After Marriage

After Marriage
Lamaran 2



Aku masih ingat dengan jelas ketika waktu pertama kali Ikram datang ke rumahku. Tanpa terduga sama sekali dia meminta restu kepada Mamaku untuk serius menikahiku.


Rasanya itu semua seperti mimpi!


Bahkan sudah hampir satu minggu lebih aku masih tidak percaya jika cincin berlian yang saat ini melingkar indah di jari manisku adalah cincin pemberian darinya. Dia menekuk kaki sebelah kanannya, kemudian membuka kotak berisi cincin permata ini dan mengatakan,


"Will you marry, Me?"


Tanpa menunggu lama aku mengangguk dan Ikram memasangkan cincin berlian ini di jari manisku kemudian mengecup punggung tanganku dengan lembut.


Ikram, lelaki yang sejak awal sudah mencuri hatiku dua bulan lagi akan menjadi suami sahku.


Dia benar-benar membuatku luluh, dia sangat berbeda dengan Ray—mantanku yang dulu. Ikram tidak perlu basa-basi menjanjikan pernikahan kepadaku! Dia langsung to the point mendatangi orang tuaku untuk meminta restu. Dia benar-benar pria yang gantle! Bukan seperti Ray si mantan sialanku yang sudah meniduriku namun hanya menjanjikan menikahiku.


Dan sialnya pada akhir cerita cinta kami, dia menikah dengan gadis lain.


Ah, sudahlah. Dia, kan, tidak lebih dari sekadar mantanku.


Jangan mengingat orang tidak berguna itu, Anha, kataku dalam hati.


Aku membayangkan Ikram dalam imajinasiku. Hidung mancungnya. Bibir merah merekah yang selalu ingin sekali kukecup meskipun hanya satu kali. Mata cokelat indahnya yang selalu menatapku penuh memuja. Sikap manisnya ketika memperlakukanku dengan lembut, dia yang selalu menggenggam erat jemariku ketika kami berjalan beriringan berdua. Dia yang selalu mengusap lembut pucuk kepalaku.


Dua bulan. Dua bulan lagi dia akan resmi menjadi suami sahku.


Kenapa rasanya dua bulan begitu lama sekali?


Waktu itu, ketika Mama menanyaiku apakah aku mau menerima lamaran dari Ikram. Dengan malu-malu aku menganggukkan kepala, tanda iya. Seketika senyum bahagia dari Ikram mengembang, begitu puas dengan jawabanku.


Tetapi sayangnya waktu itu orang tuanya tidak dapat ikut hadir ketika Ikram melamarku karena Mamanya masih berada di luar negeri. Ikram mengatakan minggu ini dia akan mengajakku kerumahnya untuk mengenalkanku kepada orang tuanya sekalian meminta restu dari Mamanya.


Ketika Ikram hendak pamit untuk pulang, Mamaku menciumi kedua pipi Ikram seperti Ikram adalah anaknya sendiri, kemudian Mama juga memeluknya erat. Mungkin Mama sebegitu bahagianya karena putri kesayangannya ini akan segera menikah.


Tetapi ketika Ikram sudah pulang dari rumahku, ketika hanya ada aku dan Mama saja di ruang tamu. Perkataan Mama menyadarkanku bahwa Mama sebenarnya belum seratus persen merestui hubungan kami berdua, mungkin masih tujuh puluh lima persen Mama merestui hubungan kami ini.


"Mama, sih, nggak ada masalah kalau kamu emang cinta dan niat banget buat nikah sama dia. Dia kelihatannya anaknya baik, dan Mama menghargai keberanian dia buat datang ke sini untuk minta restu ke Mama. Mama tahu, empat bulan itu waktu yang lama buat kalian ngenal satu sama lain. Tapi, ingat, loh, ya, sama satu hal ini... Sebelum kalian nikah. Alangkah baiknya kamu harus tahu baik dan buruknya calonmu itu secara detail. Karena apa? karena saat orang lagi jatuh cinta apalagi sebelum menikah itu biasanya yang kelihatan cuma manis-manisnya aja. Yang buruk-buruknya belum kelihatan. Kamu sering-sering, deh, ajak dia main ke rumah kita biar Mama juga sekalian bisa kenal dekat sama calon menantu Mama. Biar Mama bisa nilai dia juga."