
"Anha, ini salah satu investor di perusahaan kita. Namanya Pak Ikram sama istrinya Bu Dewi," kata Hasan mengenalkan tamunya tersebut kepada Anha.
Hasan sedikit merasa tidak enak hati lantaran sedari tadi tangan investornya tersebut dibiarkan menggantung begitu saja tanpa dijabat sama sekali oleh Anha.
Ikram tersenyum, tangannya masih betah saja menggantung di udara hendak menyalami Anha, menyalami mantan istrinya yang amat dirindukannya itu.
Namun berbanding terbalik dengan senyuman Ikram, Anha saat ini malahan gemetar karena ketakutan.
Anha tidak tahu kenapa pula dia harus gemetar seperti ini karena Ikram. Dia paham dengan betul kalau Ikram hanyalah masa lalunya saja, tidak lebih.
Anha mencoba untuk mengumpulkan segenap keberaniannya, dia tidak boleh bertindak seperti ini. Jika Ikram melihat sisi Anha yang sampai selemah ini, yang ada nantinya malahan Ikram akan merasa menang karena pasti dia akan menganggap Anha ternyata selama ini tidak merasa lebih bahagia daripada Anha yang naif ketika dulu tinggal bersamanya.
Anha menarik napas dalam dalam, mengumpulkan segenap tekad. Ketika Anha sudah mencoba memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya yang semula tertunduk kini menjadi menatap lurus ke atas. Rasa yang semula takut kini seolah hilang, berubah menjadi rasa muak ketika melihat Ikram yang tersenyum dengan ramah kepadanya.
Satu senyuman hangat yang diberikannya kepada Anha. Anha masih ingat dengan betul, senyuman Ikram saat ini sama persis dilihatnya ketika Anha dulu pertama kali merasakan jatuh cinta kepada Ikram ketika Ikram membantu dirinya dari Rudi yang hendak melecehkannya. Saat itu Ikram mendekapnya dengan erat ketika Anha ketakutan, kemudian Ikram tersenyum dan mengusap rambut Anha dan mengatakan akan melindunginya seumur hidupnya.
Ditambah lagi wajah Dewi—wanita perebut suami orang—yang berada di sebelahnya itu sama memuakkannya dengan wajah Ikram di mata Anha.
Dewi tampak menatap Anha dengan pandangan yang amat tajam seolah Anha adalah musuh yang patut dibenci.
Anha menatap sekilas, sorot matanya memindai penampilan Dewi dari atas ke bawah. Dari ujung kakinya yang mengenakan heels berwarna emas dan gaun malam model Sabrina yang memperlihatkan pundaknya yang terbuka.
Diamati sekali lihat, tidak ada yang berubah dari Dewi, hanya tampak berbeda pada rambut yang terakhir kali Anha lihat panjangnya sebahu kini sudah tumbuh memanjang sampai bawah bahunya. Kulit sawo matang, mata belo dengan wajah khas orang Jawa sekali. Dan satu hal yang membedakannya lagi adalah gaun malam yang mahal itu seolah memperlihatkan jika Dewi yang sekarang sudah naik kasta satu tingkat dari Dewi yang terakhir kali Anha temui di supermarket dulu.
Anha tersenyum mengejek. Semahal apapun gaun yang saat ini dikenakan oleh Dewi tetap saja Anha yang tercantik di pesta ini, bukannya terkena penyakit narsistik atau sampai besar kepala sampai memuji muji diri sendiri. Tatapan beberapa tamu lelaki entah itu masih bujang atau pun sudah menikah yang sejak tadi berhenti sejenak ketika melewati Anha pun sudah menjadi jawaban atas kecantikan Anha yang memukau itu.
Dewi hanya sekuku hitamnya.
Anha tidak merasa minder sama sekali, apalagi sampai merasa iri ataupun tersaingi. Tidak sama sekali!