
“Boleh nggak Anha minta pendapat Mama?”
“Boleh, dong. Kenapa juga kamu pakai izin segala. Langsung aja cerita. Emang kamu mau cerita apa?” tanya mama sambil masih menatap layar televisi yang saat ini menampilakn sinetron kesukaanya tersebut sambil menyimak ucapan Anha. Multifungsi dan hanya perempuan yang bisa melakukan hal tersebut.
“Anha dilamar Hasan ma,” kata Anha sambil menunduk binggung.
“Hah?”
Mama yang semula menatap layar televisi kini otomatis menatap Anha dan tidak Percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
“Apa tadi? Dilamar siapa?” ulang Mama memastikan kembali ucapan Anha, siapa tahu tadi dia salah dengar.
“Hasan ngelamar Anha, Ma,” ulang Anha sambil menatap wajah cantik Mamanya meskipun sudah tua. Garis halus di sudut mata dan bibir Mamanya itu tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.
Mama tersenyum senang, benarkah pemuda tampan yang tadi ke sini melamar putranya? Sungguh, ini benar benar kabar yang baik. Mama menangkup wajah cantik Anha karena saking senang bukan main.
“Serius kamu?” tanya Mama.
Anha menganggukan kepalanya pelan.
“Terus gimana?”
Sekarang baru Anha menggelengkan kepalanya membuat dahi Mamanya mengeryit tidak mengerti.
“Anha belum jawab iya atau engga Ma ke Hasan.”
“Lho, kok, gitu. Emangnya kamu nggak suka sama dia?” tanya Mama, karena setahu Mamanya Anha terlihat menyukai lelaki itu, kok.
Anha menggigit bibir bawahnya, bingung.
“Sebenernya Anha suka, Ma, sama dia. Tapi…”
“Tapi kenapa?”
Anha menjeda sejenak ucapannya.
“Tapi Anha takut, Ma. Makanya Anha mau tanya sama Mama dulu.”
Mama menggenggam tangan erat Anha, memberikan rasa hangat yang menjalar dan kasih sayang penuh membuat Anha begitu tenang. Jarang sekali Anha mengobrol hangat dengan Mamanya seperti ini karena kesibukan masing masing.
“Anha nggak berani cerita ke Hasan kalau Anha seorang Janda, Ma. Anha masih takut kalau Hasan atau orang tuanya bakalan nggak bisa nerima setatus Anha itu, Ma. Makanya Anha bilang ke Hasan buat ngasih waktu ke Anha biar Anha mikir dulu lamarannya.”
Mama hanya tersenyum lembut kepada Anha dan tangan kanannya yang semula menggenggam tangan Anha kini bergerak menyentuh pipi putri tunggalnya tersebut.
“Anha, dengerin Mama. Kalau seumpama dia emang beneran cinta sama kamu. Maka dia pasti mau nerima kamu apa adanya baik kamu gadis atau Janda dia nggak bakalan memeprmasalahin hal itu, Anga.”
“Tapi, Ma. Gimana sama keluarganya?” buru buru Anha menyanggahnya.
Mama masih tersenyum lembut.
“Kalau dia emang cinta. Pasti dia bakalan merjuangin kamu.”
Anha terdiam mendengar jawaban dari Mamannya tersebut. Dia berpikir sejenak. Mengingat ingat kembali pertanyaan apa saja yang hendak ia sampaikan kepada Mama agar rasa risaunya yang terbawa sejak di apartement Hasan sampai sekarang dapat hilang.
“Tapi Ma… gimana kalau nanti Hasan tanya ke Anha kenapa Anha dulu bisa cerai sama Ikram? Gimana, dong, Ma? Anha harus jawab apa?”
“Yaudah kamu tinggal jawab jujur aja semuanya ke Hasan. Apa susahnya? Yang penting kamu harus jujur ke dia?”
Anha menggigit bibir bawahnya. Benarkah tidak apa jika jujur ke Hasan?
“Nanti Anha harus jawab apa, Ma?” tanya Anha buntu.
Mama terkekeh. Memang benar, ya, kalau dua orang sedang jatuh cinta itu susah sekali untuk berpikir jernih.
“Ya, kamu tinggal jawab aja alasan kamu cerai sama Ikram dulu karena apa. Kan, kamu yang lebih tahu detilnya.”
Mama bergerka mengganti chanel televisi karena sedang iklan. Anha menganggukan kepala. Paham.
“Apa Anha juga harus bilang kalau Anha dicerein mantan suami Anha karena dia kecewa sama Anha karena dulu Anha udah nggak perawan sebelum nikah, Ma?” tanya Anha sambil meremas dress bawahnya.
Mama yang mendengarnya langsung menoleh ke samping. Mata Mama langsung membulat dan menatap Anha dengan serius.
***