After Marriage

After Marriage
Bersiap



“Aku cuma takut aja kalau seumpama mantan suamiku--Ikram--gangguin hubungan kita.” Hasan terdiam sejenak mendengar penuturan dari Anha tersebut. Benar juga, seharusnya semakin mereka mempercepat hari pernikahan maka akan semakin bagus.


“Tapi… kamu yakin siap ngehadapin orang tuaku kalau seumpama mereka nggak cocok sama kamu?” tanya Hasan dengan saksama.


Hasan memutus sejenak ucapannya tersebut.


“Aku nggak bisa berjuang sendiri, An. Aku juga butuh kamu dengan kondisi yang bener bener siap ngehadepin orang tuaku.


Anha menganggukkan kepala. Siap tidak siap maka kenyataan memang harus dijalani.


“Aku siap, kok. Buktinya dulu aku udah ngelalui ketika Mama mertuaku nggak suka sama aku.”


“Oke. Kalau gitu udah nggak ada yang diraguin lagi. Kamu mau kapan ke rumah aku?” tanya Hasan sambil menghabiskan sisa kentang goreng di atas piring tadi.


Hmm… sayang sekali Mama Anha memasaknya hanya sedikit. Atau jangan jangan tadi Hasan terlalu menikmati, ya.


“Sekarang aja gapapa,” kata Anha dengan santai sambil mengusap bibirnya menggunakan tissue yang tadi diambilnya dari atas meja.


“Hah, serius?!”


“Iyalah. Kenapa? Kamu nggak mau?”


Anha cemberut dan menampilkan puppy face memelas andalannya. Hasan hanya meringis dan mengusap kepala Anha dengan manja karena gemas dengan wanita ini.


Anha menepis tanga tersebut dan memanyunkan bibirnya. Kenapa, sih, sekarang Hasan hobi mengusap kepalanya. Seperti Sean saja.


Anha tersenyum dalam hati teringat si bocah tengil tersebut. Ah, Sean. Bagaimana, ya, kabarnya saat ini? Pasti dia di Singapura saat ini sedang menggoda gadis gadis cantik.


“Yaudah. Ayo berangkat sekarang. Pasti Mama sama Papa masih di rumah, kok.”


Anha tersenyum dan langsung bangkit dari posisi duduknya.


“Oke. Aku mandi dulu, ya. Kamu tungguin aja di dalem.”


Setelah mengatakan hal tersebut Anha sudah berlalu masuk ke dalam rumah. Hendak bersiap siap dan mandi terlebih dahulu.


***


Hasan menarik napasnya dalam dalam, kemudian mengembuskannya perlahan lewat mulutnya. Berkali kali Hasan menengok jam tangannya sambil masih duduk duduk dengan risau di sova ruang tamu Anha.


Aduh. Apakah memang bukan rahasia umum ketika wanita berdandan pasti sangat lama? Anha bilang tunggu lima menit, sedangkan sekarang sudah lima puluh menit lebih.


Jelas saja Hasan merasa bosan sekali. Menunggu adalah hal yang menjemukkan sekali.


Anha melihat lihat ke ruang sekitar. Kini matanya menangkap foto dengan figura berwarna emas. Menampilkan potret Anha yang diapit oleh Ayah dan ibunya.


Kalau dilihat lihat sekilas. Anha sangat mirip sekali dengan ibunya ketika masih muda. Seperti manusia copy paste secara nyata. Yang membedakan hanyalah rambut Ibunya yang bergelombang.


Di sana nampak Anha yang tersenyum amat manis sambil memeluk boneka beruang agak besar, dengan rambut dikucir dua. Lucunya. Membuat Hasan tersenyum senyum sendiri.


“Gimana? Cantik nggak?”


“Cantik, kok,” kata Hasan dengan refleks masih tersenyum senyum sendiri sambil masih saja menatap foto dalam figura tersebut tanpa sadar tadi adalah suara dari Anha.


Anha yang sudah keluar dari kamarnya dengan riasan yang cantik pun cemberut karena merasa saat ini dia sedang diabaikan oleh Hasan.


“Maksudnya aku cantik apa enggak?” ulang Anha lagi sambil bersedekap dada. Barulah Hasan memalingkan pandangan ke arah sumber suara.


“Eh, gimana?”


Hasan terdiam, pipinya memerah melihat Anha yang begitu cantiknya dalam balutan dressnya.


“Cantik, kok. Cantik banget.”


Hasan menetralkan nada bicaranya yang terdengar Aneh dengan cara berdehem. Anha tertawa melihatnya.