
"Memangnya kue ini untuk siapa?" tanyaku kepadanya.
Tyas menyenggol lenganku. Karena pada dasarnya kami bekerja, ya, harus menuruti saja permintaan para pembeli kami. Tidak boleh banyak cakap.
Namun kali ini aku menolak, dia membeli kue mahal-mahal dan kenapa juga dia menulis memo sependek itu?
"Buat Mama," katanya dengan cuek sambil membuang muka ke samping. Aku terdiam sesaat melihat respons bocah tersebut.
Sekarang aku tahu, mungkin dia memiliki masalah dengan ibunya. Seperti aku yang masih muda itu.
Melihat dia mau repot-repot membelikan kue tersebut untuk mamanya saja aju sudah paham, kok. Sebenarnya dia marah-- entahlah, aku tidak dapat menebak alasannya dengan pasti kenapa dia bisa marah kepada Mamanya--namun sebenarnya aku tahu jika dia ini peduli dan sayang dengan Mamanya.
Aku meremas remas kertas memo tersebut dan mengambil kertas memo yang baru. Membuat Sean dan Tyas terdiam sambil mengamati kelakuanku yang anehku tersebut.
Aku tidak jadi menuliskan hanya HBD saja. Aku menuliskan...
'HBD Mama. Sean Rindu sama Mama. Meskipun kita jarang ngobrol, tapi Sean nggak pernah lupa sama hari ulang tahun Mama.' beserta tanda hati di ujung kalimatnya.
Sean membuka mulutnya, hendak memarahiku, namun urung ketika aku tersenyum lembut kepadanya.
Memangnya siapa yang dapat menolak kedasyatan senyuman seorang Anha? Hahaha. Karena pada kenyataannya kebanyakan lelaki yang kusenyumi selalu luluh terhadapku.
"Nggak papa. Dulu kakak ini waktu masih muda sepantaran kamu gitu juga suka marah sama Mamanya kakak. Kakak dulu anak yang orang tuanya sibuk kerja banget sampai berasa nggak dianggep. Tapi kakak paham, kok, aslinya kita sayang, kan, ya, sama mereka. Cuma emang kitanya aja yang gengsi," kataku panjang lebar kepadanya sambil memasukkan memo tersebut ke dalam kotak kue yang tadi dibelinya untuk Mamanya.
Sean memejamkan mata sejenak. Aku menelan ludah. Apakah dia benar benar hendak marah kepadaku? Duh!
Tetapi ternyata respons Sean melunak. Kupikir dia akan marah karena sikapku tadi yang terbilang seperti seseorang yang sedang sok ikut campur urusan orang lain.
Dia menganggukkan kepalanya. Kemudian mengambil kotak kue tersebut--meskipun dengan wajahnya masih agak ditekuk.
"Untung manis," kata bocah tersebut ketika menerima struk pembayaran dari Tyas tetapi tatapannya masih saja tertuju kepadaku membuatku agak salah tingkah seketika.
Meskipun dia mengucapkan hal tersebut begitu pelan, namun kareka jarak kami yang masih berdekatan membuat Tyas dan aku masih bisa mendengarnya.
Kini malahan Tyas yang menutup mulutnya menahan tawanya agar tidak lolos keluar. Sedangkan aku merasakan pipiku memanas. Pasti saat ini wajahku semerah kepiting rebus.
Ketika Sean berjalan hendak keluar pintu, dia dengan iseng mengedipkan matanya.
"Besok aku ke sini lagi!"
Ck! Dasar bocah tengil!
Setelah Sean benar benar sudah pergi. Tawa Tyas pun menggema. Dia puas sekali dan selalu meledekku.
"Cie. Nggak nyangka, An, berondong manis kayak dia bisa kepincut pesonamu," kata Tyas dengan asal.
"Enak aja. Mana ada, ih."
"Ya, nggak papa, dong, An. Siapa tahu emang rezekinya dapet berondong manis kayak adek tadi, kan, nggak ada salahnya."
"Masih SMA, woi!" kataku mengingatkannya. Tidak mungkin juga aku mau dengan bocah seperti dia. Huh, si Tyas ini ada-ada saja.
Aku memutar bola mataku dan mengembuskan napas kesal. Tidak mungkin juga, kan, aku yang janda ini menyukai berondong seperti dia?
Memangnya dikira aku ini tante tante girang apa!
Pun sebaliknya, tidak mungkin juga berondong seperti dirinya itu menyukaiku. Memang seleranya tante tante apa! Ada ada saja si Tyas ini.
"Tapi kayaknya dia tadi tajir, An. Saldonya tadi banyak Hahaha."
"Hus, ngarang kamu!"
Aku memilih mengabaikan Tyas yang semakin lama semakin berkata yang tidak tidak itu.
Untuk saat ini aku masih belum memikirkan soal pasangan. Aku sedang mencoba menikmati kehidupanku yang sekarang ini.
Percintaan bukanlah prioritasku, apalagi setelah perceraianku yang terasa amat menyakitkan itu.
Apalagi dengan bocah? Oh, astaga. Tidak tidak!
***
Pukul lima sore aku sudah pulang ke rumah. Perjalanan dari tempatku bekerja hanya memakan waktu kurang dari tiga puluh menit saja.
Mataku menangkap sosok Mama yang saat ini sedang duduk santai sambil menonton sinetron kesukaannya.
Aku berjalan kemudian memeluk mama dari belakang dan menciumi pipi kiri mama.
"Jorok, ih! Sana masuk kamar ganti baju terus mandi dulu. Orang kecut banget kayak gitu," omel Mama membuatku mengerucutkan bibirku.
Kemudian aku mencomot cemilan mama sambil menyengir kuda membuat mama hanya mampu menggelengkan kepala.
"Mama udah masak?" tanyaku. Memang biasanya aku yang memasak jika Mama belum pulang dari kantor atau kalau tidak jika aku kebagian shif pagi.
Begitu pun sebaliknya. Kadang mama yang gantian memasakkan makanan untuk kami berdua jika mama pulang cepat.
"Mama emang sengaja nggak masak. Kamu buruan mandi terus ganti baju dan dandan yang cantik, gih. Kita makan di luar aja."
Aku mengeryitkan keningku. Kenapa juga mama tidak masak dan memilih untuk makan di luar padahal masak sendiri, kan, lebih irit.
"Kenapa?"
"Mama mau ngenalin kamu sama CALON kamu. Buruan gih, keburu magrib."
Mataku membulat, mulutku terbuka setengah.
Astaga! Apa aku tidak salah dengar?
***
IG: Mayangsu_