After Marriage

After Marriage
Cerai



Serta rambut yang kuikat rendah menyisakan sulur anak rambut yang beberapa diantaranya tidak aku ikat.


Polesan yang terakhir adalah lipstik berwarna merah dan tak lupa juga aku mengenakan high hellsku yang tingginya lima senti.


Percayalah, setiap orang yang nantinya melihatku dan menilaiku ketika di jalan pasti mereka akan mengira aku akan kencan dengan kekasihku, bukan menghadiri persidangan.


Aku terlalu ceria untuk sesuatu yang orang lain pada umumnya bersedih.


Aku melakukan hal itu dengan maksud tertetu juga. Agar Ikram dan Mama Erin tahu bahwa di sini sedang dalam keadaan baik-baik saja.


Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan mereka.


Bahkan tadinya aku ingin mengenakan dress bermotif bunga-bunga atau dress dengan motif polkadot saja, yang menandakan suasana hatiku begitu baik baik saja. Tapi itu tidak terlalu formal. Maka keputusanku jatuh pada pakaian ini.


"Tarik napas dulu, kamu santai dulu, ya," kata Mama seolah menenangkanku padahal aku dalam keadaan baik baik saja, kok. Aku hanya tersenyum lembut ke pada Mama.


Sebelumnya aku juga sudah mengatakan kepada Mama kalau aku baik-baik saja tetapi tetap saja perasaan orang tua akan khawatir kepada anaknya.


Perjalanan dari rumahku sampai ke pengadilan memakan waktu sekitar setengah jam lamanya. Sepanjang jalan aku hanya menatap ke arah luar jendela dengan pikiran kosong.


Mengamati taman taman atau tumbuhan di pinggiran pembatas jalan. Kalau tidak, ya, menghitung berapa jumlah motor yang berwarna merah dengan plat ‘H’ untuk mengusir rasa bosanku.


Aku tersenyum kecil ketika mengetahui Mamalah yang saat ini malahan sedang menampilkan wajah panik dan sedih yang sempat tertangkap oleh mataku dari kaca sepion tengah taksi ini.


Aku menggenggam tangan Mama yang memang terasa begitu dingin. Aku mengatakan… “Tidak apa, Ma. Anha baik-baik saja.”


Dan kini sampailah kami di pengadilan. Aku dan Mama berjalan memasuki ruangan. Kemudian aku duduk bersebelahan dengan Mama.


Aku juga mencoba sebisa mungkin untuk mengabaikan tatapan dari Ikram—yang beberapa menit lagi sudah sah menjadi mantan suamiku, dan tentu saja aku juga mengabaikan tatapan tidak suka dari Mama Erin yang sebentar lagi sudah dapat kupanggil dengan sebutan ‘Tante Erin’.


Aku sama sekali tidak menuntut harta goni gini kepada Ikram. Padahal kalau aku licik, aku bisa mendapatkan banyak uang darinya. Namuan aku memilih enggan. Bahkan Mama Erin cukup terkejut ketika kemarin waktu persidangan ke dua aku mengatakan tidak menuntut apa-apa kepada Ikram.


Toh, buat apa? yang ada malahan nantinya harta goni gini itu akan menjadi beban bagiku. Biarlah Ikram simpan saja harta itu untuk si Dewi itu.


Kalau tidak, ya, biar saja harta itu untuk biaya pernikahan mewah mereka. Aku tidak peduli sama sekali dengan kehidupan mereka.


Bagaimanapun juga aku masih punya harga diri. Bayangkanlah jika seumpamanya aku menerima harta gono gini itu dan aku hidup dengan harta gono gini itu, pasti Mama Erin akan menghinaku lebih parah lagi.


Pasti Beliau akan mengatai diriku ini hanya menikah dengan Ikram demi mendapatkan harta kekayaannya saja.


Aku tidak mau hal itu terjadi. Yang ada malahan akan membuat Mama menjadi semakin malu saja jika nantinya Mama Erin memakiku seperti itu.


Pengalaman hidup membuatku menjadi Anha yang lebih dewasa...


Menikah dengan lelaki yang bergelimang harta pun tidak menjamin hidupmu akan bahagia.


Lihatlah. Di sinilah aku sebagai saksi hidup akan hal tersebut secara nyata.


Mama meremasi tangan kananku, kemudian aku menatap wajah sendu Mama. Mama menangis. Hatiku seolah tercabik belati. Aku mengusap tangan Mama yang berada di atas tangan kananku.


"Ma, Anha nggak kenapa-napa, Ma. Mama jangan nangis, dong. Kalau Mama nangis nanti Anha jadi ikut-ikutan nangis, Ma. Anha nggak mau nangis di ruangan ini."


Setelah persidangan perceraian kami selesai. Ikram dan aku berjabat tangan.


Aku mencoba tersenyum kepadanya—jenis senyuman palsu yang memang kupaksakan agar melengkung sempurna di bibirku yang terpolesi dengan lipstik merah marun.


"Semoga bahagia sama Dewi, ya," kataku dengan singkat, setelah itu tangan kami yang awalnya tertaut kini terlepas.


"An. Aku nggak cin—” ucapan Ikram terhenti, seolah menelan kembali perkataan yang hendak ia ucapkan tersebut. Matanya seolah mengisyaratkan kesedihan yang begitu mendalam.


Aku mengerti dengan betul, dia saat ini masih tidak mau kehilangan diriku.


Mungkin saat ini Ikram juga sedang berada di bawah kontrol dan juga sedang di bawah tekanan Mama Erin agar kami bercerai mengingat Ikram, tidak mempersulit prosesi perceraian kami yang hanya memakan tiga kali sidang.


Ikram seperti orang yang kacau. Itu semua terlihat dengan jelas dari matanya yang kelihatan kurang tidur juga. Wajhanya juga tidak sesegar dulu waktu awal kami bertemu. Seharusnya Ikram saat ini tersenyum bahagia. Bukannya dulu dia yang sangat berniat untuk kami cerai.


Atau mungkin cinta memang datang terlambat.


Aku berbalik badan, mengabaikannya, kemudian aku menggenggam erat tali tasku. Dan berjalan melewati pintu ruangan.


Mama memang sudah keluar dari tadi. Dan saat ini Mama sedang memesan taksi di depan kantor pengadilan.


Aku mulai berjalan menuruni anak tangga, bahkan dari sini terlihat dengan jelas seorang wanita berambut hitam sebahu yang saat ini sedang berada di dalam mobil berwarna hitam yang memang kebetulan kaca mobil tersebut terbuka setengah.


Dia tengah menunduk ke bawah, sesekali terlihat menyeka air matanya yang turun.


Dia adalah Dewi.


Aku tidak tahu mengapa tadi dia tidak ikut masuk ke dalam ruang persidangan. Tetapi dilihat sekilas pun sepertinya Dewi tidak bahagia atas perceraianku dengan Mas Ikram, terlihat dari dirinya yang saat ini sedang menyeka air matanya.


Atau jangan-jangan dia tidak diperlakukan dengan baik oleh Mama Eri--


"Anha," kata seseorang yang memanggilku dari belakang.


Yaitu ternyata Ikram.


Dia berjalan menghampiriku dan memegang lenganku. Dia juga agak menarik tubuhku sehingga mengikis jarak kami menjadi lebih dekat.


"Aku masih sayang, An, sama kamu. Aku cinta banget, An, sama kamu," katanya dengan mata berkaca. Aku menatap ke arah belakang—lebih tepatnya saat ini aku sedang menatap Dewi yang ternyata saat ini dia juga sedang menatap kami berdua.


Aku menelan ludah.


Dewi tampak begitu sedih, aura kesedihannya bahkan terasa sampai di sini.


"Maaf, tolong lepasin," kataku sambil mencoba melepaskan tangan Ikram yang masih memegangi lenganku.


"Aku tahu, An, kalau sebenernya kamu juga masih cinta, kan, sama aku?" kata Ikram membuatku mengeryit.


Apa maksudnya?