
Anha tersenyum, besok besok lagi dia harus hati hati dalam berbicara.
Tidak ada yang salah jika seorang pria cemburu. Pria, kan, tetaplah manusia dan cemburu adalah suatu hal yang normal.
Hanya bedanya kecemburuan seorang pria dan wanita adalah jika seorang lelaki cemburu biasnya mereka masih bisa tenang, paling paling hanya dibatin dalam diamnya. Namun jika seorang wanita cemburu, mereka akan lebih ekpresif dan meledak ledak. Singa saja kalah galaknya.
Lengang sejenak diantara mereka. Mas mas penjual jajanan tersebut memberikan bungkusan jajanan yang tadi dipesan oleh Hasan.
Rencananya habis dari sini Hasan akan mengajak Anha untuk mampir ke apartemennya. Dia masih merasa lapar, jajanan sekali makan ini hanyalah seperti pengganjal perutnya saja. Hasan ingin merasakan masakan buatan calon istrinya itu. Walaupun nanti asin atau hambar, pasti akan dia makan karena di dalamya ada rasa cinta ketika Anha membuatkan untuknya.
Anha masih diam sambil menghabiskan sisa jajanan di tangannya yang tinggal beberapa itu. Matanya menatap anak anak kecil yang berlarian ke dalam kelasnya ketika bel jam istirahat selesai berbunyi.
“Emang anak anak itu lebih lucu, ya, daripada aku?” tanya Hasan kepada Anha. Anha menatapnya dan tersenyum sambil mengatakan.
“Iya, aku suka banget sama anak anak, San. Aku anak tunggal dan nggak punya adik. Jadi dari dulu sering kesepian. Bahkan kamu tahu nggak? Kalau aku nggak jadi pegawai, rasanya aku pengin jadi guru SD aja. Pasti seru banget dan kerasa kayak punya banyak anak gitu, San.”
Hasan tersenyum, binar mata cokelat wanita itu benar benar indah sekali ketika mengatakan hal tersebut. Pria memang lebih suka dengan wanita yang keibuan, sayang anak, entah mengapa rasanya hati Hasan saat ini menghangat.
Ia dapat membayangkan rumah kecil mereka nantinya penuh kebahagiaan dan Anha pasti akan sangat menyayangi sekali anak mereka nanti.
Hasan rasanya sudah malas pacaran lama lama, dia ingin mempercepat perniakan mereka saja. Ada rasa takut di hati Hasan jika Anha akan pergi menjauh. Atau akan diambil orang lain.
Ah, baiklah. Hasan tidak henti hentinya membuat pipi Anha memerah sekali. Hasan menyatukan tangannya dengan tangan Anha dan menggenggamnya erat.
“An, gimana kalau pernikahan kita dipercepat aja? Bukannya semakin cepat akan semakin baik, ya? Niat baik mendingan jangan ditunda tunda.”
Anha yang mendengar hal tersebut langsung melongo, agak kaget karena ucapan Hasan barusan, Anha menghentikan gerakan memakan jajanan telur gulungnya yang sudah kelima tusuk tersebut.
“Hah?! Ma-maksudnya?” tanya Anha masih belum paham. Apa maksudnya pernikahan dipercepatkan? Hasan sudah mengatakan tiga bulanan lagi mereka akan menikah. Kenapa tiba tiba Hasan berpikiran untuk mempercepat perniakahan mereka.
Hasan tersenyum lembut kepada Anha.
“Iya, aku pengin ngajuin pernikahan kita. Lagian Mamamu, kan, udah setuju sama pernikah kita. Mamaku dan keluargaku juga OK OK aja dan semua keputusan mereka ada di aku,” kata Hasan kepada Anha dengan saksama.
“Gimana kalau pernikahan kita dipercepat satu atau satu setengah bulan lagi aja? Setuju nggak kamu, An?” tanya Hasan kepada Anha.
Anha merasa telmi dadakan, otaknya buntu tidak dapat berpikir mengenai perkataan Hasan yang seperti kuis dadakan satu miliar itu, apakah Anha telmi karena Anha kebanyakan makan seperti Sisil?
***
Yang mau lihat visual / foto karakter di novel After Marriage cuss cek di instagramku @Mayangsu_