After Marriage

After Marriage
Makan Berdua Dengan Sean



Anha menampilkan ekspresi sedihnya ketika es krim tersebut benar benar di makan anak kesetanan di sebelahnya ini. Padahal es krim tersebut sangat enak sekali, ditambah antrianannya banyak. Tidak mungkin juga kalau dia mengantre ulang untuk membeli es krim tersebut.


Sean yang melihat tante kesayangannya menampilkan mata yang berkaca kaca menjadi tidak tega dan merasa sangat bersalah kepadanya.


“Ta—tante… ja—jangan nangis, dong,” bujuk Sean sambil mencoba menenangkan Anha.


“Es kyim…” kata Anha dengan imut seperti anak umur lima tahun yang meminta permen ke pada orang tuanya.


Uh, siapa juga yang tega membiarkan wanita secantik ini hampir menangis hanya karena es krimnya di rebut. Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung hendak melakukan apa.


“Gimana kalau kita makan di restoran jepang aja, Tan? Sean nggak sabar kalau harus antre selama itu. Pengen aku beli semuanya malahan,” kata Sean sambil menggerutu dengan wajar datar. Anha tertawa mendengar hal tersebut, sok kaya sekali anak ini. Tapi kasihan juga dan ada benarnya kata Sean. Sekarang saja tampak begitu banyak orang yang sedang mengantre membeli es krim sampai natreannya mengular seperti itu.


Sean tersenyum karena Anha sudah mulai tidak sebal lagi kepada dirinya.


Akhirnya Anha menurut dan mau mengikuti Sean untuk mampir sejenak ke restoran jepang yang berada di lantai dua Mall ini. Sean memesan banyak sekali makanan. Tetapi favorit Anha adalah sushi. Sean tersenyum melihat Anha sebegitu lahapnya menyantap hidangan tersebut.


“Sean. Masak sih kamu di sekolahan nggak punya pacar?” tanya Anha sambil mengunyah makanannya. Sean menggeleng dan sibuk menyumpit makanannya.


“Nggak punya, Tante.”


“Alasannya? Bukanya biasanya anak cheerleaders sama anak OSIS pasti cantik cantik, ya, Sean?  Masak nggak ada yang narik hati kamu sama sekali?”


“Nggak ada tante. Sumpah,” kata Sean sambil mengacungkan kedua jarinya ke atas.


“Aku nggak suka sama mereka. Masih pada bocah. Suka ngambekan dan manja nggak jelas. Ribet tante kalau pacaran sama yang seumuran. Enakan pacaran sama yang mateng mateng kayak tante. Pasti Hot dan mantap,” kata Sean sambil tersenyum cengengesan.


Anha yang mendengarnya refleks menendang kaki Sean dan mendelik kesal. Menghadapi anak ini memang harus ekstra sabar sekali.


Ketika mereka sedang asyik makan dan ngobrol bersama, tiba tiba seseorang datang menghampiri Sean dan Anha.


“Sean! Ini kamu beneran Sean, kan? Aku nggak percaya banget kita bisa ketemu di sini! Ya, ampun!” kata seorang perempuan dengan begitu semangatnya membuat Sean dan Anha menengok serentak ke arah sumber suara.


Anha hanya diam dan mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi. Perempuan muda tersebut nampak seumuran dengan Sean. Ah, mungkin saja dia dalah teman sekolahnya.


Sean hanya cuek, tidak menjawab apalagi menengok ulang ke perempuan tersebut. Dia adalah Vany, anak OSIS di sekolahannya yang memang menyukainya. Tetapi Sean tidak. Kan, Sean sudah bilang kalau dia tidak menyukai perempuan yang usianya sepantaran dengan diriya. Mereka itu sifatnya sangat merepotkan dan tidak ada bagus bagusanya. Mendingan dengan yang lebih tuaan dari pada dirinya karena bisa mengemong dengan baik.


Ah, kenapa juga, sih, dia harus bertemu dengan Vany di sini, sih! Apalagi ketika dia sedang berkencan dengan Anha. Bagaimana jika tantenya itu salah paham. Hancur sudah hari menyenangkan ini.


“Sean, aku boleh duduk dan ikut makan bareng nggak?” tanya Vany sambil menyentuh bahu Sean sambil tersenyum.


***