
Aku mencoba tersenyum kepadanya meskipun dia tidak melihat senyumku karena saat ini Ikram sedang menunduk ke bawah.
"Kalau dipikir-pikir lagi… Sebenernya ini nggak seratus persen kesalahan kamu, kok, Mas. Bahkan mungkin bisa jadi di sini kamu juga nggak salah dan aku yang salah. Aku bohongin kamu di awal pernikahan kami dan itu wajar kalau kamu kecewa sama aku.”
Ikram terdiam, membiarkanku bermonolog sendirian.
“Waku itu aku juga mohon ke kamu buat ngizinin aku tinggal di rumah kamu selama empat bulan waktu itu. Setelah itu, saat satu bulan kita menikah, kamu kenal sama Dewi di acara reuni. Ya, itu sah-sah aja karena emang dulu kamu emang udah niat dan bertekad buat nyerein aku."
Aku menarik napas dalam-dalam. Dan Ikram masih saja terdiam, bedanya saat ini dia sudah tidak menunduk lagi. Kini dia menatapku dengan mata sendu. Kesedihan itu terukir dengan jelas di netra cokelat yang dulunya selalu menjadi netra terindah favoritku.
"Tapi seharusnya kamu ngomong dulu ke aku Mas kalau kamu udah suka sama orang lain waktu satu bulan kita menikah. Kan, dengan begitu aku bisa mundur. Kalau dulu kamu ngomong sama aku kalau kamu suka sama temen SMA—mu, mungkin aku waktu itu bisa ngekos atau bisa pergi dari rumah kamu. Kesalahanmu itu seharusnya kamu nunggu sampai kita resmi bercerai dulu baru kamu puas puasin nikah sama si Dewi itu. Bukannya malahan nyelingkuhi aku kayak gini. Apa pun alasannya, nggak ada pembenaran sama sekali, Mas, mengenai khasus perselingkuhan."
Ikram terdiam. Dia tidak dapat menjawab perkataanku sama sekali.
"Tapi aku cinta, An, sama kamu. Dan aku nyesel banget, An, karena dulu aku udah sebodoh itu sampai aku ada main di belakang kamu dan nyia-nyiain kamu," katanya dengan memelas agar kami bisa kembali bersama.
Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak mau goyah atas pendirianku itu.
Aku tetap ingin bercerai.
Bilang saja aku egois karena tidak mau memberinya kesempatan ke dua. Tetapi aku tidak mau mengambil risiko kalau nantinya aku akan terus terusan mengingat perselingkuhan Ikram dengan Dewi di hotel itu.
Aku masih ingat dengan jelas. Mereka berdua telanjang, saling berhubungan intim satu dengan yang lainnya.
Aku memegang dadaku, bahkan dengan hanya mengingatnya saja rasanya sudah sangat sesak sekali.
"Terus, kenapa kamu beliin Dewi mobil, Mas? Hebat banget, ya, kamu, Mas. Bahkan aku yang statusnya istri SAH-mu aja nggak nggak kamu beliin mobil, Mas," kataku memancing lagi, sungguh aku tidak ada niatan meminta ini itu kepada Ikram. Juga tidak ada rasa iri sedikit pun dalam hatiku mengenai Dewi yang dibelikan dua mobil oleh Ikram. Aku hanya ingin mendengar alasan versi Ikram saja.
Namun Ikram saat ini malahan hanya terdiam saja sambil menelan ludahnya, ia kebingungan hendak menjawab apa perkataanku itu.
“Ka-kamu tau dari mana?” tanyanya.
“Dari Dewi langsung. Kenapa? Kamu nggak bisa jawab pertanyaanku itu?”
“A—aku cuma kasihan sama dia yang harus repot repot naik ojek ke kantor. Ma—makanya aku beliin dia mobil. Dan sekalian juga aku beliin orang tuanya mobil karena mobil orang tuanya udah jelek.”
Ikram menelan ludah ketika mengatakan hal tersebut. Lalu dia menyambung kembali ucapannya tadi…
“La—lagian kamu nggak pernah, kan, minta mobil ke aku? Kalau kamu minta sama aku. Ya, jelas aja aku bakalan beliin kamu juga, An. Lagian di ruamah kamu, kan, juga ada supir pribadi kita.”
Aku tersenyum miring mendengarnya. Lucu.
“Bukan karena kamu udah bisa dapetin keprawanan Dewi, ya? Maka dari itu kamu ngasih mobil itu ke Dewi sebagai bayaranny—”
“An!” kata Ikram dengan tegas. Seolah dia tidak suka dengan apa yang aku ucapkan barusan. Aku terdiam, agak sedikit tidak percaya dengan responsnya barusan.
"Bisa nggak, sih, An, kita nggak usah bahas Dewi dulu? Aku cuma mau pembahasan kita kali ini cuma tentang aku sama kamu aja," katanya sambil menunduk lesu membuatku mengeryitkan dahi seketika.
Terus Dewi kau kemanakan sialan?! Kataku dalam hati. Kesal bukan main.
"Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu dan mau memohon sama kamu biar kamu mau pulang ke rumah kita lagi, Anha."
Kali ini Ikram bergerak hendak menyentuh tanganku. Dan kali ini juga aku tidak menepis tangannya sama sekali. Bukannya aku mau disentuh olehnya, tetapi aku ingin mengujinya lebih jauh lagi.
"Aku cinta banget, An, sama kamu. Aku nggak mau kita pisah. Maafin aku sayang," katanya sambil menatap mataku lamat-lamat.
"Apa kamu sanggup buat ninggalin Dewi demi aku?" kataku membuatnya terdiam seketika. Wajah Ikram nampak pias seperti tersambar petir di siang bolong ketika mendengar penuturanku tersebut.
Aku hanya mampu tersenyum miring kepadanya. Benar, kan, dugaanku? Ikram tidak mau sama sekali untuk meninggalkan Dewi tetapi dia juga tidak mau kehilangan diriku.
Egois.
Serakah.
Kini Ikram melepaskan pautan tangan kami berdua, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar. Nampak dia terlihat begitu sangat frustasi bukan main.
"Aku nggak bisa, An, ninggalin Dewi," kata Ikram membuat hatiku seolah di remas. Apa memang Dewi seberharga itu di matanya karena dia perawan sedangkan aku tidak?
“Apa karena Dewi perawan sedangkan aku udah nggak perawan lagi gitu, Mas?” tanyaku kepadanya.
Ikram mengeryit. Wajahnya Nampak tidak suka dengan apa yang baru saja aku ucapkan.
“Please, An. Ini semua nggak ada hubungannya sama sekali mengenai perawan atau nggak perawan. Aku… nikahin Dewi, karena dulu aku cinta sama dia.”
Aku membuang muka, napasku memburu tidak karuan. Aku benci setiap kali Ikram membahas kisah percintaannya dengan Dewi.
“Sorry. Maka dari itu aku mohon kita nggak usah bahas lagi tentang Dewi. Aku nggak suka.”
Aku mengepalkan tanganku erat erat. Kenapa dia tidak suka jika aku membahas tentang Dewi saat ini? Th, Dewi kan orang ketiga dalam hancurnya rumah tangga kami berdua, bukan?
"Kenapa?" tanyaku.
“Apanya yang kenapa?” kata Ikram tidak mengerti.
“Kenapa kamu nggak bisa ninggalin Dewi tapi kamu malahan bilang ke aku kalau kamu cinta mati sama aku. Kamu gila, ya, Ma—”
Deg!
Kata-kataku terasa seketika saat itu juga langsung terputus sesaat.
Jantungku terasa berdetak lebih keras dari sebelumnya.
Apa jangan jangan…
Jangan-janga Dewi sudah hamil anak Ikram sehingga Ikram tidak mau meninggalkannya?