After Marriage

After Marriage
Kenyataan



Ketika Dewi menatap figura kecil dengan foto Anha tersebut, hatinya benar benar hancur.


Bahkan kini Dewi sampai mengerjabkan matanya beberapa kali untuk memastikan apakah dia salah lihat atau tidak. Namun indra pengelihatannya tidak salah. Yang di dalam pigura itu benar benar foto Anha yang bahkan tanpa sepengetahuannya suaminya sampai menyimpan foto tersebut di meja kerjanya.


"Sialan!"


Dengan kesal Dewi membanting pigura kecil tersebut ke lantai sampai pecah tak beraturan dan menimbulkan suara keras.


Napas Dewi berembus cepat, dia terguncang atas semua ini. Tangannya mengepal dengan erat, bahkan kini rasanya matanya mulai memanas menahan tangis.


Bibirnya gemetar. Mana bisa suaminya menyimpan foto Anha di ruang kerjanya? Pantas saja Ikram sampai mengunci ruangan ini rapat sekali. Ternyata inilah alasannya, inilah yang Ikram sembunyikan darinya.


Dewi meremaas rambutnya ke belakang, frustasi. Kemudian dia mengusap air matanya yang bahkan tanpa ia sadari sudah menetes.


Belum cukup itu, keterkejutan Dewi bertambah lagi ketika melihat ternyata terdapat pigura lain yang lebih besar lagi di dinding ruang kerja Ikram karena tadi penglihatan Dewi melewatkannya.


Seketika mata Dewi terbelalak, tidak percaya sama sekali jika ternyata di sana terpampang foto suaminya dengan Anha ketika mereka menikah dulu.


Anha dengan kebaya berwarna merah yang sangat cantik dengan Ikram yang memeluknya dari belakang.


Tangan Dewi mengepal erat erat.


"Keterlaluan banget kamu, Mas!" kata Dewi dengan kesal.


‘Apa jangan jangan Ikram masih mencintai mantan istrinya itu?’ tanya Dewi dalam hati.


Dewi semakin mengepalkan tangannya erat erat, rasa benci terhadap Anha semakin bertambah di hatinya.


Bahkan bodohnya kenapa pula Dewi masih bertanya dalam hati apakah suaminya tersebut masih mencintai Anha atau tidak jika ternyata barang buktinya saja sudah ada di depan mata.


Dengan perasaan yang sudah hancur berkeping keping serta tidak dapat dijelaskan lagi. Dewi berjalan cepat dan berjinjit untuk mengambil figura besar tersebut dan seketika membantingnya ke lantai.


Dia hilang kendali mengobrak abrik meja kerja Ikram dan menangis sejadi jadinya karena merasa terkhianati.


Bahkan kini ruang kerja Ikram yang semula rapi kini sudah berantakan seperti kapal pecah.


Siti, Menik, dan pembantu mereka yang lain hanya diam saja di dapur, tidak berani melihat kebisingan di atas sana.


Sejak nyonya Anha pergi dari rumah ini, semuanya jadi kacau. Cekcok setiap hari antara majikan mereka benar benar tidak dapat dihindari.


Tidak ada kenyamanan dan keteduhan di rumah ini.


“Iya, sama, Ti. Enakan dulu, ya, sama Nyonya Anha. Nggak galak, nggak suka nyuruh nyuruh. Mana nggak pelit pula.”


Siti mengangguk setuju dengan ucapan Menik tersebut.


“Kamu nggak mau, Ti, lihat ke atas kenapa nyonya teriak teriak dan ada suara berisik banget di atas?”


Siti menggeleng, “Males.”


“Udah udah, kita lanjutin aja pekerjaan kita,” kata pembantu mereka yang lain yang usianya lebih tua daripada mereka berdua lalu mereka pun melanjutkan pekerjaannya masing masing.


***


Ikram yang baru datang dan mengucapkan salam ketika membuka pintu rumah pun langsung mengeryitkan dahinya ketika mendengar suara benda pecah dan keributan yang tertangkap oleh pendengarannya.


Ikram menggelung lengan kaosnya, instingnya seolah menuntunnya untuk mencari di mana asal muasal dari bunyi keributan tersebut.


Ikram menaiki anak tangga dan matanya membulat seketika karena terkejut ketika mendapati pintu ruang kerjanya terbuka lebar padahal selama ini Ikram selalu menguncinya rapat rapat.


Apa jangan-jangan…


Langkah kaki Ikram dipercepat ketika menaiki anak tangga, bahkan sekali pijak langsung melangkahi dua anak tangga sekaligus.


"Dewi!"


Dan benar saja, di sana ruang kerjanya berantakan bukan main dengan Dewi yang bersimpuh dan menangis. Tampak wajahnya basah akan air matanya.


Penampilannya sangat kacau. Hidungnya memerah dan dia masih sesenggukan.


Dewi menengok ke arah sumber suara dan mendapati suaminya yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut dan menelan ludahnya karena ketahuan. Kenapa bisa Dewi ada di dalam sini?


"Kenapa kamu di sini. Dan apa yang kamu lakuin sampai ruang kerjaku berantakan kayak gini," kata Ikram setelah pulih kesadarannya.


Setelah itu Ikram berjalan ke arah Dewi dan memegang lengannya. Dewi menepis tangan suaminya tersebut dengan kasar.


Dia bisa berdiri sendiri!


"Apa maksud ini semua, Mas! Kenapa ada foto Anha di sini!" teriak Dewi dengan keras sambil menangis, dia meminta penjelasan kepada suaminya tersebut mengenai ini semua.