
Hasan mengendarai mobilnya dan memasuki area parkiran di salah satu swalayan yang ada di dekat sana.
“Kamu mau dimasakin, apa? Yang berkuah atau yang tumis aja?” tanya Anha kepada Hasan sambil pandangannya masih menunduk ke bawah dan menekuri ponselnya yang sedang menampilkan aplikasi menu makanan. Melihat hal itu Hasan terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
Kenapa juga Anha seniat itu sampai browsing menu makanan segala? Seperti hendak mengikuti kontes memasak saja.
Padahal Hasan bukan tipe orang yang suka pilih pilih makanan. Semua masakan itu enak, apalagi jika calon istrinya yang menyiapkannya.
“Terserah, tapi aku lagi pengin makan tumis kacang, kalau menu lainnya terserah kamu.”
Anha menganggukkan kepala. Hah, hanya sekadar tumis kacang tentu saja itu sangat mudah sekali untuknya. Dulu Anha juga sudah sering membuat masakan itu dengan Siti ketika menyiapkan makan malam di rumah Ikram, jadi tidak perlu Anha repot repot untuk browsing segala.
Bercerai dengan Ikram tidak rugi rugi amat. Setidaknya selain belajar ilmu merelakan dan bangkit menjalani kehidupan yang baru, kini Anha yang bisa memasak juga karena dulu dia ingin memuaskan hati suaminya tersebut agar Ikram yang dulu bisa perlahan mencintainya.
Belajar memasak untuk Ikram… menyiapkan perlengkapan kerja Ikram di malam hari sebelum Anha tidur...
Tapi sialnya Ikram malahan membalas hal tersebut dengan perselingkuhan, yang sialnya lagi selingkuhannya itu lebih jelek daripada Anha.
Anha memutar bola matanya ketika mengingat kembali nama lelaki tersebut. Benar kata orang. Seorang wanita itu memang mudah sekali memaafkan dosa seorang pria, tapi untuk melupakannya memang jujur agak sulit bagi Anha.
Ah, sudahlah. Tidak usah lagi membahas masa lalu, membuat Anha naik darah saja.
Ketika sudah memasuki area lantai satu di swalayan ini. Kini Anha menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Tapi Anha masih merasa belum percaya diri, bagaimanapun juga dia tidak pandai pandai amat dalam urusan memasak.
“Hasan…” kata Anha ketika mereka berdua mengangkat kaki untuk melangkahkan kaki ke eskalator yang membawa mereka berdua untuk menuju ke lantai dua pada swalayan ini dan tangan kiri Anha yang masih saja digandeng oleh Hasan bahkan sejak mereka masih berada di parkiran tadi.
“Hmmm?” gumam Hasan sambil mengamati ke sekitar, mencari di mana rak tempat bahan masakan berada.
“Nanti kalau masakanku nggak enak gimana? Kamu masih mau makan gitu?” tanya Anha pesimis.
Hasan tersenyum mendengar hal tersebut, mana mungkin masakan Anha tidak enak. Waktu itu saja ketika Hasan pernah mampir kerumahnya dan mencicipi masakan Anha rasanya sangat enak, kok.
“Enak nggak enak tetep aku makan, kok. Kan, kamu masaknya pakai cinta,” kata Hasan sambil menarik trolli untuk wadah bahan makanan mereka.
Anha terkekeh dan memukul kecil bahu Hasan, ada ada saja dia ini.
“Gombal, ih, kamu.”
Darimana juga Hasan belajar menggombal seperti itu? Anha kira Hasan tipe yang amat kaku seperti Hasan yang biasanya di kantor tanpa memiliki selera humor sama sekali apalagi sampai menggombali wanita seperti dirinya.
***
IG: Mayangsu_ (pakai underscore atau garis bawah, ya)