
Keadaan kini sudah mulai kembali normal. Sebenarnya meskipun Sean berada di Singapura. Tetapi Sean tidak pernah absen sama sekali dan terus saja mengirimi pesan kepada Anha dan selalu menyapanya lewat chat seperti; ‘Selamat pagi Tante, Selamat siang Tante, Selamat malam Tante.’
Hahah, pegawai Ind*maret saja kalah dengan Sean.
Sean: Aku di sini baik baik aja, kok, Tante. Tante nggak usah khawatir dan nggak usah kangen sama aku. Di sini nggak enak, Tante. Sepi. Nggak ada yang bisa dijahili kayak tante.
Anha haya memutar bola matanya. Dasar anak ini.
Anha: Kuliah yang bener kamu!
Sean: Iya-iya.
Anha mulai mencoba menggoda kembali anak itu.
Anha: Nanti kalau Tante nikahan kamu dateng, ya, ke Indonesia. Isi amplopnya wajib pakai dollar, lho. Hehe.
Sean: Tante!!! Kurubuhin tendanya pokoknya!!!
Anha tertawa ketika membaca pesan dari si bocil yang jahil dan tukang cemburuan itu.
Ketika Anha sedang asyik hendak membalas kembali pesan dari si bocil, seseorang mengetuk pintu ruangannya dan bersender pada pinggiran pintu.
“Hai Si Cantik?” tanya Dimas yang sedang bersender pada pinggiran pintu dan menyincing jasnya di pundaknya dengan dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka.
Anha meringis, sok cool sekali dia ini. Sisil yang sedang menikmati cikinya kini terpukau dengan Dimas yang tiba tiba datang itu. Sisil sampai refleks membuka mulutnya dan cikinya yang hendak dimakannya itu sampai jatuh ke bawah. Gantengnya!!! batin Sisil ketika melihat Dimas pada pandangan pertama.
“Ya?” kata Anha menoleh ke arah sumber suara.
Pipi Anha memerah karena tadi Dimas mengatakan ‘Bebbmu’ kepadanya. Ah! Anha jadi teringat dengan konyol yang kemarin malam dikirimkanya untuk Hasan! Benar benar memalukan sekali!
Anha mengangguk, dia mulai melangkah untuk keluar dari ruangannya. Sebelum itu Anha meletakkan kembali cangkir kopinya di meja kerjanya dan membawa tas jinjingnya di bahunya.
Tapi Anha juga merasa agak kesal lantaran kenapa juga Hasan menyuruh Dimas untuk menyampaikan pesan dirinya jika Anha di suruh ke ruangannya. Kenapa bukan Hasan sendiri yang datang ke ruangannya saja, sih.
Ketika Dimas sudah berlalu dari pintu ruangan sambil melambaikan tangannya. Sisil tiba tiba memegang lengan Anha membuat Anha berhenti sejenak.
“Kenapa? tanya Anha sambil mengeryitkan dahi ketika menatap Sisil yang tersenyum penuh arti dan mengerjabkan mata dengan cepat seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu dari orang tuanya.
“Tadi siapa, An, cowok itu? Kok, ganteng banget, sih! Mau, dong! Kenalin sama dia, dong, An. Please, please, please, An.”
Anha menatap horror ke Sisil. Heh! Ada ada saja anak ini! Anha benar benar tidak dapat membayangkan bagaimana jika Dimas berpacaran dengan Sisil.
Sisil tukang makan dan Dimas juga tukang makan.
Dimas playboy sedangkan Sisil gampang suka dengan pria lain yang baru ditemuinya padahal Sisil sudah memiliki seorang kekasih dan dalam waktu dekat ‘katanya’ mereka akan bertuangan.
Dimas cerewet sedangkan Sisil tukang gibah.
Anha memjit pelipisnya pusing. Dimas itu reinkarnasi dari Sisil versi laki laki.
***
Bentar, ada lagi sambungannya.