After Marriage

After Marriage
Mangsa Menggiurkan



"Kamu jangan pakai baju kayak gitu lagi. Aku nggak suka. Kamu nggak tahu aja gimana tatapan cowok-cowok tadi ke kamu waktu kamu jalan sendirian."


Aku tersenyum. Pipiku memerah mendengarnya, entah akunya yang salah tangkap atau bagaimana sampai otakku mencerna ucapannya tersebut sebagai kalimat cemburu atau possessive.


"Nggak usah kepedean. Saya juga punya adik cewek, makanya saya bilang kayak gitu," katanya dingin seolah dapat membaca isi dari pikiranku.


Aku memutar bola mata, dia memang tampan tetapi begitu jahat. Bahkan lihatlah, dia berganti menggunakan bahasa formal.


"Pokoknya kamu ganti baju itu atau kamu resign aja," katanya sinkat, padat, dan penuh pemaksaan.


"Iya, Pak. Besok saya ganti baju seragamnya kalau udah gajian. Saya lagi bokek," kataku dengan kesal, memangnya membuat seragam baru tidak perlu bayar tukang jahitnya apa!


Lima menit kemudian sampailah kami di depan mal Paragon. Aku memilih turun di depan saja. Aku mengucapkan terima kasih atas tumpangan yang ia berikan kepadaku. Tetapi responsnya tetap sama, dia hanya diam saja tanpa mengatakan sama-sama atau basa basi lainnya sama sekali. Kakiku yang gemas menendang kerikil tak berdosa sebagai bahan lampiasan kejengkelanku.


"Pantes aja belum nikah, sialan!" umpatku pelan seperti orang menggerutu.


"Kamu tadi ngomong apa?" tanyanya dari dalam mobil. Aku menelan salivaku, dia mendengarnya?


"Gapapa! Kerikil sialan tadi bikin sepatu saya kotor!" kataku dengan jengkel. Ikram hanya menggelengkan kealanya dan menggerakkan mobil itu meinggalkanku yang masih dongkol setengah mati. Memangnya siapa yang tidak kesal dengan sifatnya itu?


Banyak lelaki yang memujiku dan mendekatiku tapi dia ini sepertinya bengkok makanya dia tidak tertarik kepadaku.


Lidya melambaikan tangan dan tersenyum mengembang ketika melihatku datang. Tetapi aku hanya diam saja dan menampilkan wajah masam kepadanya.


"An! Kenapa, sih, nggak berangkat dua hari? Aku kangen tau sama kamu!" kata Lidya dengan semangat. Aku berjalan mengabaikannya dan menaruh tasku di bawah meja kasir.


"Ada masalah, ya?" tanyanya.


Aku menatap Lidya tajam, tanda tidak suka. Bagaimanapun Lidya sangat keterlaluan jika dia memang terbukti jika dialah yang melakukan semua itu kepadaku. Dari mulai menyuruh om itu datang ke sini sampai om itu bisa tahu nomor teleponku. Tetapi bagaimanapun juga aku harus memastikan terlebih dahulu tentang tuduhanku terhadapnya agar tidak terjadi salah paham di antara kami berdua.


"Apa, sih? Ada masalah apa? Kok, kamu aneh gini?" ulangnya lagi.


"Rudi itu siapa?" tanyaku to the point. Aku sedang malas berbasa-basi. Dan benar dugaanku, mimik wajah Lidya langsung berubah ketika mendengar kata 'Rudi'.


"Um. Anu... jadi gini, An. Dia—"


"Kamu yang ngasih nomorku ke dia?" todongku cepat sambil menatap tajam Lidya.


"Um... soal itu, dia yang ngutak-atik HP-ku, An. terus dia sendiri yang nge-save nomor kamu."


Lidya tersenyum kuda. Entah yang dikakatakannya benar atau tidak, tetapi jelas tindakan itu salah.


"Terus soal kemarin? Nggak mungkin banget, kan, dia datang ke sini secara kebetulan!"


"Ya, gimana, ya... Dia bilang kalau dia suka sama kamu gitu, An. Dia maksa aku buat ngenalin dia ke kamu. Ya, aku mikirnya apa salahnya nambah teman, bukan? Tapi soal yang kemarin itu aku nggak tahu kalau dia bakalan senekat itu sama kamu," papar Lidya panjang lebar. Lidya yang merasa bersalah hanya bisa *** jemarinya dan mengatakan maaf. Aku menatapnya tajam, dia ini gila atau bagaimana, sih? Tega sekali melakukan hal itu kepadaku.


Aku yang lelah menghadapinya lebih memilih diam. Aku juga malas menceritakan tentang semalam Rudi menerorku dan lebih parahnya dia juga mengiriku foto telanjangnya kepadaku.


"An, sorry..."


Aku tidak peduli!


Seharian penuh aku mengabaikan Lidya, aku tidak mau berbicara kepadanya. Dan seharian ini aku juga sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan resign dari pekerjaan ini. Aku takut jika Rudi akan menemuiku lagi. Entah mengapa aku seperti trauma.


***


Aku menggaruk lenganku yang digigiti nyamuk. Mengapa Ojol pesananku belum juga datang, sih? Aku melirik jam di tangan kiriku, sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku memang lembur karena ada banyak barang masuk dari gudang. Berarti kalau dihitung-hitung aku sudah menunggu Mang Ojol hampir setengah jam. Ya, Tuhan!


+6289000089921: Maaf, ya, Mbak. Tolong di-cancel aja orderan-nya, Mbak. Soalnya jarak saya sama tempat Mbaknya jauh, sih. Sekali lagi maaf, loh, Mbak. Hehe.


Rahangku terjatuh membaca pesan dari Mang Ojek tersebut. Yang benar saja, ini sudah jam sebelas malam dan dia menyuruhku meng-cancel begitu saja? Aku *** jemariku geram. Ya, sudahlah, aku cancel saja dan memesan ojek lainnya.


"Hai, aku udah nungguin kamu dari tadi." Mataku membulat ketika melihat Rudi tiba-tiba berada di sampingku.


Kemudian...


***


Seringai di bibir Rudi terukir dengan jelas ketika melihatku nampak ketakutan. Sekarang apa yang harus aku lakukan? ini sudah jam sebelas malam, hanya ada satu dua pengendara yang lewat di jalan dekatku berdiri menunggu ojek pesananku. Tiba-tiba Rudi menggenggam lenganku dengan erat.


"Lepasin!" teriakku sambil mencoba melepaskan genggamannya dari tanganku.


Rudi semakin mengeratkan cekalan tangannya di lenganku, aku meringis kesakitan. Dengan nekat Rudi memeluk tubuhku dari belakang ketika aku mencoba kabur. Aku mencoba sekuat tenaga untuk melawannya dan menendang sebisaku, namun rasanya sia-sia mengingat perbedaan tenaga kami yang tidak sebanding.


Mataku rasanya memanas, air mataku meleleh di pipiku. Kenapa jalan terlihat sudah sepi dan tidak ada pengendara yang lewat, sih.


"Tolong lepasin aku!"


Aku menangis, berharap dia iba kepadaku tetapi Rudi tidak bergeming sama sekali, senyum seringainya sangat menakutkan. Aku berteriak meminta tolong ketika melihat ada mobil yang melintas, tetapi sepertinya memang benar kata Rudi bahwa teriakanku tidak berguna sama sekali. Mobil itu hanya melewatiku seolah tidak peduli. Rudi yang geram melihatku terus berteriak kemudian dia berusaha membekap mulutku dengan tangan kirinya yang bebas, dengan nekat aku memanfaatkan momen ini untuk kabur, aku menggigit kuat tangan Rudi yang mencoba membekap mulutku.


Rudi berteriak kesakitan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mencoba kabur. Tapi Rudi mendorongku dari belakang sehingga tubuhku jatuh tersungkur ke depan. Aku mengerang kesakitan, mataku melihat dia mengibaskan tangannya yang tadi kugigit yang kini mengeluarkan darah.


Aku mencoba mundur walaupun susah. Pria ini gila! Aku yakin dia pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkanku malam ini.