-nya dan meninggalkan diriku di sini.


Aku mulai membuka gerbang dan berjalan ke arah rumah. Siti sudah menyambutku dengan wajah tegang dan dia mengembuskan napas lega karena melihat kedatanganku.


Aku menatap ke arah kamarku yang berada di lantai atas. Aku mengatakan kepada Siti untuk tidak perlu berlebihan dan tidak perlu sepanik itu. Semua akan baik-baik saja.


Dan memang benar kata Siti, pintu kamar ini terkunci dari dalam ketika aku mencoba untuk membukanya.


“Kunci cadangannya ada di mana, Ti?” tanyaku kepada Siti. Siti hanya menggelengkan kepala dan mengatakan tidak tahu.


Aku berjalan ke arah ruang kerja Ikram yang letaknya berada di sebelah kamar utama. Aku ingat dengan betul bahwa ruang kerja Ikram memiliki dua pintu sekaligus dan salah satu pintunya terhubung dengan kamar tidur kami.


Embusan napas lega keluar halus dari indra penciumanku ketika mengetahui ternyata pintu yang menghubungkan ruang kerja Ikram dengan kamar utama tidak terkunci.


Dengan gerakan pelan aku memutar gagang pintu ke bawah dan mendorongnya pelan.


Tubuhku kaku seketika ketika melihat Ikram yang berada di dalam kamar sedang tertidur tengkurap di ranjang dengan keadaan yang begitu kacau. Bahkan dia tidak melepaskan sepatunya. Tangan kanannya saat ini sedang menggenggam kaleng minuman beralkohol yang hampir jatuh ke bawah.


Ruangan ini begitu berantakan sekali, beberapa baju berserakan di lantai. Cahaya di dalam ruangan ini begitu redup sekali karena penerangannya hanya berasal dari lampu tidur yang berada di atas nakas yang biasanya menyala secara otomatis ketika lampu ruangan ini dimatikan ketika malam hari.


Aku mengibaskan tanganku di depan hidungku untuk mengusir bau alkohol yang menyengat dari dalam ruanganan ini. Aku benar-benar tidak kuat dengan bau alkohol yang menyeruak indra penciumanku. Dan pantas saja bau alkohol begitu tajam, nampak beberapa kaleng minuman beralkohol yang berwarna kuning di dekat tempat tidur.


Jumlahnya ada lebih dari delapan kaleng yang berserakan di dekat ranjang sana.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, heran, kenapa juga Ikram harus melampiaskan masalahnya dengan cara seperti ini? Setahuku Ikram selama ini lelaki yang begitu amat bijak, bukan mabuk mabukan seperti ini.


Selama kami menikah, jika Ikram sedang ada masalah biasanya dia hanya akan mengunci dirinya sendiri di ruang kerjanya dan tidak mau satu orang pun mengganggunya.


Tapi sekarang setelah kutinggalkan kenapa dia jadi seperti ini?


Aku berjalan ke arah lemari yang tingginya sepinggangku yang berada di sudut ruangan untuk mengambil remote AC yang terletak di atas sana.


Kemudian aku mulai menyalakan pendingin ruangan tersebut dan mulai mengatur ke temperatur yang paling rendah agar menetralkan bau alkohol di ruangan ini.