After Marriage

After Marriage
Dewi



Tetapi aku bersyukur Ikram saat ini tidak kenapa-napa. Aku berpikir tadi dia sampai benar-benar akan melukai dirinya sendiri karena kutinggalkan sejak semalam. Contohnya seperti bunuh diri mungkin?


Dengan gerakan pelan aku mencoba mendekati Ikram dan tanganku terulur hendak menyentuh bahunya.


"Anha…jangan pergi," kata Ikram sangat lirih membuat gerakan tanagnku yang tadinya hendak menyentuhnya menjadi terhenti seketika.


Apa jangan-jangan dia tahu keberadaanku di sini? Tanyaku dalam hati.


Tetapi setelah itu Ikram terdiam kembali cukup lama. Ah, ternyata tadi dia sedang mengigau, mungkin karena efek dia yang saat ini sedang mabuk?


"Air," kata Ikram dengan sangat pelan namun berhasil tertangkap oleh indra pendengaranku.


Apa dia barusan mengatakan ingin air? tanyaku sambil mengerjabkan mata beberapa kali. Mencoba mendengarkan dengan saksama apa yang ia ucapkan tadi.


"Air," kata Ikram lagi masih mengigau lagi. Aku hanya mampu memutar bola mataku ketika mendengarnya. Sudahlah, untuk apa juga aku berlama-lama di sini? Ternyata ini semua hanya membuang-buang waktuku saja!


Aku berbalik badan dan mulai melangkah ke arah pintu ruang kerja Ikram untuk segera keluar dari ruangan ini. Tetapi ketika aku hendak melewati pintu tersebut, langkah kakiku pun terhenti. Aku menggigit bibir bawahku. Bagaimanapun juga aku tetap tidak tega meninggalkan Ikram sendirian dalam keadaan seperti ini.


Bagaimanapun aku tetap manusia. Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk turun ke bawah sejenak untuk pergi ke dalam dapur dan mengambil air minum untuk Ikram. Aku tahu dia tidak mungkin bisa minum dengan normal sehingga aku mengambilkan sedotan juga untuknya.


Sesampainya di dalam kamar, aku mencoba mendekati Ikram yang tertidur dengan posisi tengkurap. Dengan susah payah aku mencoba mengubah posisi tidur Ikram yang awalnya tengkurap menjadi terlentang mesikipun sulit bukan main. Ditambah lagi aku harus menahan napasku  karena tidak kuat dengan bau alkohol yang tercium dari mulut Ikram.


Kini Ikram sudah berhasil tiduran dengan posisi terlentang, aku mengganjal kepalanya dengan menggunakan bantal. Setelah itu aku mencoba memasukkan ujung sedotan ke dalam mulutnya namun tetap saja nihil. Dia benar-benar sedang mabuk parah dan air di dalam gelas tidak berkurang sedikit pun. Malahan sekarang ini aku kelihatan seperti orang bodoh saja.


Yasudahlah, aku meletakkan gelas berisi air putih tersebut di atas nakas saja. Nanti kalau dia sudah bangun biar dia minum sendiri.


Tanpa kusadari tanganku seolah kembali tergerak menyentuh dahi Ikram. Mataku membulat ketika merasakan dahinya terasa begitu panas sekali. Dia demam.


Tapi... untuk apa juga aku harus peduli?


Baiklah, mungkin aku munafik karena pada akhinya aku tetap turun ke lantai bawah untuk mengambil handuk kecil dan baskom yang sudah kuisi dengan air hangat untuk mengompres dahi Ikram agar demammnya segera menurun.


Sebenarnya aku juga ingin memberinya obat penurun demam namun akhirnya tidak jadi karena mengingat saa ini dia sedang dalam keadaan mabuk berat. Takutnya jika terjadi apa-apa apabila alkohol tertimpa dengan obat demam dan mungkin saja akan membuat reaksi yang berbahaya.


Aku juga ingin mengganti bajunya atau melepaskan sepatunya. Tetapi menurutku tidak usah seberlebihan itu. Lagi pula, kalau besok-besok Siti meneleponku lagi tentang Ikram yang mabuklah atau apalah itu, aku tidak akan mau peduli lagi dengannya lagi. Aku tidak akan mau datang ke sini lagi.


Bagiku, ini adalah yang terakhir kalinya.


Ketika aku sudah menuruni anak tangga. Mataku menatap ke arah jam tanganku yang berada lengan kiriku dan tanpa kusadari ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


Aku mengambil ponselku dari dalam tas jinjingku. Pandanganku tetap masih berfokus pada ponselku, menekurinya dan mulai membuka aplikasi go jek untuk memesan ojek online sambil tetap berjalan untuk menuju ke arah pintu keluar.


Namun langkahku terhenti ketika aku baru saja sampai di teras rumah ketika melihat seorang wanita yang tak asing bagiku.


"De-dewi?" kataku dengan terbata.


Kenapa juga wanita ini ada di sini?


Dewi juga tampak tak kalah bingungnya ketika ia melihatku yang berada di sini. Kenapa juga dia harus sebingung itu ketika melihat keberadaanku? Toh, dulunya juga ini rumah suamiku, dan rumahku juga. Seharusnya saat ini aku yang kaget kenapa dia datang ke rumah Ikram semalam ini.


Aku akhirnya hanya tersenyum miring. Ah, mungkin saja mereka mau berhubungan suami istri makanya wanita ini datang ke sini.


Mungkin istri siri hendak memuaskan suami orang lain.


Aku memilih untuk terus berjalan saja dan mengabaikan keberadaan Dewi yang semua menampilkan wajah bingung namun kini sudah berganti dengan menapilkan wajah tidak suka akan diriku secara terang-terangan.


Wanita normal pada umumnya pastinya saat ini mereka akan langsung mencakar ataupun menjambak rambut Dewi. Namun aku tidak.


Kalau dipikir-pikir lagi mungkin sekarang ini apakah aku sudah tidak normal lagi karena aku merasa biasa saja ketika melihat wanita perebut suami orang ini? Apakah mungkin saat ini hatiku sudah mati karena seringnya disakiti sehingga aku sesantai saat ini?


Ketika aku baru berjalan beberapa langkah di belakangnya, tiba-tiba Dewi mengatakan sesuatu yang terdengar begitu lucu sekali di telingaku.


Dia mengatakan…


“Mbak, bukannya Mbak udah mau cerai sama Mas Ikram, ya? Terus kenapa juga Mbak masih aja ada di sini? Tolong, dong, Mbak sadar diri!”


Aku berbalik badan untuk menatapnya sejenak dan kini aku hanya mampu tersenyum miring kepadanya, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.


Lucu sekali, bukan? Seharusnya aku yang mengatakan hal tersebut kepadanya suapaya dia sadar diri. Namun saat ini dia malahan yang mengatakan hal tersebut kepadaku untuk sadar diri.


Pantas saja banyak berita tentang khasus pelakor yang viral di sosial media karena lebih galakan wanita perebut suami orang dari pada istri sahnya.


Aku memutar bola mataku kemudian aku kembali badan kembali, memilih untuk mengabaikan Dewi saja.


Aku kembali menekuri ponselku, mencoba memasukan alamat pada aplikasi ojek online yang hendak aku pesan namun tanpa terduga Dewi berjalan cepat dari arah belakangku kemudian dia memegang lenganku untuk memberhentikan langkahku.


“Tunggu sebentar, Mbak. Aku mau ngomong sebentar sama kamu.”


Aku mengeryit menatap wanita ini. Pada akhirnya aku hanya mampu mengembuskan napas lelah dan melepaskan tangannya yang sedang memegang lenganku.


Tapi sepertinya Dewi tipe manusia yang pantang menyerah dan hal itu membuatku agak kesal karena aku jadi tidak fokus dengan ponselku.


Dia masih saja membuntutiku dan masih memaksa untuk berbicara empat mata denganku.


“Mbak,” panggilnya lagi ketika aku sudah keluar dari pintu gerbang rumah Ikram.


Tetapi kata-kata yang ia lontarkan selanjuttnya berhasil membuatku berhenti seketika.


Bukan hanya hal itu saja yang membuatku tidak percaya. Kalimat kedua juga berhasil membuatku benar-benar…


“Dan sebenernya orang tuaku pun juga tahu kalau sebenernya Mas Ikram udah punya istri dan Mbak Anha adalah istri sahnya Mas Ikram.”


Deg!


Aku terdiam seketika mendengar hal barusan. Sebenarnya aku ingin abai, namun aku juga penasaran dengan semua hal yang mungkin saja bisa kukulik lebih dalam lagi dari Dewi.


“Kalau Mbak mau tahu semuanya. Kita bisa ngobrol sebentar. Tadi waktu ke sini aku lihat ada toko mini market di deket jalan keluar perumahan ini.”


Dewi berjalan menuju ke mobilnya kemudian dia membukakan pintu mobil sebelah kiri, seolah dia memang sengaja membukakannya untukku. Kemudian setelah itu dia memutar memasuki mobil melalui pintu mobil bagian pengemudi.


Baiklah, kali ini aku akan mencoba meladeninya untuk mendengar penggalan cerita dari sudut pandangnya. Lagi pula malam belum terlalu larut-larut amat. Masih pukul setengah sembilan malam juga.


Jadi aku memutuskan mungkin aku bisa memberinya waktuku tiga puluh menitan untuk mendengarkannya.


Akhirnya aku masuk ke dalam mobilnya, kemudian aku mengenakan sealt bealt.


Jika aku tidak salah hitung, mungkin sekitar lima menitan waktu yang kami butuhkan untuk menempuh perjalana dari rumah Ikram ke toko mini market yang letaknya di ujung jalan keluar perumahan kami.


Memang saat ini tidak ada sepatah kata pun dari kami berdua. Hanya lengang yang mampu menengahi kami. Hingga pada akhirnya Dewilah yang membuka sura untuk memecang lengang di antara kami.


“Mbak tahu nggak? Mobil ini pemberian dari Mas Ikram buat aku, loh. Bagus, kan, Mbak?” katanya sambil tersenyum miring seolah begitu bangga sekali sambil tangannya masih sibuk memegang stir mobil, matanya masih menatap lurus ke arah jalan depan.


Awalnya aku agak kaget ketika mendengar hal tersebut dari mulut Dewi sendiri. Tetapi aku dapat menangkap kalimat kiasan pada ucapanya barusan.


Aku tidak tahu apa maksudnya juga dia mengatakan hal tersebut kepadaku? Memangnya aku peduli dan merasa panas akan hal itu, begitu?


Apakah niatnya hanya untuk pamer? Atau untuk memanas-maniasiku saja?


Tampak Dewi begitu bahagia sekali melihat diriku yang agak terusik sedikit.


“Orang tuaku juga di beliin mobil sama Mas Ikram,” tambahnya.


Deg!


Aku hanya mampu tersenyum miring. Hati kecilku  merasa agak tidak terima, walau sedikit. Bukan karena ketidak adilan Ikram yang memberi Dewi dan member kedua orang tuanya mobil yang bagus sedangkan Ikram tidak memberiku benda yang serupa tapi…


Alih-alih merasa benci, aku lebih merasa Ikram begitu keterlaluan.


Selama menikah aku mencoba menjadi istri yang baik untuknya, menyiapkan kebutuhannya, melayaninya dengan sepenuh hati. Bagaimanapun juga aku merasa jika aku juga memiliki andil dalam kesuksesan Ikram.


Bukanya rezeki suami adalah rezeki istri juga? Toh, mungkin saja Ikram bertambah sukses karena doa yang kupanjatkan juga, bukan? Tetapi setelah dia bertambah sukses malahan wanita lain yang menikmatinya.


Tapi, ya, sudahlah. Memang aku menikahi Ikram salah satunya karena dia kaya. Jadi tidak ada bedanya aku dengan Dewi juga. Walaupun masih banyak aspek lain yang kupertimbangkan sebelum memutuskan untuk dulu mau menerima lamaran darinya seperti sifat baiknya, sifat manisnya, sifat dewasanya dan pembawaanya yang kalem.


Walaupun sekarang aku sadar, waktu bisa merubah karakter seseorang juga.


Aku memilih menyedekapkan tanganku di depan dadaku, kemudian menutup mataku mengabaikan Dewi yang entah sedang berpikir apa saat ini.


Tapi aku bersyukur karena selang beberapa menit saja kami sudah sampai di depan mini market ini. Setidaknya, aku tidak harus menghirup satu udara dengan Dewi.


Aku segera turun dari dalam mobil Dewi. Kemudian aku berjalan memasuki mini market tersebut, meninggalka Dewi yang masih berada di belakang yang sedang sibuk memarkirkan mobilnya.


Aku mengambil kopi dalam kemasan botolan dan membayar ke kasir tersebut. Tidak sudi aku jika aku harus dibayari dan dibelikan oleh Dewi. Makanya aku memilih berinisiatif terlebih dahulu.


Kemudian setelah itu aku duduk di salah satu kursi yang berada di depan mini market ini. Memang biasanya banyak anak-anak kuliahan atau anak sekolah yang biasanya iseng duduk di kursi yang berada di depan mini market hanyak untuk menumpang mencari wifi gratis atau menumpang untuk mengerjakan tugas sekolahnya.


Dewi terlihat keluar dari dalam mini market dan saat ini dia juga membawa satu minuman dingin yang sudah dibelinya barusan.


“Aku cuma punya waktu tiga puluh menit aja buat dengerin kamu,” kataku tanpa basa-basi ketika Dewi baru saja mendaratnya bokongnya di kursi depanku. Kini kami berdua hanya duduk berhadap-hadapan dan di hanya dipisahkan oleh meja bundar di tengah tengahnya.


“Tadi kamu bilang sebenernya kamu udah tahu kalau Ikram udah punaya istri, bukan? Terus kenapa juga kamu nekat nikah siri sama dia?” tanyaku to the point mengingatkannya kembali akan ucapannya yang tadi sempat berhasil membawaku ke sini.


“Iya, sebenernya aku tahu kalau Mas Ikram udah punya Istri. Tapi…” ucapan dewi menggantung. Kini dia malahan yang tampak bingung dan hanya mampu terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.


Sebenarnya aku bingung dengan dirinya ini. Apakah Dewi sebenarnya memiliki kepribadian ganda? Kenapa ketika dulu di hotel dia mengatakan jika dia merasa tidak bersalah sama sekali dan mengatakan jika dia tidak tahu kalau Ikram sudah memiliki seorang istri tetapi sekarang dia malahan mengatakan bahwa sebenarnya dia tahu jika Ikram memiliki seorang istri?


Aku membuka tutup botol kopiku kemudian menegaknya pelan. Dewi yang saat ini masih duduk di depanku ini mulai menceritakan semuanya walaupun bahasanya agak sedikit tidak runtut dan membuatku sedikit bingung.


Aku berusaha mencernya semua hal yang keluar dari bibir wanita berkulit sawo matang dan berambut sebahu itu.


"Aku udah bilang. Mas Ikram mulai deket sama aku waktu sebulan kalian nikah... dan sebenernya Mas Ikram juga udah cerita semuanya sama aku. Termasuk perjanjian empat bulan kali..."


Dewi tidak berani melanjutkan perkataannya tersebut. Perkataan Dewi sontak membuat gerakan meminum kopiku terhenti seketika. Mataku terbuka lebar begitu tidak percaya dengan apa yang barusan kudengarkan.


Benarkah Ikram menceritakan perjanjian kami berdua kepada Dewi? Itu benar-benar...


"Seberapa banyak yang kamu tahu?" kataku dengan intonasi tajam sambil pandanganku menatapnya dengan tajam.


"Mbak Anha sebenernya juga nggak punya hak untuk nyalahin kami berdua. Karena apa? Karena bukannya pada awalnya pernikahan Mbak Anha memang udah di dasari dari kesalahan?"


Deg!