After Marriage

After Marriage
Ciuman Terpanas



Setelah selesai menata mawar tersebut di dalam pot kaca. Aku menghampiri Ikram. Tetapi kali ini aku tidak mau duduk di sofa sebelahnya melainkan aku lebih memilih duduk dipangkuannya. Ikram tersenyum kemudian mencium pipiku sekilas membuatku malu.


"Ngomong apa?"


"Gimana soal kemarin?" tanyanya menagih jawaban dariku. Aku mengembuskan napas lelah, kupikir dia lupa dengan perihal yang kemarin sempat kami bicarakan.


Kemarin Ikram menyuruhku berhenti bekerja dari kantorku dan dia menyuruhku untuk menjadi Ibu Rumah Tangga saja ketika kami menikah nanti. Awalnya aku tidak mau karena enam bulan ini aku sudah nyaman bekerja di sana, terlebih aku sangat menikmati pekerjaanku, gajiku juga sudah tetap. Tetapi setelah melalui diskusi yang panjang dengan Ikram, akhirnya aku mengalah dan memilih untuk resign dari pekerjaanku karena Ikram begitu memaksaku menjadi Ibu ramah tangga saja. Dia memintaku duduk manis di rumah dan melayaninya dengan baik.


Sebelumnya aku masih ngotot tidak mau dan merasa aku bisa bekerja sambil mengurusnya. Namun Ikram ternyata tetap keras kepala dan menyakinkanku biar dia saja yang bekerja dan menghidupiku, tentu saja pendapatannya lebih dari cukup untuk menghidupiku. Akirnya dengan agak berat hati aku mengalah karena pada dasarnya besok ketika kami sudah resmi menikah, apa pun yang dia ucapkan sebisa mungkin aku turuti selama hal itu baik dan benar karena baktiku akan jatuh kepada suamiku.


"Iya-iya aku bakalan resign. Puas?" kataku kesal sambil mengangguk sebagai jawaban meskipun bibirku mengerucut sedikit tidak terima dengan keputusan tersebut. Ikram terlihat senang mendengar jawabanku.


"Tapi nanti jatah bulananku tujuh puluh juta, lho, Mas," kataku dengan asal sambil membelai pipinya yang memerah—mungkin karena aku baru saja memanggilnya dengan sebutan 'Mas' dengan nada genit pula. Ikram hanya tersenyum dan mengamati diriku tanpa berkedip sama sekali.


"Serius, deh. Aku dari tadi nahan diri buat nggak nikam kamu. Apalagi rumahmu sepi kayak gini," kata Ikram sangat pelan membuatku tertawa geli.


"Mesum!" kataku sambil memukul pelan bahunya. Ikram tersenyum.


"Nggak papa, lah. Kan, mesumnya cuma sama kamu."


"Ih, kamu nakal, ya, ternyata. Padahal wajahmu polos banget, loh, Mas," kataku sambil tertawa cekikikan kemudian mencium pipi Ikram sekilas. Mumpung rumah masih sepi karena Mama sedang bekerja.


Tanpa kusadari Ikram tiba-tiba bergerak hendak bangun dari posisi duduknya membuat tubuhku hampir terjatuh karena dari tadi aku masih berada di pangkuannya. Mataku membulat ketika tanpa aba-aba Ikram mendorong tubuhku sehingga kini aku berada di bawahnya. Ikram menindihku, dia menahan tanganku di atas.


Aku menelan ludahku. Mataku membulat penuh.


Apa yang hendak ia lakukan?


"Ka—kamu mau apa?" tanyaku terbata.


"Menurutmu aku mau apa?" katanya dengan santai sambil tersenyum miring.


Aku kesusahan menelan ludahku. Ikram semakin memajukan wajahnya hingga jarak wajahku dengan wajahnya hanya tinggal beberapa senti saja dari wajahku.


Aku memejamkan mataku. Aku dapat merasakan embusan napasnya yang artinya jarak wajahnya dengan wajahku sudah begitu dekat.


Apa yang akan dia lakukakan? Apa dia akan menciumku? Atau lebih dari sekadar itu mengingat rumah kami sedang sepi?


Aku menahan senyum, sepertinya imajinasiku mulai liar.


"Kenapa manyun-manyun kayak ikan duyung gitu?" katanya membuat mataku refleks langsung terbuka. Seketika Ikram tertawa lepas. Aku yakin sekarang wajahku semerah kepiting rebus saat ini. Malunya aku! Aku memukul pelan bahunya dan menampilkan wajah kesalku. Dia ini keterlaluan sekali! Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku karena sangat malu.


Lalu kemudian Ikram mencium keningku cukup lama sambil mengatakan,


"Aku nggak bakal macem-macem sama kamu sebelum kita resmi menikah karena aku sangat ngehargai kamu. Karena kalau cowok bener-bener cinta sama kamu, dia nggak mungkin tega ngerusak kamu, Sayang."


Ya, ampun.


Hatiku luluh.


***


Ikram menopang dagunya dengan tangan kanannya di pinggiran meja riasku, kemudian dia mengembuskan napas bosan menungguku yang dari tadi sibuk menggambar alis sebelah kiriku.


Namanya juga wanita, sangat wajar, kan, jika lama ketika berdandan.


"Masih lama?" tanyanya lagi dengan wajah bosan.


"Lima menit lagi, kok," kataku sambil kembali sibuk berkutat dengan pensil alis di tangan kananku.


Rencananya Ikram akan menemaniku ke acara tasyakuran kehamilan Mai, kemudian pulangnya Ikram akan mengajakku kerumahnya untuk mengenalkanku pada Mamanya serta meminta restu karena hari ini Mamanya pulang dari luar negeri.


"Masih lama, ya?" ulangnya yang kesekian kalinya.


Ikram mengembuskan napas dan menekuk wajahnya.


"Sabar, Sayang."


Pipi Ikram memerah mendegar aku memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.


"Udah cantik, kok. Yuk, ah. Keburu acaranya udah selesai nanti."


Ikram yang awalnya duduk di sebelahku kini berganti berdiri di belakangku, kemudian dia memelukku dari belakang. Tentu saja kami bisa bermesraan mengingat hari ini Mama tidak di rumah karena sedang bekerja.


"I Love you," bisiknya pelan.


"Love you too."


Setelah memoleskan lipstik merah tua untuk sentuhan terakhir, aku mengahadap ke cermin untuk melihat hasil karyaku di wajah cantikku ini. Kemudian aku berbalik badan dan menatap Ikram untuk meminta pendapatnya.


"Bagus nggak? Alisku simetris, kan."


Ikram tidak menjawab perkataanku namun dia hanya menatapku dalam diam membuat pipiku memanas, aku menunduk malu karena ditatap seperti itu. Ikram menaikkan daguku, tanpa kusadari dia mendekatkan kepalanya dan menciumku bibirku lembut—daripada berciuman, lebih tepatnya dia seperti hanya menempelkan bibirnya pada bibirku, tidak ada lumatan sama sekali di antara ciuman kami.


Ikram menyisipkan jemarinya di rambutku dan mengecupku lalu menyudahi ciuman kami.


"Kamu cantik banget, An."


Aku tersipu mendengar pujiannya.


Ikram melepaskan tangannya dari rambutku dan membenarkan bajunya.


Hah, sudah begitu saja? Aku pikir kita akan sampai macam-macam, seperti... berakhir di ranjang kamarku begitu.


"Ikram," kataku pelan.


"Ya?"


Aku mengalungkan lenganku di lehernya dan tersenyum nakal kepadanya, Ikram terlihat kesusahan menelan salivanya—terlihat dari jakunnya yang bergerak. Aku menarik Ikram agar lebih mendekat kepadaku, kemudian aku menutup mata dan mencium lembut bibir merah miliknya. Ikram hanya diam saja tidak merespons ciumanku.


Apa dia belum pernah berciuman sebelumnya, ya? Atau mungkin dia malu dan tidak terbiasa berciuman dengan wanita lain? Tidak mungkin, kan, pria sepanas ini tidak pernah berciuman selama hidupnya?


Akhirnya aku yang berinisiatif terlebih dahulu untuk memulai. Awalnya aku hanya mengecup bibirnya ringan, kemudian kecupan tersebut berubah menjadi lumatan. Ikram menarik pinggangku sehingga jarak kami semakin mendekat. Aku *** rambut hitamnya ketika lidahnya merangsek masuk dan membelit lidahku.


Botol handbody di meja riasku sampai terjatuh ke lantai dan beberapa alat makeup-ku berantakan ketika Ikram mendorong tubuhku ke belakang hingga tubuh kami menempel satu sama lain tanpa menyisakan jarak satu senti pun.


Damn! He's good kisser!