
Uh, omong-omong Mai yang terlihat kalem-kalem seperti itu ternyata bisa juga memiliki kisah percintaan yang begitu manisnya. Irinya. Bahkan sepertinya aku yang sejak dulu menjadi primadona kaum adam sejak SMA sepertinya kalah telak dengan dirinya.
Pintar juga Mai mencari pasangan. Sudah baik, duda yang kaya pula, pengertian pula. Semoga saja menular ke diriku ini.
"Kenapa Mas bisa suka sama Mai? Bukannya pasti banyak cewek yang lebih cantik dari Mai yang ngedeketin Mas Doni, kan?" tanyaku dengan begitu rasa penasaran yang amat tinggi. Bahkan saat ini aku sepeti orang yang sedang menginterogasi Mas Doni alih-alih menanyainya.
Mas Doni kemudian diam sejenak, terlihat mulai berpikir dengan serius sambil mengerutkan dahinya.
Kemudian ia melanjutkan perkataannya lagi;
"Emang banyak, kok, cewek cewek yang lebih cantik dari pada Mai yang ngedeketin aku. Bukan cuma banyak lagi, tapi buanyak banget malahan. Ada yang ngedeketin aku secara terang terangan, ada juga yang sembunyi-sembunyi ngedeketin aku. Bahkana ada juga yang sampai sering main ke rumah dan beliin jajanan buat Shiren. Istilahnya kayak gimana, ya… mungkin lebih ke kayak nyogok atau lebih ke nyoba deketin Shiren dulu terus nyoba ngedeketin bapaknya, gitu. Tapi Shirennya kayaknya emang seringnya nggak suka sama mereka, nggak cocok gitu," lanjutnya dengan panjang lebar. Aku mengangut-mangutkan kepalaku, paham akan maksud yang ia sampaikan.
"Emang siapa, sih, Dek, yang nggak suka sama Mai? Udah lembut, baik hati, sholehah pula. Shiren aja yang anaknya pemalu bisa langsung nempel, loh, waktu pertama kali aku ajak Mai buat main ke rumahku dan ngenalin dia ke Shiren. Bahkan yang bikin heran Shiren mau dipangku juga sama Mai padahal Shiren anaknya susah banget buat deket sama orang asing. Mungkin itu tanda jodoh juga kali, ya."
Sepanjang perjalanan Mas Doni lebih yang mendominasi percakapan kami berdua dan aku yang hanya diam menyimak. Dia lebih yang bermonolog sedangkan aku lebih sering menyimak sambil memangut-mangutkan kepala mendengar ceritanya.
"Mai cantik, kok, Dek, kalau waktu dandan di rumah. Emang dia orangnya males dandan aja jadi kelihatan biasa aja. Dia emang pengennya suaminya aja yang ngenikmati kecantikannya. Di agama juga, kan, emang dianjurkan kalau bersolek itu di depan suaminya aja. Shiren aja takhluk sama dia, apa lagi bapaknya ini, hehe," kata Mas Doni masih dengan senyum bahagianya ketik mengatakan hal tersebut. Seolah Mai adalah ratu baginya, belahan jiwanya, wanita tercantik di duninya. Seolah Mai adalah segala-galanya dan Mas Doni sangat bangga memilikinya.
Irinya. Mungkin karena efek Ikram tidak pernah memperlakukanku seperti itu kali, ya?
Aku menganggukkan kepalaku lagi. Motor kami sudah mulai dekat dari kompleks perumahan Mai dan kurang dari beberapa blok lagi maka kami akan sampai rumah.
"Dek, Mas mau tanya, nih, sama kamu. Tapi ini rahasia kita berdua, ya. Jangan sampai Mai tahu," kata Mas Doni ketika motor kami sudah sampai di gerbang masuk kompleks. Awalnya aku mengernyitkan kening. Kenapa juga Mas Doni pakai rahasia rahasiaan segala dan kenapa juga aku tidak boleh mengatakannya kepada Mai? Aneh sekali.
Aku yang merasa bodo amat hanya menganggukan kepala.
"Um… Dek… Mai dulu waktu kuliah orangnya kayak gimana?" tanyanya membutku semakin mengernyitkan dahi.
Mataku menatap ke atas, mengingat ingat kembli sosok Mai yang beberapa tahun lalu sewaktu kami masih kuliah bersama. Hm… Mai itu…
"Mai itu baik, sih, Mas. Dia malahan polos banget gitu, Mas. Dia juga jarang banget neko-neko orangnya. Pacaran aja kayaknya dia nggak pernah sama sekali, deh, Mas. Katanya dulu dia juga dari pondokan, kan, terus dia merantau ke Semarang dan kuliah di sini, kan, ya? Mungkin karena itu juga dia nggak aneh aneh. Kalem, mah, Mas, dia anaknya. Kenapa, kok, Mas Doni nanya kayak gitu ke aku?" tanyaku.
"Ah, nggak mungkin, ah. Kamu pasti bohong, ya? Masak Mai nggak ada yang naksir sama sekali? Di kantor kami dulu rame, kok, yang naksir sama dia," kata Mas Doni sambil terus menatap ke arah depan, aku yang melihat ekspresi seriusnya melalui kaca sepion samping kiri hanya tertawa terbahak sambil memukul bahunya pelan.
Dia ini ada-ada saja. Mana mungkin Mai yang kalem tersebut menjadi rebutan para kaum adam di kampus atau pun di kantor? Aku menyeka sudut mataku karena tertawa sampai mengeluarkan air mata karena itu tadi begitu lucu sekali.
"Dek, intinya, mah, di mana-mana cewek solehah pasti jadi rebutan para cowok, Dek. Mungkin waktu muda kebanyakan cowok bakalan ngejar-ngejar yang cantik, yang seksi, yang enak dipandang. Tapi semakin tua umur lelaki maka yang dicari nggak yang neko-neko, nggak yang bohay kayak Kyle Jenner. Yang baik, solehah dan dewasa itu udah cukup meskipun wajahnya biasa-biasa aja. Kayak Mai, lah, contoh nyatanya. Dulu banyak banget, Dek, yang ngerebutin dia waktu di kantor."
Aku yang mendengar hal tersebut hanya mampu tersenyum meringis, merasa agak tersindir dengan perkataan Mas Doni padahal Mas Doni memang tidak ada niatan sama sekali untuk menyindir.
Tertutama ucapannya di bagian…
...Mungkin waktu muda kebanyakan cowok bakalan ngejar-ngejar yang cantik, yang seksi, yang enak dipandang. Tapi semakin tua umur lelaki maka yang dicari nggak yang neko-neko, nggak yang bohay kayak Kyle Jenner. Yang baik, solehah dan dewasa itu udah cukup meskipun wajahnya biasa-biasa aja...
"Janji, ya, jangan kasih tahu Mai soal tadi, hehe," kata Mas Doni ketika kami sudah sampai di depan gerbang rumah Mai. Kami masih dalam suasana tertawa lepas dan aku mengangguk anggukkan kepala paham sambil tanganku membentuk OK kepada Mas Doni.
Setelah itu Mai terlihat keluar dari dalam rumah dan membantuku membukakan pagar.
"Lama banget, sih. Emang tadi mampir ke mana?" tanya Mai kepada Mas Doni dengan memanyunkan bibir.
"Nggak mampir ke mana-mana, kok. Cepet, loh, malahan nggak sampai setengah jam, Umi."
Mas Doni mengusap kepala Mai yang masih dihiasi hijab kemudian menicum kening Mai. Aku menutup mulutku dan tersenyum melihat keromantisan mereka berdua. Andai saja Mai tahu kami berdua sepanjang perjanan membahas Mas Doni yang tergila-gila akan dirinya pasti Mai akan meleleh dan pipinya akan bersemu begitu merah.
"Yaudah buruan masuk. Udah malem juga ini."
Tetapi ada sesuatu hal ganjil yang terasa di benakku ketika kami bertiga memasuki rumah. Kenapa tadi sekelebat aku melihat Mai menampilkan ekspresi yang berbeda, ya? Seperti… ekspresi tidak suka begitu? Apa Mai sedang marah, ya? Kataku menebak-nebak sendiri dalam hati.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Kemudian Mai dan Suaminya berlalu memasuki kamar mereka dan aku berlalu memasuki kamarku kemudian aku tidur.
Hari kedua di rumah Mai…
Sudah hari kedua aku tinggal di rumah Mai, lebih tepatnya aku tinggal di rumah Mai selama tiga malam dua hari.
Rencananya lusa aku akan pulang ke rumah Mama karena aku merasa aku sudah siap untuk bertemu dengan Mama.
Setelah nanti aku pergi ke rumah Mama tentunya aku akan menyelesaikan khasus persidangan perceraianku dengan Mas Ikram.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, sudah memasuki waktu untuk bersantai-santai karena memang kami sudah makan pagi dan rumah juga sudah selesai dibersihkan.
Sejak pagi memang aku sudah membantu Mai memasak, membantunya menyapu rumah juga.
Setidaknya aku harus tau diri dan melakukan apa saja hal yang dapat kulakukan untuk membantunya mengingat Mai menolak 'uang tanda menumpang' dariku.
Aku berjalan pelan keluar dari dalam kamarku, mataku menangkap sosok Mai yang sedang menimang Marwa di teras rumah sambil menjemur sebentar Marwa di bawah sinar matahari pagi.
Sesekali Mai menciumi pipi anaknya itu. Gemasnya!
Aku tersenyum. Kemudian berjalan mendekat. Mai tersenyum melihat kedatanganku.
Aku menatap Marwa yang tertidur begitu pulasnya di gendongan Uminya. Hati kecilku berbisik... Kapan, ya, aku juga bisa seperti itu? Menggendong bayiku sendiri di pelukanku sambil menyendungkan lagu ketika menimangnya.
Padahal kebanyakan wanita di usiku saat ini mereka sudah bahagia dengan keluarganya masing masing dan sudah menggendong anak mereka pula.
"Nanti Shiren pulang jam berapa, Mai?" tanyaku kepada Mai dengan suara agak kupelankan takut jika membangunkan si kecil Marwa.
"Kayanya nanti Shiren pulang sekitar jam sepuluhan, deh, An. Nanti kamu mau ikut nggak buat belanja ke supermarket bareng aku? Sekalian jemput Shiren nanti?"
Aku mengangguk dengan semangat sekali, lagi pula apa enaknya hanya bengong sambil berdiam diri di rumah saja?
Aku menatap Marwa yang tertidur begitu pulas, pipinya terlihat tembam dan nampak memerah. Imut sekali. Malaikat kecil yang lucu. Hatiku meleleh melihatnya. Ada hasrat ingin mencium bayi kecil lucu itu.
"Mau gendong juga?" kata Mai ketika melihtku menatap Marwa dari tadi.
"Eh, emangnya boleh?"
Mai tertawa mendengar perkataanku barusan.
"Ya boleh, lah, An. Kamu, kan, Tantenya Marwa sama Shiren juga."
Kemudian setelah itu Mai mengulurkan tangannya untuk memberikan Marwa ke gendonganku. Pipiku bersemu merah ketika menggendong si kecil Marwa. Ada debaran aneh di benakku saat ini.
Jadi… begini, ya, rasanya menggendong seorang bayi? Aku menimang pelan Marwa yang masih tertidur pulas.
"Bo-boleh cium nggak Mai? Aku tadi pagi udah mandi, kok," kataku dengan polos membuat Mai tertawa geli. Um… bagimanpun juga aku tetap harus meminta izin kepada Mai jika ingin menyentuh ataupun mencium bayi kecilnya ini, bukan?
Karena aku pernah membaca di suatu artikel di internet bahwa sebenarnya kita tidak boleh asal-asalan mencium bayi seseorang. Memang, sih, kelihatannya itu hal sepele dan terlalu berlebihan di mata orang yang belum pernah memiliki anak.
Banyak yang mengatakan memang apa salahnya mencium bayi yang terlihat lucu dan menggemaskan? Yang belum menikah dan memiliki anak, sih, pasti berpikir hal itu sangat berlebihan sekali.
Tetapi bagaimanapun kondisi bayi itu sangat berbeda dengan kondisi orang dewasa pada umunya, bayi kebanyakan imunnya masih lemah, ketika dipegang-pegang orang lain bagaimana jika virus/penyakit/kuman yang ada pada orang lain akan tertular kepada si bayi itu?
Terlebih setahuku memang kebanyakan para orang tua juga sebenarnya tidak suka jika bayinya dicium atau dipegang oleh orang asing. Maka dari itu aku harus meminta izin kepada Mai terlebih dahulu.
Mai menganggukkn kepala, memberiku izin untuk mencium Marwa. Pipiku memerah.
"Semoga besok kamu jadi anak yang sholehah dan baik kayak Umimu, ya, Sayang."
Aku mendekatkan diriku ke bayi kecil itu kemudian mencium pipi tembamnya dengan lembut. Entah mengapa rasanya ada gelenyar yang begitu aneh. Aku juga menginginkan memiliki seorang bayi. Mataku mulai terasa memanas setelah mencium Marwa. Mungkin karena aku sedang terbawa efek suasana juga makanya aku jadi seperti ini.
Tanpa kusadari aku menitikkan air mata setelah mencium pipi Marwa. Kemudian aku memberikan Marwa kembali ke Uminya.
Mai mengeryit menatapku yang tiba-tiba menangis. Kemudian setelah itu aku berlari memasuki kamarku, meninggalkan Mai dengan keheranannya akan diriku.
***
Anha: Mama, Anha kangen banget sama Mama. Lusa kayaknya Anha bakalan pulang ke rumah, deh, Ma.
Aku tersenyum ketika mengetikkan pesan tersebut kepada Mama. Tidak perlu meninggu lama Mama sudah membalas pesanku barusan.
Mama: Iya, cepetan pulang, ya. Mama udah kangen banget sama kamu, An. Nanti Mama bakalan masakin makanan kesukaan kamu. Sekalian Mama mau ngeintertogasi kamu juga.
Aku meringis membaca bagian yang terakhir dari pesan Mama barusan. Interogasi? Matilah aku. Padahal aku belum menyipkan apa pun untuk menghadapi Mama nanti ketika di rumah.
Jariku tergerak untuk memblokir nomor Ikram tanpa ada niatan sama sekali untuk membaca enam puluh delapan pesan masuk darinya pada whatsapp-ku dan tetantunya aku juga mengabaikan lima puluh dua panggilan masuk darinya.
Aku sudah tidak peduli lagi, aku juga sudah tidak penasaran dengan apa isi pesannya. Buat apa? Dia sekarang hanya berstatus sebagai masa laluku saja. Tidak lebih dari itu.
Kini aku berganti menghapus semua foto kami berdua--termasuk foto pre weeding kami dan foto ketika kami menikah dulu.
Ada rasa sedikit ngilu di hatiku ketika kedua bola mataku menatap cantiknya diriku yang sedang dibalut dengan kebaya berwana putih tersebut sambil Ikram yang memeluk pinggangku dari arah belakang.
Cantik, manis, anggun. Namun seberapa cantiknya diriku tetap saja ibu jariku tergarak untuk menekan tanda 'hapus' pada galeri ponselku.
Pun sama, aku juga menghapus semua fotoku dan foto Ikram yang sempat aku posting di Instagramku. Mulai dari foto kami yang masih berada pada masa PDKT sampai dengan foto kami yang sudah menikah.
Semuanya aku hapus. Biar saja orang bilang aku kekanankan karena melakukan tindakan tersebut.
Aku mengerti menghapus foto pasangan tidak ada gunanya karena kenangannya pun pada kenyataannya tidak bisa kita hapus dari hidup kita sama sekali, tetapi setidaknya cara tersebut banyak membantu agar kita cepat move on darinya.