After Marriage

After Marriage
PANTAI



Sean mengembuskan napas lelah. Andai saja tidak ada gangguan teknis dari Vany. Pasti saat ini Sean akan mengajak Anha untuk menonton bioskop bersama. Seperti pasangan kekasih yang lainnya begitu. Pasti akan sangat romantis sekali.


Akhirnya Sean membatalkan rencana menonton film. Sean bergerak memasangkan helm untuk Anha.


“Habis ini kita mau ke mana lagi?” tanya Anha karena hari sudah mulai agak sore. Matahari sudah tidak seterik dan sepanas tadi. Apakah kencan meraka sudah berakhir? Sean tidak menjawab sama sekali perktaan Anha. Karena kali ini sangat rahasia sekali.


Sean melajukan motornya untuk ke tempat tersebut.


Mata Anha berbinar ketika mengetahui ke mana Sean membawanya pergi.


Ternyata tujuan terakhir mereka adalah…


Pantai!


Semilir angin pantai yang menyejukkan langsung menyambut Anha. Udara yang masih asri, langit biru yang membentang luas. Air pantai yang sedang bekejar kejaran menyejukkan pandangan. Anha membentangkan tangannya, menutup mata, dan menghirup udara segar sedalam dalamnya. Ini benar benar surga!


Anha sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya dia mengunjungi pantai. Mungkin Sembilan tahun yang lalu… atau mungkin sudah sepuluh tahun yang lalu.


Dia tidak ingat dengan betul kapan waktunya. Tetapi yang dia ingat hanyalah satu, terakhir kali Anha ke pantai ketika dia masih kelas lima SD, ketika keluarganya masih utuh dan ayahnya masih menemaninya ke pantai.


Anha mengusap air matanya yang entah mengapa keluar. Mungkin karena dia terbawa suasana.


Ia lebih memilih melepaskan sepatunya dan kakinya menyentuh lembut pasir pantai yang berwarna putih dan Anha sesekali membungkukkan punggungnya untuk mengambil kerang yang cantik di dekat kakinya.


Sean tersenyum melihat Anha sebegitu bahagianya.


Ketika Anha sedang asyik dengan dirinya sendiri. Sean bergerak mendekat dan memeluknya dari belakang dan menaruh kepalanya ke pundak Anha. Mulanya Anha agak kaget dengan sikap Sean barusan.


“Se—Sean,” kata Anha dengan pelan sambil mencoba melepaskan lengan tangan Sean yang menguncinya dari belakang. Sean pun melepaskan pelukan tersebut dari Anha.


“Tante suka?” tanya Sean. Anha mengangguk dengan semangat.


“Kalau tante suka, aku janji setelah aku dari Singapura. Aku bakalan ngajak tante ke pantai lagi waktu aku pulang ke Indo nanti.”


“Janji? Janji?” kata Anha sambil berbinar dan mengacungkan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan jari kelingking Sean sebagai bentuk ikatan janji mereka berdua.


Sean terkekeh kemudian menautkan kelingkingnya dengan kelingking kecil milik Anha.


“Janji, Tante.”


Anha tersenyum senang. Lucunya. Sean dengan gemas mengusap pelan rambut Anha dan dibalasnya dengan Anha yang gantian mengusap rambut Sean. Mereka berdua pun terkekeh tidak jelas.


“Tante, Sean mau ngomong sesuatu ke tante,” kata Sean dengan mimik wajah yang sekarang berubah menjadi serius. Jantung Anha mulai berdetak  tidak karuan. Apa jangan jangan Sean akan menyatakan perasaanya, ya? Kenapa suasana berubah seperti ini dari ceria menjadi tegang?


Sean menggenggam jemari Anha. Kemudian matanya menatap netra cokelat milik Anha dan megunci padangan tersebut.


“Tante, makasih, ya, karena selama ini udah jadi tante, kakak, mama, sahabat, teman, buat Sean. Sean seneng banget bisa kenal dan deket sama Tante,” kata Sean sambil tersenyum dengan hangat kepada Anha.


Anha terdiam, matanya berkaca, dia terharu. Ini seperti kalimat perpisahan. Walaupun Sean tengil bukan main. Tapi Anha tetap sedih dan merasa kehilangan kalau nanti Sean pergi ke Singapura.


Bagaimanapun, Sean sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Pun sama, Sean juga sudah menganggap Anha seperti kakaknya sendiri. Sean menemukan figure ibu yang hilang dari kehidupannya di sosok Anha. Kemudian Sean memeluk Anha dalam dekapannya.


“Sean jangan pergi,” kata Anha dengan serak sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sean. Sean mengusap rambut Anha. Semakin Anha mengatakan hal tersebut, semakin berat baginya meninggalkan Anha.


***