
Anha menekan nomor pada kontaknya untuk menghubungi seseorang.
Satu detik…
Dua detik…
Tiga detik…
Tanpa menunggu lama telepon tersebut tersambung dengan seseorang di seberang sana.
“Halo…”
“Ha-halo,” kata Anha dengan gugup menjawab telepon tersebutsetelah tersambung dengan suara wanita itu.
“Ini dengan siapa? Ada yang bias saya bantu?” kata wanita tersebut dengan ramah di telinga Anha seperti yang sebelum sebelumnya.
Anha menelan ludahnya. Sebenarnya dia tidak memiliki nomor Ikram sama sekali, karena setelah bercerai Anha memutus segala kontak yang berkaitan dengan Ikram.
Anha sudah memblokir dan menghapus nomor kontak Ikram baik itu di telepon ataupun whatsapp. Bahkan Anha sudah mengganti nomor teleponnya agar Ikram tidak dapat menghubunginya.
“A-Ami. Apa kabar?” kata Anha dengan lembut meskipun sangat merasa gugup. Aami—sekretaris pribadi Ikram adalah opsi paling baik untuk meminta kontak Ikram karena dia berhubungan langsung dengannya.
Agak lama orang yang berada di seberang sana ketika menjawab kembali telepon dari Anha. Mungkin Aami agak kaget lantaran tiba tiba Anha meneleponnya.
“Iya, Bu. Ada apa, ya, menghubungi saya? Ini Bu Anha, bukan?” tanya Aami memastikan kembali.
“Iya. Ini saya, Anha.”
Anha meremas roknya dan rasanya jantungnya masih berdetak begitu cepatnya.
“Kabar saya baik, Ibu. Bagaimana dengan kabar Bu Anha sendiri?”
Anha tersenyum tipis, memang dari dulu Aami selalu menggunakan bahasa formal kepada siapa saja, padahal sekarang dia sudah bukan istri dari atasannya tersebut, seharusnya Aami bisa lebih santai sedikit.
“Alhamdulillah kabar aku baik, Aami. Maaf, ya, Aamii kalau saya mengganggu pekerjaan kamu.”
“Ah, tidak apa, kok, Ibu. Kebetulan saya sendiri sedang santai. Ada kepentingan apa, ya, Ibu, kok, menghubungi saya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Aami di telepon.
Anha menggigit bibirnya sejenak sebelum berucap menyampaikan tujuannya menelepon dirinya.
“Aami… boleh nggak saya minta nomor hp sama nomor rekeningnya Bapak? Nomor dia kehapus, dan saya lagi ada keperluan yang mendesak,” kata Anha dengan ragu ragu.
Lengang sejenak di seberang sana. Seolah Aamii sedang berpikir entah apa Anha pun tidak tahu.
Kemudian setelah itu Aamii menjawab, “Baik, Bu. Nanti akan saya kirimi nomor hp dan nomor rekening Bapak.”
Anha tersenyum dan menghela napas lega. Sebenarnya Aamii ingin menanyai banyak hal ke Anha.
Namun tidak berani dan canggung jika sampai menanyai ke hal hal pribadi. Akhirnya Aamii hanya meyimpan rasa penasarannya dalam hati saja.
Mengetahui jika mantan istri bossnya tersebut sehat dan terdengar baik baik saja Aamii sudah senang. Di mata Aamii dan karyawan lainnya, Anha adalah orang yang ramah dan baik hati ketika mengunjungi tempat kerja Ikram dulu ketika mengantarkan bekal untuk suaminya tersebut.
Aamii mengembuskan napas agak kesal. Bu Anha yang anggun dan elegan tersebut benar benar berbeda jauh dari Bu Dewi. Baik secara paras maupun secara attitude.
Aamii dan banyak karyawan lainnya lebih menyukai Bu Anha ketimbang Bu Dewi.
“Terimakasih, Aami. Tapi…” Anha menggantung sejenak ucapannya tersebut.
“Iya, Bu. Bagaimana? Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya Aamii dengan nada lembut.
“Um… tolong jangan kasih tahu Bapak, ya, kalau saya nelepon kamu dan minta kontak sama nomor rekeningnya ke kamu. Aku mohon banget. Bisa, kan?” pinta Anha mencoba mengunci mulut Aamii rapat rapat.
“Baik, Ibu. Saya janji,” kata Aamii singkat membuat Anha senang.
“Ada yang bisa saya bantu lagi, Bu?” tanya Aami.
Anha menggelengkan kepalanya.
“Nggak ada. Makasih banyak, ya, Aamii.”
“Baik, Bu. Sama sama. Hubungi saya lagi lain kali jika ada keperluan.”
“Iya.”
Setelah itu panggilan telepon dari mereka berdua pun selesai. Tidak perlu waktu lama Aamii mengiriminya pesan berupa nomor telepon Ikram.
Anha bergerak menyimpan nomor tersebut. Nanti Anha akan meneleponnya setelah mentransfer kembali semua uang yang dikirimkan Ikram kepadanya.
***
Setelah menelepon Aami. Anha naik ojek kembali untuk menuju ke mal. Dia yang awalnya hendak membeli empat stel baju kini hanya memilih membeli satu saja lantaran kepalanya pusing karena Ikram sialan itu.
Anha bersyukur di dekat mal ada cabang bank, jadi dia cukup berjalan kaki untuk sampai di sana. Lagian Anha juga tidak bisa mentransfer semua uang pemberian dari Ikram lewat Mbanking ataupun lewat mesin ATM karena terkena batas limit pentransferan.
Hari belum sore sore amat, dan Anha sangat bersyukur akan hal itu. Dia membuat kembali tabungan yang baru serta meminta tolong ke pihak bank untuk mengecekkan segala mutasi masuk dan keluar dari rekeningnya.
Pihak bank dengan ramah membantu Anha menghitungkan saldo awal sebelum Ikram mentransfernya ditambah gaji bulanan Anha selama ini dikurangi berapa rupiah Anha menarik tunai. Setelah itu Anha juga meminta tolong agar kartu tabungannya sebelumnya untuk di nonaktifkan.
Meskipun agak rumit dan menyita banyak waktu. Tapi untunglah jam empat kurang tiga puluh menit semuanya selesai. Uang pemberian Ikram juga sudah ditransfer balik ke rekeningnya.
“Mbak, boleh pinjem gunting, nggak?” tanya Anha kepegawai tersebut.
“Silakan, Kak,” kata pegawai tersebut dengan ramah.
Anha bergerak mengambil kartu tabungan miliknya sebelumnya dan mengguntingnya membuat pegawai bank itu meringis melihatnya.
Anha memilih duduk sejenak di ruang tunggu bank untuk menghubungi Ikram sambil menunggu ojek yang sudah dipesannya datang.
Anha men-dial nomor tersebut. Dia menunggu beberapa saat sampai telepon tersebut tersambung.
Walaupun sejujurnya Anha agak deg-degan. Namun dia mengumpulkan keberanian untuk berbicara tegas kepada Ikram.
“Halo,” suara berat dari seberang terdengar di telinga Anha ketika telepon tersebut sudah tersambung.
Anha menelan ludahnya sejenak, rasanya jantungnya berdegup kencang sekali. Napasnya tercekat. Tapi, dia harus berani.
“Halo…” ulang pria di seberang sana karena belum ada balasan dari si penelepon—alias Anha.
“Ha-Halo…” kata Anha agak gemetar.
Kini gantian Ikram yang terdiam. Ikram sangat familiar dengan suara wanita di seberang sana itu.
Itu adalah sura dari Anha. Benarkah Anha menelepon dirinya setelah sekian lama? Ya, Tuhan!
Ikram tersenyum senang, ini semua seperti mimpi baginya.
“Anha! Ini beneran kamu Anha?!” kata Ikram sambil tersenyum—meskipun Anha tidak dapat melihat senyumannya. Tapi dia bisa merasakan jika lawan bicarannya itu sedang bahagia.
“Iya. Ini aku,” jawab Anha tidak bernafsu sama sekali. Anha akan to the point dan ingin secepatnya mengelesaikan ini semua. Dia malas berhubungan kembali dengan Ikram, mendengar suaranya saja sudah membuat Anha teringat kembali dengan semua luka luka yang pernah Ikram torehkan kepadannya.
“Kamu apa kabarnya Anha? Aku nggak percaya kamu nelepon aku.”
“Maksud kamu apa ntranfer uang segitu banyaknya ke aku?” kata Anha meyela perkataan tidak penting Ikram, dia malas berbasa basa apalagi say ‘hi’ kepada matan suaminya tersebut.
“A-aku…” kata Ikram terputus sejenak, dia tidak tahu jika ternyata Anha menanyakan hal tersebut kepada dirinya setelah sekian lama dia diam diam mentransfer uang ke Anha sebagai jatah bulanan, apalagi dulu Anha tidak meminta harta gono gini sedikitpun setelah menikah dengannya.
“Itu uang bulanan dari aku buat kamu. Sebagai tanggang jawabku ngenafkahi kamu sama mama kamu,” jawab Ikram pelan.
Anha tertawa dalam hati tidak percaya. Tanggung jawab? Nafkah? Yang benar saja!
“Apa kamu bilang tadi? Tanggung jawab? Emangnya dulu kamu tanggung jawab sama aku? Emang kamu dulu ngasih nafkah batin ke aku? Maaf, ya! Uang kamu nggak pernah bisa beli sakit hati aku ke kamu Ikram!” kata Anha dengan tegas seolah menyampaikan semua rasa kecewa yang berkecamuk di dalam hatinya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Ikram tidak percaya jika Anha akan mengatakan hal tersebut kepada dirinya.
“Anha… bukan itu maksud aku. Aku minta maa—”
“Pokoknya kamu nggak usah ngirimi aku uang bulanan lagi! Udah aku buang kartu tabunganku dan aku nggak mau kamu ganggu hidupku lagi!” kata Anha menyela perkataan Ikram yang belum selesai dan memutus panggilan sepihak.
“Halo… Halo!!!” Ikram melihat layar ponselnya dan panggilan tersebut sudah terputus.
Dia mencoba menghubungi kembali nomor Anha tetapi tidak Anha angkat sama sekali.
Anha hanya menatap dalam diam nama Ikram yang berada di layar ponselnya sambil mengusap bawah matanya yang basah.
Kemudian setelah ojek pesanan Anha datang, Anha mematikan ponselnya dan nanti dia akan mampir sejenak ke counter pulsa untuk membeli simcard baru ketika di perjalanan pulang.
Ikram mencoba menghubungi ulang nomor Anha berkali kali. Dan sialnya tidak bisa.
“Arghhh sial!
Ikram berteriak frustasi, dia melempar dengan kasar ponsel mahalnya itu sampai membentur tembok dan rusak hingga kepingan ponsel tersebut terlepas dari bagian bagiannya.
“Kamu kenapa, Mas?” tanya Dewi—istri sah Ikram saat inni—sambil menyentuh pundak suaminya tersebut setelah mendengar teriakan Ikram dan kekacauan yang diperbuatnya itu.
Ikram mengusap wajahnya dengan kasar dan napasnya memburu karena emosi.
“Mas…” tanya Dewi kembali.
Namun Ikram menepis dengan kasar tangan Dewi kemudian berlalu begitu saja memasuki ruang kerjanya yang berada di sebelah kamar utama, mengabaikan Dewi yang memegang dadanya karena entah mengapa terasa sesak atas perlakuan Ikram kepadanya itu.
Lalu Dewi…
***
Yang mau lihat visual / foto karakter di novel After Marriage cuss cek di instagramku @Mayangsu_