
Hasan terus saja menggengam tangan Anha dari lift sampai ke ruangannya seolah olah ia tidak ingin sama sekali melepaskan tangan tersebut.
Hasan membuka ruangannya. Kesan pertama Anha ketika mengamati ruangan Hasan adalah terkesima.
Ruangan ini besar, dengan furniture yang bagus dan terkesan mewah. Beda sekali dengan ruangan CSO yang jelek itu. Ya, begitulah, kasta dan pangkat seseorang benar benar memengaruhi sekali.
Anha menggaruk lengannya. Dia bingung hendak apa. Hendak duduk di mana.
Tanda terduga Hasan menggendongnya ala pengantin baru membuat Anha terpekik karena kaget.
Mata Anha melotot kesal. Dia memukul bahu Hasan karena keusilannya tersebut.
Pipi Anha memerah karena dekatnya jarak mereka. Bagaimana jika seumpamanya ada orang lain yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan ini dan mendapati dirinya yang sedang digendong dengan posisi seperti ini? Pasti Anha akan malu sekali.
Kini Hasan mendudukan dengan pelan Anha pada meja kerjanya yang dipenuhi dengan kertas draft kerjanya.
"A-aku duduk di kursi aja, ya. Nggak enak tahu. Canggung sama kamu. Masak aku duduk di meja kayak gini," kata Anha dengan wajah yang memerah. Anha menunduk agak malu karena saat ini Hasan berdiri persis di depannya.
Entah mengapa jantungnya terasa berdetak lebih cepat ketika berdekatan dengan pria ini. Bohong sekali jika ini bukan bibit cinta.
Hasan hanya terkekeh saja melihat tingkah laku Anha.
"Aku mau turun, nggak sopan tahu duduk di meja," kata Anha sambil menggerakan ujung kakinya hendak menyentuh lantai.
Toh, ini sudah jam pulang kerja, memangnya siapa yang peduli akan hal itu?
"Kalau kamu turun, nanti aku cium kamu, ya," bisik Hasan di telinga Anha dengan pelan. Tetapi kini Hasan malahan mengurung posisi Anha membuat jantungnya berdetak lebih tak karuan lagi.
Hasan terkekeh. Jelas saja Hasan hanya sekadar bercanda saja. Tidak mungkin dia sampai kurang ajar mencium ataupun melakukan hal yang tidak tidak kepada Anha.
"Buka mulut," kata Hasan membuat Anha yang semula menundukkan pandangannya kini bergerak mendongak menatap Hasan.
"Eh?" kata Anha yang masih telmi.
Tanpa terduga Hasan memasukkan kentang goreng ke dalam mulut Anha.
'Pak Hasan, kan, tunangannya si Bella Bella, itu, An.'
Anha hanya diam saja sambil mengunyah pelan kentang goreng tersebut dan pandangannya mengarah lurus ke arah depan. Kakinya yang berada di atas lantai kini berayun karena bosan. Entah mengapa ketika mengingat kembali ucapan Sisil tadi membuat mood Anha menjadi rusak kembali.
Hasan sama saja seperti lelaki lain! Sudah punya satu tetap ingin dua! Lelaki memang makhluk yang tidak ada puasnya sama sekali.
Kini Hasan menaikkan sebelah alisnya. Kenapa juga wanitanya tampak semurung itu? Apakah dia ada masalah?
Sekarang dia tahu. Ada sesuatu dengan wanita pujaanya tersebut.
"Serius kamu kenapa, An?"
"Gapapa!"
"Berarti kamu kenapa-napa," kata Hasan dengan santai sambil mengambil kentang goreng yang dipesannya di kafe dekat kantor tadi.
Ia memang sengaja membeli cemilan kentang goreng, burger, dua coffe untuk menemani Anha dan dirinya ketika mengobrol.
Sebenarnya lelaki itu peka, hanya saja mereka pura pura bodoh agar wanitanya gemas. Kalau wanita bilang tidak apa apa, apalagi dengan wajah ditekuk tekuk seperti kertas kusut seperti itu. Itu artinya mereka kenapa-napa.
Anha hanya mampu mengembuskan napas lelah. Dia benar benar tidak mood berbicara dengan Hasan.
"Aku mau pulang, San," kata Anha membuat Hasan menghentikan gerakan mengunyahnya seketika.
"Nanti aja. Aku anterin kamu pulang. Tugasku kurang dikit, kok. Cuma kurang nungguin email balasan dari klien."
"Ini udah malem banget, tau!" kata Anha mencari cari alasan. Sejak tadi ia berbicara dengan Hasan tanpa mau melakukan kontak mata sama sekali. Dia marah kepada Hasan.
"Ini masih jam setengah delapan malam, kok."
"Tap--"
"Kamu kenapa, sih? Ada masalah apa? Nggak baik tahu marah-marah nggak jelas kayak gitu," kata Hasan dengan lembut sambil menangkup kedua pipi Anha dan menggerakkan Anha untuk mendongan supaya menatap kedua netra hitam milik Hasan.
Siapa juga wanita yang tidak luluh diperlakukan semanis ini? Namun rasa kesal Anha sudah berlebihan kepada lelaki di depannya ini. Anha membuang muka ke samping membuat Hasan mengernyit.
"Kamu kenapa?" tanya Hasan dengan sabar dan lembut.
"Pikir aja sendiri!" kata Anha dengan sewot membuat Hasan memejamkan mata sejenak.
Beginilah kejelekan sifat wanita. Pria disuruh menjadi dukun dadakan dan di suruh menebak apa isi hati mereka dan apa salah mereka terhadap wanitanya.
Hasan terdiam. Kemudian dia berpikir sejenak...
"Aku ada salah, ya?" tanya Hasan karena dia tidak merasa melakukan kesalahan sama sekali tetapi kenapa wanitanya bisa semarah ini sampai tidak mau menatapnya sama sekali seolah saat ini dia sedang melakukan kesalahan yang fatal sekali.
"An," kata Hasan ketika mengetahui mata wanita yang dicintainya itu berkaca. Seolah menahan tangis. Hasan berdecak. Sebenarnya ada apa dengan Anha?
Sedangkan saat ini pada kenyataanya Anha sedang menahan sesak luar biasa. Wanita mana yang merasa baik baik saja jika diperlakuka semanis ini? Wanita mana yang tidak terbawa perasaan ketika diperlakukan seperti ini?