After Marriage

After Marriage
Acara Makan Malam



"Nanti kamu jadi ibu rumah tangga aja, An. Gajiku masih sanggup, kok, buat ngebiayain kebutuhan hidup kita nanti," lanjut Hasan mencoba menyakinkan Anha ketika melihat Anha yang masih berpikir dan menimbang nimbang jawaban itu.


Anha mengerti, gaji Hasan pasti memang sangat cukup untuk membiayai kehidupa mereka.


Baiklah. Tidak masalah jika Anha menjadi ibu rumah tangga nantinya. Itu adalah pekerjaan yang mulia, dia bisa membuatkan sarapan dan makanan untuk suaminya, melayani kebutuhan suaminya, dan nanti Anha akan memiliki banyak waktu luang untuk merawat anak anaknya yang menggemaskan.


Anha mengangguk setuju dengan keputusan Hasan.


"Yaudah, deh, gapapa, nanti kalau kita udah nikah aku yang resign aja dari kantor."


Hasan tersenyum. Satu problematika terselesaikan sudah. Tinggal sisanya saja.


"An… gimana kalau besok sabtu malam minggu aku ajak kamu buat datang ke rumahku dan ngenalin kamu ke kedua orang tuaku?"


Semburat merah terlihat di pipi putih milik Anha ketika mendengar hal tersebut.


Wanita mana yang tidak senang jika kekasihnya akan mengenalkan wanitanya kepada kedua orang tuanya tersebut. Itu adalah bentuk lain dari salah satu keseriusan dalam berkomitmen.


Dengan malu malu Anha menganggukkan kepalanya senang.


"Mau! Aku mau!”


Hasan terkekeh senang.


"Iya, besok malming aku jemput kamu di rumah, ya. Btw, kamu mau nggak ikut ke acara makan malam peresmian pembukaan cabang baru di daerah jalan Pahlawan?"


Anha terdiam mendengar hal tersebut.


Umm… bukannya makan malam pembukaan cabang itu hanya dihadiri oleh orang orang penting di perusahaan ini saja, ya? Seperti direktur utama, Investor, manager, supervisor dan lainnya? Para staff dan karyawan biasa seperti Anha mana boleh ikut ke acara seperti itu.


"Kan, barengan sama aku,” kata Hasan dengan saksama, memang boleh membawa pasangan ke acara tersebut, kok.


"Serius?"


"Iyalah, sekalian nanti pulangnya kita mampir ke rumahku sebentar. Palingan nanti acarannya dari sore sampai jam sembilan malem, sih. Kita nanti pulang aja jam delapanan."


Anha mengangguk mau. Lagian dia tidak ada kegiatan sama sekali malming besok.


***


Hari yang dinantikan telah tiba…


Anha merasa agak gugup, dia sekali dua kali menghirup napasnya dalam dalam untuk meredakan kecemasannya yang berlebihan itu.


Tidak apa, tidak usah khawatir. Toh, Anha sudah mempersiapkan ini semua dengan matang jauh jauh hari mengingat dirinya hendak bertemu dengan calon mertuanya. Kali ini Anha harus memberikan kesan yang terbaik untuk memikat hati Hasan dan hati kedua orang tuanya.


Tidak boleh ada cela sama sekali!


Malam ini Anha mengenakan gaun malam yang berwarna merah marun yang terlihat elegan ketika ia kenakan ini. Merah adalah warna favoritnya, hal ini menambah rasa kepercayaan diri ketika Anha mengenakannya—walau sedikit, sih.


Anha menatap ulang pantulan dirinya yang berada di cermin lemarinya tersebut.


Menurut Anha penampilannya kali ini sudah cantik dan gaunnya pun cocok untuk dikenakan di acara formal seperti event pembukaan cabang baru itu ataupun nanti di acara makan malam dengan keluarga Hasan.


Lipstik berwarna merah bata dipoleskannya pada bibir seksinya yang bagian bawahnya agak tebalan tersebut. Riasan sederhana dan tidak terlalu mencolok, rambut hitam panjang bergelobang yang indah, heels lima centi menambah jenjangnya kaki indahnya tersebut.


***