
"Kan, aku nggak punya nomormu. Terus, giamana caranya aku bisa ngebarin kamu?" kata Hasan.
Aku tertawa dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ah. Benar juga, ya, perkataan Hasan barusan. Kemarin kami tidak sempat bertukar nomor telepon.
"Tapi lain kali kabarin dulu, ya. Dinikmati dulu, gih, biskuitnya. Maaf, ya, sekadarnya. Ini juga buatan Mama kalau lagi ada waktu luang," kataku sambil membukakan toples yang berisi biskuit rasa kelapa dan cokelat yang tadi sempat dihidangkan oleh Mama tersebut.
Hasan mengatakan bahwa kedatangannya saat ini memang sedang ingin memberi tahukan jika di tempatnya bekerja memang sedang ada banyak lowongan pekerjaan.
Di antaranya staff, bagian admin, customer service.
Aku tersenyum lebar sampai aku merasakan sepertinya wajahku akan terbelah menjadi dua saja.
Hasan benar-benar membawa kabar baik untukku.
Ah apakah ini semua mimpi? Benar benar rezeki anak solehah!
"Gimana kamu mau?" tanya Hasan kepadaku.
Dan jujur saja aku mau sekali!
"Besok jam 9 jadwal interviewnya, ya. Semoga kamu di terima di sana sehingga kita bisa satu kantor dan bisa saling mengenal satu sama lain, ya," katanya kepadaku.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku begitu bahagia sekali.
Dia ini baik sekaliĀ kepadaku.
Lima belas menitan Hasan mengobrol denganku.
Sebelum pulang dia meminta nomorku juga agar aku mudah untuk dihibungi dan aku memberinya nomorku.
Nanti aku juga akan bertanya tanya kepadanya tentang apa saja syarat lamarannya via wattasapp dengan Hasan.
Setelah itu aku mengantar kepulangan Hasan sampai di depan teras rumahku.
"Jangan lupa, ya, Nak Hasan sering-sering main kerumah, Tante, ya, dan ajak juga Anha jalan. Kuper soalnya dia di rumah terus," kata mama membuatu memutar bola mataku ke atas.
Tetapi untung saja Mama tidak memborbaridir Hasan dengan pertanyaan pernyataan mendetailnya seperti maling yang diinterogasi polisi karena mencuri ayam tetangga.
Tidak ada salahnya aku mencoba melamar di perusahaan telekomunikasi tersebut.
Siapa tahu memang rezekiku bekerja di sana.
Besok! Aku akan mencobanya!
***
Pukul setengah delapan pagi aku sudah siap untuk segera melamar pekerjaan di tempat Hasan bekerja.
Aku memilih untuk melakukan interview pada bagian customer service.
Menurutku menjadi CS tidak terlalu buruk.
Bahkan sepertinya aku akan menyukai bagian itu.
Karena di sana pun sepertinya aku tidak perlu repot-repot bersaing dengan banyak karyawan lain.
Aku sudah mengenakan kemeja berwarna putih serta rok span hitam selutut.
Menurutku ini sudah penampilan yang oke.
Riasan wajahku kubuat yang senatural mungkin.
Niatku untuk bekerja bukan untuk pergi mangkal di tanah abang.
Tak lupa juga flat shoest manis yang dulu pernah Mama belikan untukku ketika aku sehabis wisuda.
Aku mengecek ulang dokumen dokumen yang hendak aku bawa.
Takut jika ketinggalan mengingat aku ini orangnya suka teledor.
Dan ternyata semua barang sudah masuk dengan rapi di dalam map berwarna hijau tua milikku.
Aku siap untuk hari ini! Aku juga sudah selesai sarapan pagi.
Sebelum berangkat aku mencium punggung tangan Mama dan meminta Mama agar tidak lupa untuk mendoakan diriku supaya aku lolos interview dan dapat di terima di sana.
Doa yang tidak terkalahkan adalah doa orangtua. Tuhan akan langsung mengijabahnya.
"Mama, Anha berangkat dulu, ya. Doain putri kesayang Mama ini diterima di sana. Aamiin," kataku kepada Mama.
Aku mengusap tanganku sendiri yang terasa agak basah karena keringat dingin. Satu satu dari mereka yang melamar pekerjaan masuk ke dalam untuk melakukan test wawancara kerja.
Aku merasa sangat gerogi. Perutku terasa mulas seperti sedang diaduk aduk tak karuan.
Aku menatap jam di pergelangan tangan kiriku.
'Berapa menit lagi, ya, giliranku?' Kataku dalam hati.
"Gerogi?" kata seseorang yang berdiri di depanku. Aku tersenyum sambil mengangguk kaku.
Hasan membalas senyumku sekadar nya.
"Kelihatan banget, ya?" kataku kepadanya sambil meniup tanganku.
Entahlah, orang bilang jika kita gerogi tinggal saja meniup ibu jari kita maka rasa gerogimu akan segera hilang.
Entah sugesti atau apa tapi tetap saja rasa gerogiku sepertinya tidak kunjung hilang juga. Ah! Aku mulai frustasi.
"Nih, diminum biar ngggak gerogi," kata Hasan sambil mengulurkan kopi kalengan kepadaku.
Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih banyak atas semuanya.
Hasan mengangguk. Dia saat ini terlihat berbeda dengan Hasan yang sebelumnya aku temui.
Hasan yang saat ini mengenakan kaca mata minus dan sialnya kenapa dia terlihat semakin tampan, sih.
Oh jantung, aku mohon yang berdetak terlalu kencang. Aku benar benar malu jika dia sampai bisa mendengarnya.
"Kok, kamu lagi di sini?" tanyaku kepada Hasan untuk memecah kecanggungan di antara kami sambil aku mulai menikmati kopi pemberiannya ini.
"Sengaja ngeluangin waktu buat ngelihat kamu bentar. Dan sekalian juga nyemangatin kamu," katanya sambil melemparkan senyuman kepadaku.
Aku tertawa mendengarnya dan memukul pahanya dengan pelan. Dia ini ada ada saja. Tentu saja kau paham maksudnya.
Dia mengatakan hal tersebut supaya rasa gerogiku meluap ke langit langit ruangan ini.
"Come on. Ini cuma interview biasa dan kamu udah puluhan kali, kan, ngalami ini. Jadi kamu nggak perlu khawatir lagi. Aku yakin banget kamu bisa ngejalani ini dan aku yakin kamu bakalan berhasil, kok. Trust me," katanya dengan senyuman yang manis.
Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat. Dia seolah menyuntikkan energi positif kepadaku membuatku semangat kembali.
Setelah itu Hasan mengangkat tangannya mengkode jika dia hendak mengangkat telepon masuk pada ponselnya.
Aku mengangguk. Entah apa yang saat ini dia bahas dengan orang di seberang sana.
Mereka saling mengatakan file- meeting-penting-cepat laporan-dan entahlah. Aku tidak paham sama sekali.
Setelah itu Hasan berpamit kepadaku jika dia saat ini ada kerjaan yang sangat penting dan dia harus kembali lagi ke ruangannya.
Aku mengangguk.
"Duluan, ya. Kalau ada waktu luang kita ngobrol lagi. Sebenernya aku tadi lagi nganterin file ke bagian bawah. Terus lihat kamu. Abis itu aku nyempetin diri buat nyamperin kamu yang kelihatan gerogi banget. Anha, kamu pasti ketrima, kok. Aku yakin banget akan hal itu. Semangat!" kata Hasan menyemangatiku.
Aku tersenyum kepadanya dan megucapkan terima kasih banyak.
Setelah itu Hasan berlalu meninggalkanku. Aku hanya menatap punggung tegapnya yang semakin lama semakin bergerak menjauh saja.
Aku sudah tidak gerogi lagi. Dan ketika aku memasuki ruangan tersebut.
Aku merasa senang, aku dapat menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan dengan santai.
Di tambah lagi aku sudah memiliki pengalaman bekerja cukup banyak sehingga aku merasa aku dapat menyakinkan mereka untuk menerimaku.
Entah mengapa aku kali ini berpikiran jika aku diterima di sini maka intensitas aku dapat bertemu dengan Hasan akan semakin tinggi.
Bukan... aku kan belum mengatakan aku suka dengan dirinya. Tetapi aku bahagia jika aku bekerja dan sudah memiliki kenalan di sini.
Aku tinggal menunggu pengumuman penerimaan lamaran ini.
Ketika aku keluar dari gedung ini. Aku menengok ke arah kanan dan kiri. Tetapi tiba tiba ada suara yang mengejutkanku dan pundakku ditepuk oleh seseorang dari arah belakang.
"Kenapa Tante ada di sini? Jatuh dari surga, ya? Tepat di hatiku," kata bocah dengan stelan seragam SMA sambil menyengir kuda.
Mulutku terbuka setengah, mataku melotot tidak percaya.
Sean!