After Marriage

After Marriage
Takdir Sebercanda Itu (1)



“Cepet buka mulutnya,” kata Anha agak memaksa. Tapi apa mau dikata, Hasan akhirnya mau mau saja. Toh, beberapa orang saat ini sedang sibuk dengan urusannya masing masing.


Anha bergerak menyuapi cake strawberry tersebut kepada Hasan. Hasan membuka mulutnya dan menikmati cake yang disuapi oleh Anha dengan senang.


“Cie suap suapan,” kata Dimas sambil menyengir dan ikutan mengambil kue yang sama seperti yang sedang dimakan oleh Anha dan Hasan.


“Nggak nyangka, ya, Hasan bisa ngedapetin cewek paling cantik di kantor,” puji teman Dimas yang lainnya. Dimas hanya mengangguk anggukan kepala sambil menikmati kue tersebut, sahabat sialannya itu memang menang banyak. Teman temannya begitu iri dibuatnya.


“Jelas, dong, cantik. Udah cantik, baik, pinter masak lagi. Gue, kan, pinter nyari calon bini,” kata Hasan memuji Anha di depann teman temannya.


Anha yang diperlakukan seperti itu bersemu merah. Wanita mana yang tidak merasa senang ketika dibanga banggakan di depan teman teman kekasihnya? Padahal Anha merasa Hasan berlebihan, hanya sekadar tumis kacang dan ayam crispy sampai memujinya pintar memasak.


Dulu saja Ikram tidak pernah mengajak Anha pergi ke acara formal. Ikram juga tidak pernah mengenalkan dirinya dengan teman temannya. Ikram tidak pernah mencintai Anha dan membangga banggakan Anha seperti yang dilakukan Hasan kepadanya.


Anha sangat bersyukur dimiliki dan diperlakukan sebegitu lembutnya oleh Hasan.


Tapi, tanpa sadar sama sekali, ada sepasang mata yang tampak cemburu melihat kemesraan mereka berdua.


Tangannya mengepal kuat kuat, tapi wajahnya tetap ia paksakan agar senormal mungkin supaya orang lain tidak menaruh rasa curiga terhadapnya.


Ikram cemburu. Ikram merasa tidak suka melihat mantan istrinya tersebut bermesraan dengan calon suaminya kelak. Itu seolah membakar hatinya. Mungkin dia gila, kenapa dia tidak suka jika Anha bahagia dengan calon suaminya, memang apa haknya cemburu kepada Anha?


Entahlah, Ikram tidak dapat membedakan sama sekali apakah perasaannya kali ini adalah murni sebuah cinta yang dating terlambat atau malahan obsesi semata untuk mendapatkan Anha kembali ke kehidupannya.


Bahkan jika Anha mengatakan supaya Ikram meninggalkan Dewi agar bisa bersamanya…


Ikram akan melakukan hal itu.


Melihat Anha yang dibalut dengan gaun malam berwarna merah tersebut benar benar membuat Ikram meyesal. Ikram mengusap rambutnya ke belakang, agak frustasi. Merah adalah warna favoritnya.


Kalung yang dulu Anha buang ketika mendapati perselingkuhannya dengan Dewi pun permatanya berwarna merah, dan diam diam masih Ikram simpan sampai sekarang.


Sikap anggunnya tadi, kecantikan yang selalu memabukan para kaum adam, senyuman manis yang selalu terbayang sampai ke mimpinya. Apalagi Jika mengingat bakti wanita tersebut ketika mereka menikah dulu.


Ikram mengembuskan napasberat, seolah banyak beban sesak di dalam dadanya, kenapa juga dulu dia sampai sebodoh itu menyia nyiakan dan melepaskan wanita sesempurna itu hanya karena satu kesalahan yang telah wanita itu perbuat?


Satu kesalahan seolah menutupi seribu kebaikan yang ada di diri Anha.


Hanya karena dia tidak perawan sebelum menikah, bukan berarti dia tidak baik. Bahkan ada sesal di hati Ikram. Dia menyesali egonya yang dulu setinggi itu sampai seolah tidak bisa memaafkan Anha?


Kenapa dia dulu malahan mencari pelarian untuk memenuhi kebutuhan biologisnya ke perempuan lain dengan alasan belum bisa menerima istrinya sepenuh hati.


Sampai menikahi Dewi secara siri dengan alasan supaya tidak terjerat dosa zina karena sudah sah dalam agama. Menyia nyiakan istrinya yang seksi dan cantik itu dan mengatakan kata kata yang selalu menyakiti hatinya.


Lalu sekarang… ketika semuanya sudah terlambat adanya, Ikram baru merasa menyesal setengah mati.


Memang barang baru terkadang terlihat sangat menarik, tapi belum tentu yang terbaik.


“Hai Dewi,” kata seseorang di sebelah sana yang terdengar sangat familiar di telinga Anha membuat Anha mengok ke arah sumber suara.


Tetapi Anha langsung kaget seketika saat melihat ternyata itu adalah suara dari Bella yang saat ini sedang bercipika cipiki dengan Dewi seolah mereka adalah sepasang sahabat yang sudah tidak bertemu lama sekali.


“Aku kangen banget sama kamu. Ya apun! Aku nggak percaya, deh, kita bisa ketemu di acara kayak gini.”


Mata Anha membulat tidak percaya melihatnya.


Jadi… mereka saling kenal antar satu dengan lainnya?


Anha menelan ludah, sepertinya takdir terlalu sebercanda itu dengan dirinya.


***