After Marriage

After Marriage
Desakan



Bedanya selama satu minggu setelah kejadian di mana dia mengatakan jijik tidak mau menyentuhku, aku mengabaikannya selama sekitar satu mingguan. Aku tidak mau memasakan makanan untuknya, aku juga tidak mau mencarikan dasinya. Biar saja dia tahu rasa dan merasa bersalah.


Hingga akhirnya Ikram mengirimiku sebuket bunga dengan memo kecil berisikan kata "Maaf" yang diikat pada buket bunga tersebut. Saat itu aku tersenyum, bunga itu terhitung bunga ke dua yang ia berikan kepadaku sejak kami saling mengenal. Yang pertama ketika dia memberikanku sebuket bunga sebelum menikah dan ini yang kedua setelah kami menikah. Malamnya aku mau memasakkan makanannya sebagi tanda bahwa konfontasi antara kami berdua telah berakhir.


Ikram sudah 'agak' tidak sedingin dulu. Terkadang dia menanyakan kepadaku apakah aku sudah makan atau belum, atau... apakah aku sudah memasakan makan malam untuknya atau ketika dia sedang di perjalanan pulang--ya, meskipun hanya  lewat pesan watssapp, sih.


Tapi aku tetap bersyukur, karena batu yang keras tersebut pasti bisa melunak. Mungkin aku akan memberinya sedikit waktu lagi sampai dia lama-kelamaan akan luluh kembali terhadapku.


Masih ada dua hal yang membuatku sedih.


Yang pertama walaupun hubungan kami sepertinya mengalami perkembangan pasif, tapi kami berdua masih pisah ranjang selama setengah tahun menikah ini sehingga kami pun sampai sekarang juga belum berhubungan intim.


Dan yang kedua, Mama Erin masih merecokiku dan masih tetap saja merengek-rengek meminta cucu kepadaku hampir setiap kali ketika beliau berkunjung ke rumah kami. Hal itu benar-benar membuat kepalaku berasa mau pecah.


"Kamu kapan hamilnya? Ini udah enam bulan, loh, An! Sampai kapan Mama harus sabar?"


Itulah ucapan mertuaku yang ke dua puluh satu kali selama dua bulan ini. Aku memejamkan mata, lelah. Bahkan tanpa kusadari aku sampai menghitung berapa kali Mama Erin mengucapkan kalimat tersebut kepadaku.


Suasana di ruang makan ini benar-benar tidak nyaman sama sekali karena kehadiran Mama Erin. Padahal aku sudah memasak ayam crispy kesukaanku tetap mood makanku terasa hilang begitu saja karena mertuaku yang berisik ini. Kenapa juga Mama Erin kurang kerjaan sampai datang sepagi ini padahal ini hari minggu hanya untuk makan bersama kami dan menagih cucu kepadaku?


Ikram yang saat ini sedang duduk di sebelahku sepertinya tidak terganggu sama sekali dengan ocehan dari Mamanya tersebut, bahkan Ikram masih bisa diam sambil makan dengan lahap sayur sup dengan ayam crispi buatanku. Berbeda dengan diriku yang dengan terang-terangan tidak nafsu makan dan menekuk wajahku.


Sejujurnya aku sangat kesal dengan sikap Ikram yang satu ini. Dia seolah bertingkah bodo amat ketika Mamanya menagih cucu kepadaku. Mungki di mata Ikram suara Mamanya yang mengomel meminta cucu itu ibarat seperti orkesta indah di pagi hari.


Aku *** rambutku frustasi secara terang-terangan. Dia tidak tahu aku ini sudah frustasi di tagih cucu oleh Mamanya terus-menerus.


Ikram melirik sedikit diriku dari sudut matanya, kemudian memfokuskan diri lagi menyantap makanannya kembali.


"Pokoknya besok kamu harus periksa ke dokter kandungan. Siapa tahu kamu bener-bener mandul!"


Gigiku mengerat mendengar ucapan mertuaku barusan. Apakah dia tidak paham jika ucapan adalah sebuah doa? Wanita mana yang tidak kesal dikatai begitu. Bagaimana jika kenyataannya yang mandul anaknya, hah? Bagaimana bisa aku hamil jika tidak ditiduri suamiku.


Dengan kesal aku membanting keras sendokku ke piring sampai menimbulkan suara keras. Mama Erin melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan sama seperti Ikram yang menatapku tidak percaya. Emosiku meluap sudah. Persetan dengan sopan santun dan janjiku kepada Mama! Seharusnya orang tua di depanku inilah yang harus belajar mengenai etika dan sopan santun.


"Dasar menantu nggak ada sopan santunnya sama sekali! Orang tua lagi ngomong malahan pergi seenaknya! Miskin nggak berpendidikan, ya, kayak gitu jadinya."


Napasku memburu, kali ini aku tidak menangis seperti diriku yang dulu-dulu waktu awal Mama Erin memakiku. Mungkin hatiku sudah mati sampai kini yang ada hanya rasa emosi di hatiku yang begitu memuncak. Aku memasuki dapur dan mengusap wajahku lelah, bahkan makian yang saat ini sedang Mama Erin lontarkan kepadaku masih dapat tertangkap oleh telingaku dari ruang dapur ini.


Kenapa Ikram menempatkanku pada posisi sesulit ini?


Tanpa kusadari ternyata Mama Erin berjalan memasuki dapur dengan wajah penuh amarah. Kemudian tangan kanan Mama Erin mencengkeram erat lengan kiriku membuatku meringis kesakitan.


"Ma, udah, Ma. Tolong lepasin Anha, Ma," kata Ikram mencoba melepaskan tangan Mamanya dari lenganku.


"Inget, ya! Kalau kamu bener-bener nggak bisa ngasih saya cucu dalam waktu dekat ini maka jangan salahin saya kalau saya bakalan nyuruh Ikram buat ceraiin kamu! Buat apa saya punya menantu yang nggak berguna dan nggak bisa ngasilin anak kayak kamu!" ucap Mama Erin sambil mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ke arah wajahku.


Sekujur tubuhku kaku membeku mendengar ancamannya barusan. Dia akan menyuruh Ikram mengceraikanku? Mataku mulai berkaca, kenapa Mama Erin sejahat itu kepadaku.


"Ma, udah, Ma! Lepasin tangan Anha!"


Ikram masih mencoba melepaskan tangan Mamanya dari lenganku, aku menangis dan merasakan begitu sakit pada lenganku yang masih dicengkeramnya dengan kuat. Pada akhirnya Mama Erin akhirnya menghempaskan tubuhku dengan kasar.


"Alah! Dia itu cuma akting biar kamu kasihan sama dia. Dasar mantu nggak guna!"


Kemudian setelah itu Mama Erin berjalan keluar dari dalam dapur meninggalkan diriku dan Ikram.


"Kamu nggak papa, kan, An?" kata Ikram tampak khawatir. Aku hanya diam membisu tidak menjawab perkataan Ikram sambil masih memegangi lengan kananku yang terasa begitu sakit.


Kuseka air mataku dengan punggung tanganku. Ikram mencoba memeriksa lengan kananku yang sepertinya memerah dan terkena sedikit goresan dari kuku Mama Erin, namun aku menepis tangan Ikram membuatnya terdiam dan menatapku tidak percaya.


Aku tidak pernah semarah ini terhadapnya. Dibanding marah, mungkin aku sedang kecewa terhadapnya. Setelah itu aku menaiki anak tangga mengunci diriku sendiri di dalam kamarku. Terdengar Ikram yang menggedor-gedor pintu kamar namun tidak aku pedulikan sama sekali.


Aku menangis dan memengecek lenganku yang memang sangat merah dan kulitku sedikit lecet. Dan pada akhirnya seharian penuh aku mengunci diriku di dalam kamar sampai menunggu Ikram berangkat ke acara temannya baru aku mau keluar dari kamarku.